Ragam

DLH Bulungan  Daur Ulang Sampah Pemkab Bulungan 

DLH Bulungan Targetkan Pengelolaan Sampah Minim Residu, Kapasitas PDU Bisa Capai 40 Ton



SELASAR.CO, Bulungan — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bulungan menargetkan pengelolaan sampah ke depan dapat mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir (TPA). Salah satu upaya yang didorong adalah optimalisasi Pusat Daur Ulang (PDU) melalui pemilahan dan pengolahan sampah.

Kepala DLH Kabupaten Bulungan, H. Ismail, S.Hut., M.Si., mengatakan pola pengelolaan sampah kini diarahkan untuk tidak lagi sekadar mengangkut sampah dari sumber menuju tempat pembuangan.

“Dulu sampah itu sebelumnya angkut, kumpul, angkut, buang. Itu konvensional. Sekarang ini kebijakan baru ada pilah, olah,” ujarnya.

Ia mengatakan PDU dirancang untuk memisahkan sampah berdasarkan jenisnya sehingga material yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali.

“Alat yang ada ini hanya bentuk pengolahan yang memproduksi dua tadi, memisahkan plastik dan organik,” ujarnya.

Ismail menjelaskan, sampah organik dapat diarahkan untuk proses composting. Sementara sampah plastik dapat dipilah lebih lanjut karena memiliki nilai ekonomi yang berbeda-beda.

“Plastik yang ada tercampur ini ketika dipilah nilai ekonomisnya beda-beda,” katanya.

Dari sisi kapasitas, Ismail menyebut fasilitas yang tersedia memiliki kapasitas terpasang sekitar 30 ton. Namun, ia optimistis kapasitas pengolahan dapat ditingkatkan melalui optimalisasi proses pemilahan dan operasional.

“Seperti yang saya katakan tadi, kalau pilah di atasnya ini, ini sebenarnya lebih. Lebih dari mungkin 35 sampai 40 ton sampah bisa masuk di sini,” jelasnya.

“30 ton dengan dua lane, saya sangat yakin 40,” lanjut Ismail.

Menurutnya, peningkatan kapasitas tersebut penting mengingat produksi sampah di Bulungan diperkirakan mencapai 80 hingga 83 ton setiap hari.

Dengan pemilahan sejak awal, sebagian besar sampah diharapkan tidak berakhir sebagai residu yang harus dibuang ke TPA.

“Jadi betapa kita mereduksi, obsesi kita, pengelolaan sampah tanpa TPA ke depan,” tegasnya.

Meski demikian, Ismail mengakui masih akan ada material yang tidak dapat diolah melalui proses daur ulang. Untuk residu tersebut, pihaknya mempertimbangkan teknologi pengolahan lanjutan.

“Jadi semua yang ada mungkin ada insinerator kecil yang sisanya kan tidak bisa kita buang,” ujarnya.

Ia menambahkan, konsep pengelolaan sampah ke depan diarahkan agar material yang masih memiliki nilai dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dan hanya menyisakan residu seminimal mungkin.

“Tidak mengenal dumping, tidak mengenal controlled landfill, tidak mengenal sanitary landfill, tidak mungkin tidak kenal. Mungkin kita langsung hancurkan dalam sistem insinerator yang ada. Itu obsesi kita ke depan,” pungkas Ismail. (**)

Penulis: Redaksi Selasar
Editor: Awan

Berita Lainnya