Ragam
DLH Bulungan Program Adiwiyata Sekolah Kelola Sampah 
DLH Bulungan Dorong Sekolah Kelola Sampah dari Sumber Lewat Program Adiwiyata
SELASAR.CO, Bulungan – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bulungan mendorong sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi lingkungan yang aktif dalam pengelolaan sampah.
Upaya tersebut dilakukan melalui Sosialisasi Sekolah Adiwiyata dan Penggunaan Aplikasi SIDIA bagi satuan pendidikan tingkat SD dan SMP yang digelar selama tiga hari, 26-28 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut diikuti puluhan sekolah secara luring maupun daring melalui Zoom Meeting. Salah satu materi yang ditekankan adalah pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumber, termasuk di lingkungan sekolah.
Plt Sekretaris DLH Bulungan, Indah Sriwati, mengatakan program Adiwiyata diarahkan untuk membentuk sekolah yang peduli dan memiliki budaya lingkungan hidup.
Berita Terkait
“Tujuan sekolah Adiwiyata ini memang membentuk sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup di sekolahnya. Jadi sekolah ini juga terlibat dalam pengolahan sampahnya,” ujar Indah.
Menurutnya, kebiasaan memilah sampah perlu diterapkan oleh seluruh warga sekolah, baik peserta didik maupun guru. Sampah organik dan anorganik harus dipisahkan sejak awal agar lebih mudah dikelola.
Untuk sampah anorganik seperti botol plastik, kardus dan kertas yang masih memiliki nilai ekonomi, sekolah dapat menyalurkannya ke bank sampah.
“Untuk anorganik, untuk yang sampah botol plastik bekas, kardus, kertas, ini bisa dibuang ke bank sampah induk. Induk kami yang dekat di Jalan Rambutan,” jelasnya.
Sementara sampah organik, seperti sisa makanan dan material mudah terurai lainnya, diharapkan dapat dikelola langsung oleh sekolah. Salah satu alternatifnya dengan mengolah sampah tersebut menjadi kompos.
“Untuk organik kalau bisa dikelola di sekolah itu sendiri, jadi nggak dibuang ke TPS,” katanya.
Selain itu, sampah botol plastik juga dapat dimanfaatkan menjadi ecobrick. Pengolahan tersebut dinilai tidak hanya mengurangi sampah yang masuk ke tempat pembuangan sementara (TPS), tetapi juga dapat menjadi media pembelajaran bagi siswa mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Indah mengatakan pengelolaan sampah organik juga perlu mendapat perhatian. Sebab, sampah organik masih menjadi salah satu penyumbang timbulan sampah dalam jumlah besar.
“Selain plastik, nilai tertinggi se-Indonesia itu sampah organik, yang seharusnya tidak dibuang juga ke TPS,” ungkapnya.
DLH Bulungan berharap keterlibatan sekolah dalam program Adiwiyata dapat membantu mengurangi timbulan dan volume sampah di daerah tersebut. Kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak sekolah diharapkan dapat terbawa ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Harapannya dengan terlibatnya sekolah ini, ini juga akan membantu mengurangi timbulan sampah yang ada di Kabupaten Bulungan,” tuturnya.
Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung target pengurangan sampah hingga 2029. Namun, DLH Bulungan mengakui target menuju kondisi zero waste masih menjadi tantangan.
“Paling tidak kita mengejar target 2029. Kalau pun tidak tercapai, paling tidak penurunannya signifikan. Karena susah kalau mengejar zero waste,” pungkasnya. (**)
Penulis: Redaksi Selasar
Editor: Awan

