Kutai Kartanegara

kebakaran loa ipuh Loa Ipuh  kebakaran tenggarong 

Di Sisi Dua Putranya, Ustaz Hamri Noor Beristirahat, Sosok Rendah Hati yang Dikenang Masyarakat



Ratusan masyarakat padati rumah duka untuk mengantar kepergian Ustaz Hamri Noor ke peristirahatan terakhirnya, di pemakaman Kelurahan Baru, RT 6, Gang 7, Tenggarong. (Selasar/Farid)
Ratusan masyarakat padati rumah duka untuk mengantar kepergian Ustaz Hamri Noor ke peristirahatan terakhirnya, di pemakaman Kelurahan Baru, RT 6, Gang 7, Tenggarong. (Selasar/Farid)

SELASAR.CO, Kutai Kartanegara - Ratusan warga mengantarkan jenazah Ustaz Hamri Noor ke peristirahatan terakhirnya di pemakaman Kelurahan Baru, RT 6, Gang 7, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kamis (15/10/2026) dini hari.

Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman, terlebih jenazah Hamri dikebumikan tepat di samping kedua putranya yang lebih dahulu berpulang.

Hamri mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 23.09 Wita, Rabu (14/10/2026) malam, setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Aji Muhammad Parikesit.

Ia mengalami luka bakar parah saat berupaya menyelamatkan kedua anaknya, Ahmad Ali Maulidya (7) dan Husin Taufiqqurahman (3), dalam kebakaran di Jalan Kartini, Gang Karya, Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong, Selasa (13/10/2026) malam.

Jenazah Hamri kemudian dimakamkan sekitar pukul 00.30 Wita. Ratusan warga yang hadir mengiringi prosesi pemakaman menjadi gambaran kedekatan almarhum dengan masyarakat semasa hidupnya.

Di balik tragedi yang menimpa keluarganya, Hamri dikenal sebagai sosok yang aktif berdakwah, mengajar, dan menjalankan kegiatan sosial. Kerabat almarhum, Ahmad Fauzi Abdurrahman, mengenang Hamri sebagai pribadi yang rendah hati dan mampu merangkul berbagai kalangan.

“Beliau sangat humble (rendah hati) kepada masyarakat. Dakwahnya bisa diterima oleh seluruh kalangan. Saya salut dengan keistikamahannya dalam mendedikasikan hidup dan ilmu untuk kegiatan dakwah,” kata Ahmad Fauzi.

Menurut Ahmad Fauzi, Hamri telah lama aktif dalam kegiatan dakwah. Bahkan, sebelum dirinya datang ke Tenggarong pada 2016, majelis yang digelar Hamri di rumahnya sudah berjalan.

Setiap Selasa sore, rumah Hamri menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk mengikuti majelis zikir, selawat, dan maulid. Jemaah yang datang bukan hanya kalangan anak muda, tetapi juga ibu-ibu dan warga sekitar.

Bahkan, pada Selasa sore sebelum kebakaran terjadi malam harinya, Hamri masih menggelar majelis seperti biasa.

“Yang paling membekas bagi saya adalah semangat beliau untuk terus mendedikasikan ilmunya bagi dakwah dan kedekatannya dengan masyarakat. Beliau mudah merangkul orang-orang di sekitarnya,” ungkapnya.

Selain berdakwah, Hamri juga mengajar di Pondok Pesantren Karya Pembangunan (PPKP) Ribathul Khail Tenggarong, khususnya di bidang kepesantrenan.

Bagi Ahmad Fauzi, Hamri bukan hanya seorang pendakwah dan pengajar, tetapi juga sosok ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya.

“Apalagi kepada anak-anaknya, masyaallah, beliau sangat sayang sekali,” tuturnya.

Kepergian Hamri menambah duka keluarga yang sebelumnya kehilangan dua putranya dalam kebakaran tersebut. Kini, ketiganya dimakamkan berdampingan.

Hamri dikenang bukan hanya karena peristiwa tragis yang mengakhiri hidupnya, tetapi juga karena keseriusan pengabdiannya dalam dakwah, kerendahan hatinya, dan kedekatannya dengan masyarakat.

Penulis: Farid
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya