Utama

berita pln pln samarinda PLN Kalimantan 

Gandeng Damkar Samarinda, PLN UPP KLT 3 Gembleng Pegawai Hadapi Simulasi Kebakaran



Petugas keamanan PLN UPP KLT 3 mempraktikkan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Foto: Ist
Petugas keamanan PLN UPP KLT 3 mempraktikkan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Foto: Ist

SELASAR.CO, Samarinda - PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Proyek Kalimantan Bagian Timur 3 (UPP KLT 3) menggelar pelatihan penanggulangan kebakaran dan simulasi tanggap darurat di halaman Kantor PLN UPP KLT 3, Senin (25/5/2026). Kegiatan yang menggandeng Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Samarinda ini bertujuan mengasah kesiapan personel di lingkungan proyek kelistrikan saat menghadapi situasi kritis.

Pelatihan berkala ini difokuskan untuk membekali para pegawai dan karyawan agar tidak panik serta memahami prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara aplikatif ketika mendeteksi potensi titik api di area kerja.

Manager PLN UPP KLT 3, Junaedi, menjelaskan bahwa agenda ini diinisiasi oleh bidang K3L perusahaan sebagai instrumen penguatan proteksi internal di lingkungan kerja. Menurutnya, respons yang tenang merupakan kunci utama dalam meminimalisasi dampak kerugian akibat kebakaran.

“Saat kebakaran terjadi, kepanikan sering menjadi tantangan pertama. Melalui latihan ini, pegawai belajar apa yang harus dilakukan, siapa yang harus dihubungi, dan bagaimana menyelamatkan diri maupun orang di sekitar dengan aman,” jelas Junaedi.

Dalam simulasi tersebut, para peserta diberikan pembekalan materi mengenai teori segitiga api atau sumber pemicu kebakaran, langkah preventif, hingga pengenalan fungsi spesifik Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Peserta juga diwajibkan melakukan praktik pemadaman api secara langsung di lapangan dan mengikuti simulasi alur evakuasi darurat gedung yang terstruktur.

Dihubungi terpisah, General Manager PLN UIP KLT, Basuki Widodo, menggarisbawahi bahwa disiplin K3 mutlak diterapkan tanpa kompromi, terlebih pada sektor pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang memiliki risiko kerja tinggi.

“Keselamatan harus menjadi kebiasaan dalam bekerja, bukan hanya dipahami saat ada pelatihan. Karena itu, kami ingin setiap pegawai memiliki pemahaman dan keberanian untuk mengambil langkah yang benar sesuai dengan Standar Operasional Prosedur ketika menghadapi situasi darurat,” tegas Basuki.

Basuki menambahkan, penguasaan mitigasi risiko sejak dini ini diharapkan mampu menekan potensi kecelakaan kerja ke level terendah, sehingga target pembangunan kelistrikan di wilayah Kalimantan Timur dapat tercapai secara aman dan nihil insiden (zero accident).

Penulis: Boy
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya