PPU
batu bara terbakar batu bara terbakar di sesulu 
Hampir Dua Bulan Hirup Bau Batu Bara Terbakar, Warga Sesulu Keluhkan Sesak Napas hingga ISPA
SELASAR.CO, PPU – Warga Desa Sesulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari tumpukan batu bara yang terbakar di area penumpukan (stockpile) yang disebut ditinggalkan subkontraktor CV PMA (Penajam Makmur Abadi). Kondisi tersebut telah berlangsung hampir dua bulan dan mengganggu kenyamanan warga, terutama pada malam hari.
Perwakilan warga Sesulu berinisial AA mengatakan bau yang ditimbulkan dari tumpukan batu bara tersebut berbeda dari kondisi biasanya. Warga menduga bau menyengat itu berkaitan dengan pembakaran batu bara yang masih berlangsung di lokasi.
Menurut AA, dampak yang dirasakan masyarakat tidak hanya berupa gangguan kenyamanan, tetapi juga keluhan kesehatan. Sejumlah warga dilaporkan mengalami sesak napas, sementara bayi disebut mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Ada pula warga yang mengeluhkan muntah dan sakit kepala.
“Kami masyarakat Sesulu sudah hampir dua bulan merasakan bau yang tidak seperti biasanya. Akibat batu bara yang terbakar itu, masyarakat mengalami sesak napas, ada bayi yang menderita ISPA, muntah, dan sakit kepala,” ujar AA, Kamis (22/10/2026).
Ia mengatakan warga selama ini juga harus menghadapi asap pada pagi hari. Kondisi tersebut semakin menambah kekhawatiran masyarakat ketika malam tiba, karena bau menyengat dari tumpukan batu bara masih dirasakan.
AA berharap pemerintah daerah tidak hanya menerima laporan secara administratif, tetapi juga turun langsung untuk melihat kondisi yang dialami warga. Ia secara khusus meminta camat, Bupati PPU Mudyat Noor, dan Wakil Bupati Abdul Waris Muin meninjau lokasi serta mendengarkan keluhan masyarakat.
“Kami berharap bapak camat, bupati, dan wakil bupati meninjau kami, bukan hanya dari atas meja. Dengarkan keluh kesah masyarakat. Kami juga ingin bangga memiliki pemimpin yang punya empati terhadap kondisi yang kami alami sekarang,” tegasnya.
Warga, lanjut AA, mengaku telah menyampaikan keluhan kepada pemerintah setempat. Namun, berdasarkan informasi yang diterima warga, pemerintah setempat menyebut telah menyurati perusahaan PMA. Hingga keluhan tersebut disampaikan, warga mengaku belum melihat tindakan nyata untuk mengatasi persoalan tersebut.
Warga juga mendesak adanya langkah konkret agar sumber bau dapat segera ditangani. AA meminta pemerintah dan perusahaan mencari solusi, termasuk memastikan bara api benar-benar padam dan melakukan penanganan terhadap tumpukan batu bara agar bau tidak terus menyebar ke permukiman.
“Kalau batu bara itu tidak bisa ditutup, setidaknya padamkan dengan air dan timbun kembali supaya tidak berbau pada malam hari,” katanya.
AA menegaskan, masyarakat berharap persoalan tersebut segera ditanggapi sebelum keluhan kesehatan semakin meluas. Ia juga menyatakan warga akan membawa persoalan itu ke ruang publik melalui media sosial apabila tidak ada tindak lanjut dan solusi yang jelas.
“Kami sudah melapor kepada pemerintah setempat, tetapi yang kami dengar hanya penyampaian bahwa surat sudah dikirim ke perusahaan PMA. Sampai kapan masyarakat harus mencium bau batu bara ini? Apa harus menunggu masyarakat semakin banyak yang sakit baru ada tindakan?” ujarnya.
Sebelumnya, aktivitas pemuatan batu bara oleh sejumlah perusahaan di kawasan Buluminung, termasuk PMA, dilaporkan tidak beroperasi sejak Januari 2026 karena belum terbitnya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Informasi tersebut pernah disampaikan dalam keterangan terkait aktivitas pemuatan batu bara dan penerimaan Pelabuhan Buluminung di PPU.
Meski demikian, belum ada keterangan terverifikasi yang memastikan keterkaitan langsung antara penghentian aktivitas pemuatan tersebut dan kondisi tumpukan batu bara yang dikeluhkan warga Sesulu.
Selain itu, pada 2024 warga juga pernah mengeluhkan hal yang sama terkait batu bara yang terbakar dan sempat dilakukan audiensi terkait hal tersebut. Namun, hal itu terulang kembali pada 2026.
Warga berharap pemerintah segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi, memastikan kondisi tumpukan batu bara, serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap masyarakat di sekitar area tersebut.
“Kami harap akan segera ada pengecekan lebih lanjut, kami sudah lelah sama bau batu bara ini,” pungkas AA.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan dari pihak PMA maupun pemerintah daerah mengenai penyebab kebakaran, langkah pemadaman yang telah dilakukan, serta rencana penanganan keluhan warga.
Penulis: Nelly
Editor: Yoghy Irfan

