Feature

Bercengkerama dengan "Acil Kintul" yang Mampu Layani Ratusan Pelanggan Tiap Malam

Selasa, 01 Oktober 2019
 

Muhhibah dan seporsi nasi kuning "Acil Kintul"

Merek-merek ini terdengar tabu. Mendobrak kelaziman, sekaligus mengundang keingintahuan. Di Jakarta, Lucinta Luna punya brand kopi bernama Ko&Thol, kependekan dari kopi menthol. Ada pula es kopi kekinian dari Bali dengan merek Ngocok, dengan desain gelas plastik bermuatan kata-kata menggelitik semisal: Putus Cinta? Ngocok aja dulu. Ko&Thol baru viral, sedangkan Ngocok kesohor setahun lebih dulu. Tapi jauh sebelum itu, di Samarinda, sudah ada warung nasi kuning bernama "Acil Kintul". Dalam kosakata Banjar, acil berarti bibi atau tante, dan kintul bermakna hubungan badan.

YOGHY IRFAN, Samarinda

Pukul 22.00 Wita, saat sebagian besar orang memilih beristirahat usai seharian beraktivitas, Muhhibah justru baru sibuk-sibuknya. Dia tengah mempersiapkan dagangannya, nasi kuning bumbu habang (merah) khas Banjar.

Perempuan 42 tahun ini telah berjualan nasi kuning selama kurang lebih 10 tahun di Samarinda, tepatnya di Jalan Lambung Mangkurat II, Kecamatan Sungai Pinang. Dengan brand yang nyeleneh yaitu “Acil Kintul”, warung milik Muhhibah ini tidak pernah sepi pembeli. Saya pun tertarik mengunjunginya. Dengan cekatan, perempuan berkulit sawo matang itu melayani para pembeli satu demi satu. "Nasi kuningnya kah, Mas?" tanya Muhhibah kepada saya. "Pesan nasi kuning, pakai ikan haruan, Cil," jawab saya.

Rupanya, nasi kuning buatan Muhhibah memang lezat. Pada suapan pertama, saya sengaja hanya mencoba lauk ikan haruannya terlebih dahulu. Ikan air tawar itu terasa renyah saat digigit karena digoreng kering. Aroma bumbu rempah yang kuat menambah cita rasa dalam masakan.

Saat daging ikan haruan ini menyatu dengan sesendok nasi kuning yang sudah dilumuri bumbu merah, air liur saya berhamburan di dalam mulut. Tidak memakan waktu lama bagi saya untuk menghabiskan satu porsi nasi kuning ini. Wajar jika warung ini selalu ramai. Bahkan pembeli terkadang harus mengantre untuk menikmati “Acil Kintul”.

Perempuan berhijab itu kemudian berkisah tentang mengapa lapaknya dikenal sebagai Warung Nasi Kuning Acil Kintul. Nama itu rupanya sudah melekat sejak awal dirinya memulai usaha. Sejak dulu banyak kupu-kupu malam yang sering singgah untuk makan nasi kuning di tempatnya, terutama malam Minggu.

Nah, para perempuan yang bekerja di tempat hiburan malam (THM) itu sering asal bicara. Mereka tak jarang menyebut kata-kata “kintul”. Sementara Muhibbah dulu belum bisa menghilangkan kebiasaan latahnya. Ia pun mengulangi kata itu jika para ladies menyebutkannya. Lahirlah sebutan Acil Kintul.

"Cewek-cewek ladies itu kan banyak makan di sini kalau malam. Jadi mereka itu sering bercanda ngomong asal-asalan, kintul-kintul. Setelah itu langsung terkenal nama Acil Kintul," tutur Muhhibah.

Dari mulut ke mulut, Acil Kintul makin dikenal. Muhhibah pernah mencoba memasang pelang nama lain di warungnya untuk menghilangkan stigma negatif dari penggunaan nama yang dianggap tidak senonoh. Dia lalu menamai warungnya Nasi Kuning Acil Banjar. Namun, nama itu banyak diprotes oleh pengendara ojek online, karena berbeda dengan yang tertera di Google Maps. "Di Google Maps ternyata sudah ada yang daftarkan nama warung Acil Kintul itu, jadi kami lepas lagi," ucapnya.

Maka makin berkibarlah Acil Kintul. Meski begitu, hingga saat ini Muhhibah belum berniat memasang pelang “Acil Kintul” di lapaknya. "Malu juga saya, Mas. Mungkin kalau orang Jawa engga ngerti, tapi kalau orang Banjar pasti ngerti apa artinya," jelasnya sambil sesekali tertawa.


PEMBAWA HOKI

Muhhibah mengaku tidak pernah marah saat ada pelanggan menyebut lapaknya dengan julukan itu. Dia justru menganggap nama tersebut membawa keberuntungan. Berkat nama itu, banyak pelanggannya yang datang dari luar kota karena penasaran.

Dulu saat warung tersebut belum dikenal sebagai warung Acil Kintul, Muhhibah hanya bisa menjual sekitar 150 porsi per hari. Namun kini, Muhhibah mampu menjual 300 porsi per hari. Harga satu porsi nasi kuningnya antara Rp 11-16 ribu, tergantung jenis lauk yang dipilih. Pendapatan kotor Acil Kintul mencapai Rp 5,5 juta satu malam.

Popularitas Acil Kintul membuat pemain tim sepak bola nasional yang merumput di Borneo FC, Diego Michiels, menjadi pelanggan tetap. Reputasi warung nasi kuning ini juga tersiar ke luar pulau. Sehingga, warung Muhhibah kerap dikunjungi musisi dari Jakarta yang tengah mengadakan konser di Samarinda.

"Bikin hoki juga namanya itu, sampai banyak dari Jakarta kalau datang ke Samarinda penasaran dengan warung saya ini, jadi mereka pasti makan ke sini," terangnya.

Warung Nasi Kuning Acil Kintul buka pukul 22.30-4.30 Wita. Namun, biasanya jam tutup akan lebih cepat pada malam Minggu. Benar saja, ketika saya berkunjung pada Minggu (16/9/2019) dini hari, baru pukul 01.30 Wita, dagangan Muhhibah hampir habis terjual.

"Engga enak juga kalau bukanya pagi atau sore, karena kami berjualan di depan gang. Langganan juga malam baru biasanya datang, biasanya orang-orang habis main bulu tangkis dan anak-anak kerja di mal kan jam segitu baru pulang," tutur Muhhibah.


Dibantu karyawan, Muhhibah bisa menyajikan ratusan porsi untuk pelanggannya

Luki, salah satu pelanggan tetap warung nasi kuning tersebut mengaku, sudah sejak lama mengetahui asal-usul nama warung Acil Kintul. Ia pun tak jarang melihat langsung wanita penghibur sedang memesan makanan, saat mereka masih dalam pengaruh minuman keras. Meski begitu ia mengaku tidak merasa terganggu.

"Saya dari sebelum namanya itu (Acil Kintul) sudah makan di sini. Itu kan anak-anak muda di sini sering ngagetin acilnya dengan kata-kata itu, karena dulu acilnya latah. Kalau sekarang sudah nggak latah lagi acilnya," ujar Luki.

Madu, pelanggan lainnya juga mengaku sudah mengetahui asal mula nama tersebut. Menurutnya bukan hanya soal nama, tapi memang rasa nasi kuning asli buatan tangan Banjar itu, membuat dirinya ketagihan untuk kembali makan di sini.

"Enak, Mas, nasinya, terus murah juga. Saya makan berdua dengan teman saya cuma Rp 25.000. Pokoknya kalau untuk tanggal-tanggal tua cocok deh," jelasnya kemudian tertawa.

Beberapa tahun belakangan, tradisi makan nasi kuning di Samarinda memang meluas. Jika dulu nasi kuning biasa dinikmati pada pagi hari, kini makanan itu kerap disantap pada malam hari. Warga pun banyak yang membuka usaha menjual nasi kuning. Terbanyak di Jalan Lambung Mangkurat. Hingga, pemerintah kota Samarinda menetapkan kawasan itu sebagai Kampung Nasi Kuning.

Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Er Riyadi

kuliner-samarinda kuliner acil-kintul nasi-kuning 

Berita Lainnya