Utama

Jalan longsor tanah longsor Longsor Samarinda seberang Tanah longsor di samarinda Seberang Jembatan mahkota II 

Isran Sebut Longsor di Samarinda Seberang-Palaran akibat Pengupasan Lahan



Isran Sebut Longsor di Samarinda Seberang-Palaran akibat Pengupasan Lahan
Gubernur Kaltim, Isran Noor.

SELASAR.CO, Samarinda – Longsor kembali terjadi di Jalan Trikora, yang merupakan jalur penghubung utama antara Kecamatan Samarinda Seberang dan Palaran. Longsoran tanah di kawasan itu terjadi lagi usai hujan deras pada Rabu, 13 Januari 2021.

Kemacetan panjang pun terpantau sempat terjadi di kawasan itu, karena ruas jalan yang menyempit akibat tertutup material longsor. Kejadian di kawasan itu bukan kali pertama. Sebelumnya, longsor pernah terjadi pada 3 September 2020. Kemudian, sehari setelah Dinas PUPR PERA Kaltim menyelesaikan pembukaan satu jalur jalan, longsor kembali terjadi pada 9 September 2020.

Gubernur Kaltim, Isran Noor, menuturkan bahwa kawasan tersebut memang rawan terjadi longsor. Hal ini karena adanya aktivitas pengupasan lahan. “Jadi itu memang posisinya kan rawan. Di bawahnya itu ada batu-batu gunung. Kalau di bagian atasnya itu terkupas karena ada kegiatan, (longsor) pasti terjadi,” ujar Isran, Senin (18/1/2021).

Meski begitu saat ditanya lebih lanjut terkait aktivitas apa yang ia maksud, dirinya enggan merinci. Namun dikatakan Isran, hingga saat ini proses pengerukan telah berjalan. Namun pengerukan tidak bisa dilakukan sekaligus. 

“Tidak sekaligus karena kalau dikeruk habis itu bisa berbahaya. Alat berat yang mengeruk bisa terkena longsoran,” tuturnya.

Dihubungi terpisah, Kepala UPTD Pemeliharaan Infrastruktur Wilayah II Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR PERA) Kaltim, Joniansyah, menyebutkan saat ini satu jalur jalan telah bisa dilalui kendaraan roda dua.

“Mulai kemarin kendaraan roda dua sudah bisa melalui jalan tersebut. Karena satu jalur sudah kami buka. Hanya memang ada sedikit beton yang patah, itu kami mau benahi dulu dengan agregat. Tapi kalau dilewati kendaraan bergantian masih bisa,” jelasnya.

Dari pantauan di lapangan hingga saat ini, air dari bagian atas tebing masih mengalir, pergerakan tanah pun masih terus terjadi. “Kendala masih sama yaitu cuaca. Kalau cerah terus mudah-mudahan bisa cepat pengerjaanya, karena kalau tanah basah sulit kami bekerja,” tuturnya.

Dirinya pun masih belum bisa memberikan estimasi kapan pengerjaan pengerukan bisa tuntas. Namun berkaca pada pengerukan longsor sebelumnya, pengerjaan bisa memakan waktu sampai 2 minggu karena volume tanah cukup besar. Meski begitu pihaknya akan mengupayakan pengerjaan bisa selesai dalam 1 minggu ke depan.

Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Awan

Berita Lainnya