Kolom

Pandemi, Pengetahuan Lokal hingga Konspirasi



Pandemi, Pengetahuan Lokal hingga Konspirasi
Chai Siswandi

Oleh: Chai Siswandi

Kamis lalu (30/4), tak sengaja saya menyimak pertemuan virtual via aplikasi Zoom yang dilakukan Balai Pelestarian Cagar Budaya Kaltim dan Masyarakat Sejarawan Indonesia cabang Kaltim.

Diskusi daring bertajuk "Wabah Penyakit Menular dan Bencana Kemanusiaan Perspektif Sejarah & Budaya" itu diampu oleh tiga pemateri, yakni Kepala BPCB Kaltim Dr Muslimin AR Efenddy, Amrullah Amir dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, dan Nasrullah Mappatang dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, serta moderator mumpuni, tuanku Fajar Alam.

Satu yang saya ingat ketiga pemateri sama-sama menyebut Yuval Noah Harari, juga Jared Diamond. Baik Sapiens, Homo Deus juga Guns, Germs and Steel merangkumkan dengan piawai (menarik dan mengalir) sejarah panjang peradaban manusia. Serta memberikan kesimpulan yang sama, bahwa penyebab kematian manusia paling besar bukanlah akibat perang atau senjata. Tapi penyakit, baik oleh kuman dan virus.

Belakangan Harari disalahpahami dengan visi atheis, yakni akibat ramalannya yang mengandaikan kelak akan ada manusia adikodrati, dengan kecerdasan tinggi didukung segala perangkat pengetahuan, komputer, teknologi sehingga bisa kekal, berumur panjang terbebas dari segala penyakit yang menjadikannya manusia dewa (homo Deus). Sesuatu yang dianggap oleh pengkritiknya sebagai visi dehumanisasi.

Meskipun demikian, baik Harari dan Jared Diamond memberikan gambaran betapa rapuhnya manusia di hadapan penyakit. Dan ini berulang dalam siklus peradaban manusia.

"Covid 19, secara berkelakar, disebut sebagai ulang tahun dari peristiwa-peristiwa tersebut," ujar Amrullah. Sebuah napak tilas, kata saya.

Menarik, dalam pemaparannya, para pemateri sesungguhnya mengantarkan peserta pada pengetahuan bahwa masyarakat lokal di Indonesia, punya pengalaman dan kaya akan pengetahuan tentang bagaimana menghadapi wabah. Colera, TBC, pes, aneka Flu dan HIV.

Di masa penjajahan, Belanda membuat pulau pengasingan untuk orang yang terkena penyakit lepra di kepulauan seribu, juga di Makassar. Orang-orang Nusa Tenggara sudah mengenal semacam hijab dari sarung yang berfungsi sebagai masker. Orang-orang Dayak ketika mendengar kabar wabah, mereka melarang orang untuk turun ke dataran rendah, mereka sudah mengenal lockdown. Juga ada transaksi bisu, barter dengan menjaga jarak. Belum lagi aneka herbal, dan sebagainya. Nasrullah menyampaikan, kepercayaan adanya wabah pada masyarakat lokal seringkali dihubungkan dengan relasi manusia dengan alam. Datangnya wabah diakibatkan rusaknya hutan dan lingkungan, sehingga kuman dan virus mencari inang baru yaitu manusia.

Saya, terpikir ragam pengetahuan lokal ini berharga sekali. Namun, persoalannya memang pengetahuan itu bersifat sporadis, tersebar, dan berupa spot-spot budaya di masyarakat yang masih mempertahankan tradisi tersebut. Bagaimana dengan masyarakat perkotaan, yang terpisah dengan kearifan lokal? Bagaimana pendekatan kebudayaan untuk masyarakat yang heterogen. Sehingga sesungguhnya, kekayaan lokal mengenai social distancing, karantina wilayah dan sebagainya itu dianggap perilaku baru bagi masyarakat umum.

Maka tak heran jika masyarakat, misalnya masih ngotot mau ibadah berjamaah. Bukan karena semata bebal atau rendahnya literasinya. Tapi memang praktik-praktik tadi, secara kebudayaan masih asing bagi mereka. Sementara agama sebagai "pranata sosial" di sisi lain adalah sesuatu yang primordial, yang selama ini dalam jangka panjang telah memberi rasa aman, tenteram dan kepuasaan religi melalui praktik ritual dan jamaah.

Begitu juga dengan budaya mudik, dan pulang kampung. Juga menunjukkan gejala naluriah masyarakat Indonesia sekaligus menunjukkan kampung sebagai tumpuan ketika kota tidak memberikan jalan keluar, atas persoalan hidup ketika wabah terjadi.

Bencana alam seperti gunung berapi, gempa dan tsunami sama seringnya terjadi dalam sejarah Indonesia. Belajar dari pengalaman masa lalu, mereka menyiapkan mitigasi, sebelum semua itu terjadi lagi. Mereka memiliki syair-syair, mengenai tsunami. Lagu-lagu dan permainan anak dibuat untuk mengetahui apa yang harus dilakukan ketika ada gempa/lindu.

Untuk wabah saya belum menemukannya. Dalam praktik kebudayaan lokal sering ditemui pengetahuan mengenai penanganan, pengobatan, penyembuhan, tetapi mitigasi masih minim. Mungkin setelah ini kita semua perlu belajar, bersama. Negara perlu membuat SOP atas pandemi, baik mitigasi dan penanganannya belajar dari kasus masa kini.

Yang paling melegakan, dari semua pemateri menolak rumor bahwa Covid-19 yang terjadi saat ini sebuah konspirasi global. Teori konspirasi, adalah cara untuk menyalahkan pihak lain yang menunjukkan kegagalan mengatasi masalah. Walaupun, sebenarnya menurut saya pandemi kali ini menunjukkan juga wajah budaya suatu bangsa. Misalkan Amerika di tengah-tengah wabah yang menghabisi puluhan ribu warganya, alih-alih menangani persoalan, tetapi lebih sibuk membicarakan tuntutan ganti rugi yang akan dimintakan paksa ke Tiongkok.

Pun begitu bangsa ini. Di tengah pandemi yang melanda. Ada yang diam-diam memuluskan undang-undang baru yang bermasalah. Sebuah konspirasi 🤣

*) Penulis adalah Budayawan, Pegiat Literasi

Editor: Awan

 

Berita Lainnya