Utama
Karhutla Kaltim pantauan karhutla 
El Nino Sangat Kuat, Kaltim Hadapi Puncak Kemarau dan Karhutla
SELASAR.CO, Samarinda - Kalimantan Timur tengah menghadapi periode puncak musim kemarau yang berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino berkekuatan sangat kuat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, mengatakan Agustus menjadi salah satu periode paling kering bagi wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur. Kondisi itu diperparah dengan fenomena El Nino yang saat ini menunjukkan indeks ENSO mencapai 2,9.
“Artinya El Nino-nya sangat kuat,” kata Budi saat ditemui di Samarinda, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, kekuatan El Nino saat ini bahkan lebih tinggi dibandingkan fenomena serupa pada 2015 yang saat itu turut memicu kejadian kebakaran hutan dan lahan dalam skala besar.
Berita Terkait
Budi menyebut fenomena El Nino diprediksi masih berlangsung hingga awal 2027. Namun, dampaknya diperkirakan mulai berkurang ketika Kaltim memasuki periode transisi menuju musim hujan pada Oktober-November.
“Meski masih dalam kondisi El Nino, dampaknya tidak akan terasa seperti saat puncak musim kemarau sekarang,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan dan karhutla, operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan di sejumlah wilayah Kaltim. Budi menjelaskan OMC bukan bertujuan menciptakan hujan secara langsung, melainkan mengoptimalkan potensi awan yang sudah tersedia.
Menurut dia, penyemaian awan hanya dapat dilakukan ketika kondisi atmosfer mendukung, seperti kelembapan dan ketinggian awan yang memadai. Dengan penyemaian tersebut, proses terbentuknya hujan dapat dipercepat sekaligus memperluas cakupan wilayah yang mendapatkan hujan.
“Modifikasi cuaca ini bukan membuat hujan, tapi kita cuma mengoptimalkan potensi awan yang tersedia,” jelasnya.
Saat ini, terdapat dua pelaksanaan OMC di Kalimantan Timur. Operasi pertama dilakukan di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), menyusul kondisi Waduk Sepaku yang mengalami defisit air.
OMC di wilayah IKN telah dimulai sejak 22 Agustus 2026. Hasilnya, hujan mulai turun di wilayah IKN dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir.
Selain IKN, OMC juga mulai dilakukan di Kabupaten Berau pada 24 Agustus 2026. Operasi tersebut dilakukan setelah adanya permintaan dari Bupati Berau kepada Kepala BNPB dan Kepala BMKG.
Berau menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena tingginya potensi karhutla. Titik panas di wilayah tersebut disebut menjadi salah satu yang paling menonjol di Kalimantan Timur.
Budi mengatakan cakupan OMC masih dapat diperluas apabila kondisi di wilayah lain menunjukkan tingkat kerawanan yang serupa.
“Kalau memang daerah-daerah lain juga separah Berau, ada kemungkinan nanti akan kita perluas,” pungkasnya.
Penulis: Boy
Editor: Yoghy Irfan

