Olahraga

olahraga kaltim atlet kaltim aliansyah janji diangkat asn 

Kisah Aliansyah: Mengunci Kemenangan Gulat 20 Tahun Tak Terkalahkan, Status ASN Tak Kunjung Pasti



Muhammad Aliansyah, Pegulat Kaltim saat memenangkan medali emas di SEA Games 2023. Foto: Selasar/Ist
Muhammad Aliansyah, Pegulat Kaltim saat memenangkan medali emas di SEA Games 2023. Foto: Selasar/Ist

SELASAR.CO, Samarinda – Riuh tepuk tangan dan kilatan kamera selalu akrab menyambut Muhammad Aliansyah setiap kali ia turun dari podium tertinggi. Di atas matras gulat, pria kelahiran 1991 ini menjadi sosok yang ditakuti lawan. Bayangkan saja, lima medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) disabetnya berturut-turut sejak 2008 hingga 2024, tanpa sekalipun merasakan perak atau perunggu. Rekor abadi yang belum pernah dipecahkan pegulat Kalimantan Timur mana pun.

Namun, ketika peluit akhir pertandingan ditiup dan gemerlap lampu stadion padam, Aliansyah harus kembali pada realitas sunyi. Sang juara dunia, yang telah enam kali mengibarkan Merah Putih di ajang SEA Games, hingga pertengahan Juni 2026 masih berstatus tenaga honorer di Dispora Samarinda. Sebuah pengabdian tanpa kepastian yang ia jalani sejak 2015.

“Harapan saya yang paling besar, bukan cuma pemerintah pusat, pemerintah daerah juga seperti gubernur atau wali kota memberi saya pekerjaan yang layak untuk menjadi ASN. Saya sudah membela daerah dan negara ini sejak usia dini,” keluh Aliansyah dengan nada getir.

Langkah Panjang di Matras

Karier Aliansyah di dunia gulat bukanlah proses instan. Ia mencintai olahraga bantingan ini sejak usia enam tahun, tepatnya pada 1997. Darah gulat memang mengalir di keluarganya, namun Aliansyah kecil punya ambisi besar: melampaui capaian saudara-saudaranya yang hanya meraih perak dan perunggu di tingkat internasional. Ambisi itu terbukti. Di usia 15 tahun, ia langsung menembus kelas senior dan menyabet emas di Kejurnas Piala Presiden 2006.

Sejak saat itu, prestasinya meroket. Emas demi emas PON ia persembahkan untuk Benua Etam (2008, 2012, 2016, 2021, 2024). Di level internasional, tiga emas SEA Games (2011, 2023, 2025) berhasil dibawanya pulang ke tanah air, ditambah dua perak (2009, 2022) dan satu perunggu di Asia Junior 2011.

Perjalanan panjang itu tak selalu mulus. Aliansyah mengenang tahun 2013 sebagai titik terkelam dalam hidupnya. Di tengah persiapan SEA Games, sang ayah berpulang dan rumah keluarganya hangus terbakar. Ia sempat berniat menyudahi karier. Namun, berkat dorongan rekan sejawat, ia bangkit dari keterpurukan. Melalui latihan ekstrem pagi, siang, dan sore tanpa putus, ia kembali berdiri tegak dan merebut emas pada PON 2016.

Menagih Janji Dua Presiden

Berkat konsistensi dan kegigihannya, Aliansyah sempat mendapat angin segar pada 2023. Usai merebut emas di SEA Games Kamboja, Presiden Joko Widodo menjanjikan formasi khusus ASN. Data diri telah diserahkan, namun kuota dari Kemenpan-RB tak kunjung jelas.

Dua tahun berselang, tepatnya 2025, asa itu kembali membumbung saat Aliansyah berkesempatan menginjakkan kaki di Istana Negara. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, ia kembali menagih janji masa depannya tersebut.

“Saya sampaikan lagi janji itu ke Pak Prabowo, saya tagih lagi, dan sempat dicatat. Saya memaklumi mungkin pemerintahan baru ini tugasnya masih panjang dan padat, tapi sampai hari ini memang belum ada berita kelanjutan tentang nasib masa depan pekerjaan saya,” tuturnya.

Sepi Apresiasi di Rumah Sendiri

Jika birokrasi di tingkat pusat terasa lamban, Aliansyah justru menyayangkan sikap Pemerintah Provinsi Kaltim yang terkesan abai. Usai menyabet emas di SEA Games Thailand 2025, ia mengaku tidak ada sambutan, reward, ataupun perhatian formal dari jajaran pemprov.

Ia pulang ke Samarinda dalam senyap, hanya disambut pelatih, rekan atlet, dan keluarga. Aliansyah menduga perhatian pemerintah daerah lebih terfokus pada cabang olahraga beregu, sehingga atlet perorangan seperti dirinya terkena imbas minim apresiasi.

“Saya berharap minimal dipanggil dululah oleh Pak Gubernur. Didengar apa yang terbaik untuk kami. Di tingkat internasional, yang saya bawa di dada ini bukan cuma nama Indonesia, tapi juga Kaltim. Kami hanya butuh jaminan hidup yang layak setelah tidak lagi bertanding di atas matras,” pungkas salah satu atlet tertua di Pelatnas gulat tersebut.

Dukungan dari Petinggi Gulat

Di tengah perjuangan menuntut hak kesejahteraannya, Aliansyah tidak menampik bahwa ketahanannya di dunia gulat hingga saat ini tak lepas dari dukungan moral para petinggi olahraga bantingan tersebut. Ia menyampaikan terima kasih mendalam kepada Trimedya Panjaitan, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PB PGSI), yang selalu hadir langsung mendampingi dan membakar motivasinya di setiap laga.

Apresiasi juga ia haturkan kepada mantan Ketua Umum PGSI Kaltim, Said Amin, yang dikenal loyal mendukung atlet Benua Etam. Aliansyah menyisipkan harapan besar agar Ketua Umum PGSI Kaltim yang baru, Agus Suwandi, mampu membawa roda organisasi dan kesejahteraan atlet ke arah lebih baik.

“Saya sangat berterima kasih kepada Pak Trimedya Panjaitan yang selalu hadir memberikan motivasi di setiap saya bertanding, juga kepada Pak Said Amin atas seluruh dukungan besarnya selama ini untuk atlet Kaltim. Kini, besar harapan saya kepada Ketua Umum yang baru, Pak Agus Suwandi, semoga bisa menakhodai pengurusan ini dengan lebih baik lagi ke depan,” tutup Aliansyah.

Penulis: Boy
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya