Utama

koni kaltim berita kaltim berita olahraga kaltim 

KONI Kaltim Dorong Porprov Digelar Dua Tahun Sekali, Balikpapan Siap Jadi Tuan Rumah



Ketua Umum KONI Kaltim Anderiy saat kunjungan ke Kantor KONI Balikpapan, Jalan Telaga Sari. Foto: Selasar/Ist
Ketua Umum KONI Kaltim Anderiy saat kunjungan ke Kantor KONI Balikpapan, Jalan Telaga Sari. Foto: Selasar/Ist

SELASAR.CO, Samarinda - Pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur menjadi salah satu pembahasan utama dalam kunjungan Ketua Umum KONI Kaltim, Anderiy ke Kantor KONI Balikpapan, Jalan Telaga Sari, Selasa (25/8/2026).

Pertemuan tersebut tidak hanya membahas kesiapan Balikpapan menghadapi Porprov Kaltim 2026 di Kabupaten Paser, tetapi juga menyoroti jumlah cabang olahraga yang akan dipertandingkan serta wacana perubahan pola pelaksanaan Porprov menjadi dua tahun sekali.

Anderiy bersama Sekretaris KONI Kaltim Abdul Muis dan Bendahara Umum Siti Astridya diterima Ketua KONI Balikpapan Gasali beserta jajaran pengurus. Salah satu isu yang mengemuka ialah kesiapan anggaran Balikpapan untuk mengikuti Porprov 2026.

KONI Balikpapan disebut telah menyiapkan anggaran sekitar Rp12 miliar untuk mendukung kontingen mereka. Anderiy menilai langkah tersebut menunjukkan keseriusan Balikpapan di tengah kondisi fiskal sejumlah daerah yang masih menjadi pertimbangan untuk mengikuti Porprov.

“Saya mengapresiasi KONI dan Dispora Balikpapan yang sudah mengusulkan anggaran untuk kontingennya, di saat beberapa kabupaten kota lainnya masih ragu untuk ikut serta dalam Porprov nanti karena kondisi fiskal daerahnya,” ujar Anderiy yang biasa disapa Haji Andre.

Namun, persoalan lain muncul terkait jumlah cabang olahraga yang akan dipertandingkan. Gasali menyampaikan pihaknya memperoleh informasi bahwa tidak seluruh 64 cabor yang telah mengikuti babak kualifikasi akan dipertandingkan pada Porprov 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi merugikan atlet yang telah menjalani proses kualifikasi dan mempersiapkan diri untuk tampil di ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.

“Saya mendapat info cabor yang dipertandingkan nanti ada kemungkinan kurang dari 64. Kalau begitu kasihan atlet yang sudah berjuang di babak kualifikasi,” kata Gasali.

Ia meminta KONI Kaltim memperjuangkan agar seluruh cabor yang telah melalui babak kualifikasi tetap mendapat ruang untuk bertanding. Jika harus dilakukan penyesuaian, Gasali menilai pengurangan nomor pertandingan lebih baik dibandingkan menghilangkan cabang olahraga secara keseluruhan.

“Jangan sampai perjuangan atlet yang sudah berjuang mati-matian di babak kualifikasi menjadi sia-sia,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Anderiy mengatakan usulan agar 64 cabor tetap dipertandingkan sebenarnya telah disampaikan KONI Kaltim sejak awal. Namun, persoalan kemampuan anggaran daerah menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam menentukan pelaksanaan Porprov.

“Sebenarnya masukan ini sudah kita sampaikan jauh-jauh hari, tapi melihat kondisi anggaran pelaksanaan, kita juga harus bijak menyikapi kondisi yang dirasakan oleh provinsi lain,” jelasnya.

Ia menyebut persoalan anggaran tidak hanya dirasakan kabupaten dan kota di Kaltim, tetapi juga menjadi tantangan di sejumlah daerah lain di Indonesia. Bahkan, berdasarkan informasi dari Dispora Kaltim, terdapat sejumlah provinsi yang harus menunda pelaksanaan Porprov akibat keterbatasan anggaran.

“Kita wajib bersyukur di Kaltim masih bisa terlaksana akhir tahun nanti,” ujarnya.

Masukan KONI Balikpapan terkait 64 cabor, kata Anderiy, akan kembali dibahas bersama Panitia Besar (PB) Porprov dalam rapat yang dijadwalkan berlangsung Rabu.

Selain persoalan cabor, pertemuan tersebut juga membahas gagasan perubahan pola penyelenggaraan Porprov menjadi dua tahun sekali.

Gasali menyatakan dukungannya terhadap wacana tersebut. Menurutnya, penyelenggaraan yang lebih rutin dapat menjaga kesinambungan pembinaan sekaligus memberi ruang lebih besar bagi atlet daerah untuk berkembang.

KONI Balikpapan bahkan membuka peluang untuk kembali mengajukan diri sebagai tuan rumah Porprov mendatang dengan mempertimbangkan fasilitas olahraga yang telah tersedia.

Anderiy mengatakan konsep Porprov dua tahunan dapat menjadi salah satu cara untuk menekan biaya penyelenggaraan sekaligus mempercepat regenerasi atlet. Ia mengusulkan agar pelaksanaannya dapat dilakukan secara bergantian atau serentak di dua kota yang berdekatan dan memiliki fasilitas olahraga memadai.

“Porprov dua tahun sekali bisa jadi lebih hemat karena diselenggarakan di dua kota sekaligus, dan olahraga daerah terpacu. Para atlet muda akan semakin berlatih keras, dan akan banyak lahir atlet-atlet potensial,” katanya.

Menurut Anderiy, pola tersebut juga memungkinkan pembinaan atlet berjalan lebih konsisten sehingga regenerasi tidak terputus. Namun, keputusan akhir terkait perubahan pola pelaksanaan Porprov tetap membutuhkan persetujuan pemerintah provinsi.

“Kami mohon dukungannya karena usulan program ini akan dibawa ke Gubernur, yang mempunyai keputusan terkait pelaksanaan Porprov,” pungkasnya.

Di sisi lain, Anderiy mengingatkan KONI Balikpapan agar tetap menjaga transparansi serta tertib administrasi dalam pengelolaan dana hibah. Ia juga mengapresiasi keterlibatan pihak ketiga yang digandeng KONI Balikpapan dalam mendukung pembinaan atlet muda di Kota Balikpapan.

Penulis: Redaksi Selasar
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya