Kolom

Begini Cara Orang Bodoh Berdamai dengan Corona



Begini Cara Orang Bodoh Berdamai dengan Corona
Awan, Pemimpin redaksi Selasar.co

Disclaimer: Jangan jadikan tulisan ini referensi, penulisnya hanya remah-remah peradaban, pengamat-pemerhati corona dari pojok Kota Tepian.

Oleh: Awan*

DIBANDING negara maju yang sempoyongan menghadapi corona, Indonesia sebetulnya boleh dibilang – mohon izin sebelumnya kepada para kritikus kata – sedikit beruntung. Bejo bin Slamet. USA dan Inggris itu kurang maju apa sebagai sebuah negara? Keduanya juga dihuni penduduk yang konon tingkat disiplinnya tinggi. Nyatanya, jumlah pasien positif dan meninggal di sana ada di posisi puncak 5 besar.

Menurut data Worldometers hingga 15 Mei 2020, ada 4.519.939 kasus positif Covid-19, sebanyak 303.024 meninggal dunia dan 1.699.882 sembuh. Amerika memiliki kasus terbanyak yakni 1.455.597, dengan angka kematian sudah mencapai 86.873 orang. Disusul Spanyol, Rusia, Italia, dan Inggris. Semua negara maju.

Bagaimana Indonesia mengambil hikmah dari kenyataan pahit itu? Negara maju saja kewalahan, apalagi kita negara yang berkembang saja sulit karena rakyat dan pemerintahnya hobi berburuk sangka satu sama lain. Apakah kita harus menyerah? Tentu tidak. Reza Rahardian berkata, kegagalan hanya terjadi jika kita menyerah. Eh, maaf, itu quote Pak Habibie.

Jadi gimana, dong?

Mau tidak mau, suka tidak suka (termasuk suka Jokowi atau tidak), kita memang harus berdamai dengan corona. Perang melawan virus hanya bisa dimenangkan jika anti-virus sudah ditemukan. Siapa yang harus berjuang di medan itu? Tentu pemerintah seluruh dunia dan para peneliti. Lalu apa tugas kita sebagai rakyat jelata dalam pertempuran ini?

Beraktivitas saja seperti biasa, kepulkan asap dapur kalian. Sehatkan jiwa dan tubuh kalian. Sambil, terus mengampanyekan dan menggalang kesadaran kolektif terhadap kehidupan new normal. Mengapa? Karena virus tidak mudah menyerah dan musnah. Mikroorganisme ini lebih tangguh daripada dinosaurus. Seuntai protein yang ulet dan memiliki etos hidup yang tinggi. Virus juga mampu hijrah dari inang binatang ke manusia. Bahkan bermutasi. Entah akhirnya jadi kura-kura ninja atau spiderman.

WHO pun sudah menyatakan bahwa kita akan hidup berdampingan dalam waktu yang panjang dengan virus corona.

Virus ini sebagaimana gosip. Jika sudah menyebar, sulit menghentikannya. Tersebar dari satu mulut ke mulut lain. Meski sumber gosip sudah diamankan, misalnya, gosip yang terlanjur beredar akan terus menyebar, mengifeksi pikiran manusia.

Lockdown hanya memperpanjang napas untuk kembali berlaga di medan pertempuran melawan corona. Sementara efek ekonominya bisa mengguncang sangat keras. Apalagi cuma PSBB, PPKN, PMP, atau apalah itu singkatannya. Pembatasan-pembatasan kehidupan sosial nyatanya justru membuat tekanan berlipat-lipat. Tekanan kesehatan, ekonomi, sekaligus psikologis. Jika satu negara ambyar, negara lain akan ikut ambyar, karena kita hidup di dunia yang saling terkoneksi. Baik politik, ekonomi, sosial budaya dll.

Beberapa negara memang telah sukses menghentikan penyebaran virus corona. Hal itu terjadi karena langkah tepat di awal virus ini menyerang. Waktu tentu tidak bisa diputar kembali. Kita harus menerima kenyataan bahwa langkah awal pemerintah kita sudah salah. Tapi, daripada mengutuk Pak Terawan, eh masa lalu, lebih baik menatap masa depan.

Kemudian, apa jaminan bagi negara yang sukses memerangi corona seperti Vietnam dan Selandia Baru, agar rakyatnya tidak akan tertular lagi? Apakah akan lockdown terus sampai meteor menghantam bumi dan menghancurkan seisi dunia? Tentu tidak.

Yang bisa menjamin adalah kesadaran kolektif tentang bagaimana virus itu bisa menular dan bagaimana kita mencegah penularannya – sampai anti-virus ditemukan. Kalau sudah begini, suara Pak Achmad Yurianto juru bicara pemerintah itu auto-terngiang-ngiang di kepala. “Jika harus beraktivitas, jagalah jarak, gunakan masker, jangan menyentuh area wajah terutama mata, hidung, mulut, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Jaga imunitas tubuh dengan gaya hidup sehat, olahraga dan istirahat yang cukup, konsumsi sayur dan buah-buahan”.

Hapalkan itu seperti dulu kamu menghapal nama-nama menteri zaman orde baru atau menghapal artis Korea beserta judul lagu dan dramanya. Ketat menjalankan protokol itu kapan pun dan dimana pun beraktivitas. Sesimpel itu? Iya, mau gimana lagi? Kalau rakyat Vietnam bisa begitu, insya Allah corona benar-benar tidak akan mampir ke negara komunis itu lagi. Eh kok malah bahas negara komunis. Stop, nanti kita ikut kekiri-kirian.

Dari sisi pemerintah, berdamai dengan corona dilakukan dengan memastikan semua fasilitas umum menjalankan protokol pencegahan Covid-19. Jangan malah mencontohkan yang buruk-buruk seperti kerumunan di Bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu lalu.

Selain itu, refocusing anggaran harus betul-betul fokus digunakan untuk pencegahan virus dan penanganan kesehatan. Bangun fasilitas kesehatan lengkap dengan peralatannya yang memadai dan menambah jumlah tenaga medis. Perbanyak pula alat tes dan hal-hal teknis lain yang diperlukan. Pak Terawan selaku Menteri Kesehatan tentu lebih paham lah.

Salurkan ratusan triliun dana itu dengan tepat. Jangan lagi untuk pelatihan online aneh-aneh tak berfaedah. Demikian juga pemerintah tiap daerah. Lumayan besar lho anggarannya kalau digunakan tepat guna dan tepat sasaran. Samarinda yang kota kecil-menengah agak berdebu saja anggarannya Rp 350 miliar untuk penanganan corona.

Sekali lagi, ini hanya pendapat orang bodoh tentang bagaimana berdamai dengan corona. Supaya kita tidak stres. Jangan terlalu serius menanggapinya. Tapi jangan juga menganggap enteng. Karena dalam persoalan corona ini, saya yakin kesadaran masyarakat adalah koentji. Pemerintah, apalagi yang payah, hanya jadi gantungan kuncinya saja.

*) Penulis adalah pemimpin redaksi selasar.co

 

Berita Lainnya