Utama

Ketua Komisi III DPRD Samarinda DPRD samarinda berita samarinda 

Sidak Progres Pembangunan Retensi, Deni: Kalau Tidak Terkoneksi, Jadi Genangan Lagi



Kolam Retensi Bengkuring saat disidak Komisi III DPRD Samarinda. (selasar/ist)
Kolam Retensi Bengkuring saat disidak Komisi III DPRD Samarinda. (selasar/ist)

SELASAR.CO, Samarinda — Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Anwar Hakim, melakukan inspeksi mendadak (sidak) progres pembangunan kolam retensi di kawasan Sempaja dan Bengkuring. Ia menegaskan, pembangunan fisik semata tidak cukup jika tidak dibarengi konektivitas sistem drainase dan pengendali banjir yang terintegrasi.

Di kawasan Sempaja Lestari Indah (SLI) di Jalan Wahid Hasyim II, kolam retensi seluas 2,6 hektare telah rampung bersama pintu airnya. Dengan kedalaman sekitar 2 hingga 2,5 meter, daya tampungnya diperkirakan mencapai 52 hingga 55 ribu meter kubik. Namun, Deni memberi catatan pada penyambungan drainase dari pintu air menuju saluran di Gang Ahim yang belum optimal.

Menurutnya, terdapat titik penyempitan (bottleneck) di Gang Ahim menuju Simpang Empat Sempaja yang menjadi pertemuan aliran dari sejumlah kawasan. Jika kapasitas tidak sesuai dengan debit air, limpasan berpotensi kembali ke permukiman.

“Kalau tidak terkoneksi dengan baik, air akan kembali dan jadi genangan lagi. Ini tidak menyelesaikan masalah,” tegasnya.

Dari Sempaja, rombongan Komisi III bergeser ke Bengkuring. Di kawasan ini, Pemkot membangun kolam retensi tahap 2025 dengan luas sekitar 16 hektare dan estimasi daya tampung sekitar 320 ribu meter kubik.

Namun, persoalan di Bengkuring disebut lebih kompleks. Deni menyoroti belum tuntasnya pembangunan tanggul di sepanjang aliran Sungai Karang Mumus. Masih terdapat sekitar dua kilometer tanggul menuju kawasan Betapus yang belum terealisasi.

“Saya sudah mungkin ketiga kalinya datang ke sana. Selama tanggul itu belum selesai, limpasan Sungai Karang Mumus akan terus masuk ke perumahan Bengkuring. Itu sebabnya banjir di sana bisa cukup dalam dan lama,” ujarnya.

Komisi III akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk memastikan kelanjutan pembangunan tanggul tersebut. Tanpa penyelesaian tanggul, kolam retensi dinilai belum mampu sepenuhnya melindungi permukiman warga dari limpasan sungai.

Selain itu, Deni juga memberi catatan teknis agar akses menuju tanggul tidak menjadi genangan baru. Menurutnya, tanggul harus lebih tinggi dari muka air. Sebab, bila air masih dapat melimpas, fungsi tanggul otomatis tidak efektif. Pembersihan gulma dan pengendalian sedimentasi di kolam retensi Sempaja maupun Bengkuring juga diminta segera dilakukan agar kapasitas tampung tetap optimal.

Deni menegaskan bahwa seluruh proyek pengendalian banjir harus berjalan dalam satu desain induk yang jelas dan terukur.

“Yang kita inginkan ini bukan proyek yang berdiri sendiri-sendiri. Harus ada blueprint besar pengendalian banjir Samarinda. Drainase, kolam retensi, tanggul, sampai pompa itu harus terkoneksi. Kalau tidak, setiap hujan deras kita akan bicara soal genangan lagi,” pungkasnya.

Penulis: Juliansyah
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya