Kutai Kartanegara

Kebakaran di Tenggarong dapur umum Pemkab Kukar 

Bangun Dapur Umum, Pemkab Kukar Siapkan 300 Porsi Korban Kebakaran di Melayu



Dapur umum yang disiapkan pemkab Kukar khusus warga terdampak kebakaran di Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong. (Selasar/Farid)
Dapur umum yang disiapkan pemkab Kukar khusus warga terdampak kebakaran di Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong. (Selasar/Farid)

SELASAR.CO, Kutai Kartanegara - Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) melalui Dinas Sosial (Dinsos) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan dapur umum bagi warga terdampak kebakaran di RT 33, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong.

Dapur umum tersebut mampu menyediakan hingga 300 porsi makanan setiap hari dan mulai beroperasi sejak Selasa (6/10) pasca kebakaran. Pelayanan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari hingga Kamis (8/10).

Kepala Bidang Penanganan Korban Bencana Dinsos Kukar, Riyadi Hadi Winoto, mengatakan pembatasan waktu operasional dapur umum merupakan bagian dari standar penanganan bencana.

“Standar kita untuk dapur umum maksimal tiga hari. Karena bencana ini sifatnya jangka panjang,” kata Riyadi saat ditemui di dapur umum, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, setelah masa operasional dapur umum berakhir, bantuan akan dialihkan dalam bentuk bahan makanan mentah yang didistribusikan kepada masing-masing keluarga terdampak.

Langkah tersebut dilakukan karena tidak seluruh warga korban kebakaran berada di lokasi pengungsian. Sebagian memilih sementara tinggal di rumah keluarga sehingga kebutuhan makanan siap saji dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

“Jadi nanti kita akan drop barang-barang mentah untuk didistribusikan ke masing-masing keluarga,” ujarnya.

Selama beroperasi, Dinsos dan BPBD Kukar menggabungkan pelayanan dalam satu dapur umum. Jumlah makanan yang disiapkan juga terus disesuaikan dengan kebutuhan warga serta bantuan dari masyarakat dan para donatur.

Riyadi menjelaskan, apabila terdapat bantuan makanan dari pihak lain, jumlah porsi dari dapur umum akan dikurangi untuk menghindari makanan terbuang.

“Kita sesuaikan dengan kondisi di lapangan. Kalau ada bantuan makanan yang datang, porsi dari dapur umum kita kurangi,” jelasnya.
Selain makanan siap saji, bahan makanan mentah yang tersisa juga akan kembali disalurkan kepada warga terdampak sehingga tidak terbuang percuma.

“Kalau ada sisa bahan mentahnya, nanti kita distribusikan lagi kepada masyarakat,” katanya.
Untuk pelayanan makan, dapur umum biasanya menyediakan makanan pada siang dan sore hari. Sementara kebutuhan makan pagi sebagian dipenuhi melalui bantuan yang diberikan masyarakat maupun donatur.

Riyadi menyebut respons warga terhadap keberadaan dapur umum cukup baik. Namun, menu yang disediakan tetap mengikuti standar pelayanan dan kemampuan dapur umum karena kebutuhan setiap keluarga berbeda.

“Kita tetap mengikuti standar menu yang ada. Tidak mungkin semua kebutuhan masing-masing keluarga bisa kita penuhi secara khusus,” pungkasnya. (ADV/SLR/Kukar)

Penulis: Farid
Editor: Awan

Berita Lainnya