Lingkungan
Bank Sampah  Pengelolaan Sampah  DLH Bulungan 
Kelola Sampah dari Desa, 12 Desa di Bulungan Mulai Bangun Bank Sampah
SELASAR.CO, Bulungan – Pengelolaan sampah berbasis masyarakat mulai diperluas di sejumlah desa di Kabupaten Bulungan. Sebanyak 12 desa saat ini mulai membangun Bank Sampah melalui program Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (TAKE).
Program tersebut menjadi salah satu upaya mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan sekaligus mendorong masyarakat memilah sampah sejak dari sumber.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3, dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Bulungan, Indah Sriwati, mengatakan pemilahan sampah juga telah berjalan di sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).
“TPS 3R sebenarnya sudah mulai milah sampah. TPS 3R Desa Jaelarey, TPS 3R Desa Bumi Rahayu, termasuk TPS 3R Salim Batu. Semua TPS sebenarnya sudah milah sampah,” ujar Indah, Senin (24/8/2026).
Berita Terkait
Sampah yang telah dipilah kemudian dikelola sesuai jenisnya. Untuk sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi, sebagian dikumpulkan dan dijual kepada pengepul.
Menurut Indah, meski belum seluruhnya diolah menjadi produk baru, pemilahan tersebut sudah membantu mengurangi volume sampah yang harus ditangani pemerintah daerah.
“Memang ada sebagian sampah yang tidak diolah untuk daur ulang lagi kembali, tapi dipilah, dijual ke pengepul. Nah itu sudah sangat membantu kita di Kabupaten Bulungan,” katanya.
Sementara sampah organik mulai diolah menjadi kompos di beberapa TPS 3R. Di antaranya TPS 3R Pasar Induk, Desa Jaelarey, dan Desa Salim Batu.
“Kalau untuk mengolah sampah organik kita sudah ada. Ada yang sudah jadi produk seperti kompos, itu ada di TPS 3R Pasar Induk, TPS 3R Desa Jaelarey, sama di Desa Salim Batu,” jelasnya.
Hasil pengolahan tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal, tetapi juga mulai dipasarkan. Produk yang dihasilkan berupa kompos maupun kompos cair.
Berbeda dengan sampah organik, pengolahan sampah plastik menjadi produk baru masih menghadapi keterbatasan. Saat ini, DLH Bulungan masih mendorong peran komunitas masyarakat dalam mengembangkan produk berbahan plastik bekas.
Salah satunya dilakukan komunitas Dedur yang beranggotakan anak muda dan mengembangkan berbagai produk dari sampah plastik.
“Kalau untuk plastik memang masih komunitas Dedur yang masih bisa buat produk, walaupun ini masih proses izin,” kata Indah.
Menurutnya, Bulungan belum memiliki fasilitas atau rumah produksi khusus yang mampu mengolah sampah plastik dalam skala besar. Kondisi tersebut membuat sebagian sampah plastik yang memiliki nilai jual masih harus disalurkan ke pihak lain di luar daerah.
DLH Bulungan berharap ke depan dapat dibangun fasilitas pengolahan sampah plastik di daerah tersebut sehingga proses pengolahan dapat dilakukan di dalam wilayah Kalimantan Utara.
“Kalau untuk pabrik khusus untuk mengolah sampah plastik, doakan mudah-mudahan kita di Bulungan ada. Jadi enggak perlu mengirim lagi ke kota luar dari Kaltara,” pungkasnya.
Penulis: Redaksi Selasar
Editor: Awan

