Feature

PLN Listrik Negara Loa Ipuh Darat Kampung Tertua di Kutai Kartanegara  Dusun Bensamar 

Setelah Listrik Negara Masuk ke Kampung Tertua di Kutai Kartanegara



Setelah Listrik Negara Masuk ke Kampung Tertua di Kutai Kartanegara
Suasana dusun Bensamar.

Jaraknya hanya sekitar 12 kilometer dari Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Namun, kampung tertua di Kukar berusia 4 abad ini, baru menikmati listrik negara selama dua warsa.

Oleh: Achmad Ridwan

 

CUACA di luar membakar kulit. Pria tua itu masih bertelanjang dada, baru saja kembali dari kebun. Buru-buru ia mengenakan kaos saat menyambut SELASAR. Semain, menyilakan tamu duduk lesehan di rumah kayunya, karena memang tak ada kursi, apalagi sofa. Rumah itu hampir tanpa sekat. Kecuali bagian kamar. Dari ruang depan yang digunakan untuk berjualan kelontong, ruang tamu hingga dapurnya bisa terlihat jelas.

“Aku ini dari tahun 1618 sudah ada di sini, mulai zaman nenek moyangku dulu,” kata Semain, setengah berkelakar.

Dia menegaskan, Bensamar, yang secara administratif disebut dusun, adalah kampung tertua di Kutai Kartanegara. Usia perkampungan itu sudah 403 tahun. Berada di wilayah Kelurahan Loa Ipuh Darat, terdiri dari dua rukun tetangga (RT), yakni RT 07 dan RT 08, dengan total penduduk sekitar 300 jiwa. Warga dusun Bensamar sebagian besar beretnis Kutai, sama seperti Semain dan nenek moyangnya. Belakangan datang para pendatang dari Jawa dan Sulawesi.

“Dari awal kami di sini pakai pelita (penerangan berbahan bakar minyak) aja, mulai nenek moyang kami. Kemudian tahun 1988, perusahaan batu bara PT Tanito Harum kasih bantuan kepada masyarakat berupa mesin genset,” tutur Kepala Lembaga Adat Kelurahan Loa Ipuh Darat, sambil menikmati sepoi-sepoi dari kipas angin duduknya.

Tiga unit genset bantuan Tanito Harum pada masa itu, hanya digunakan untuk penerangan malam hari. Jam operasionalnya pukul 18.00 hingga 24.00 Wita. Menikmati kipas angin usai berkebun siang hari adalah salah satu kemewahan yang didapat Semain setelah listrik masuk ke dusun Bensamar.

Sekujur umur tidak menerima fasilitas listrik dari negara, kini Semain mengaku bersyukur. “Jadi sedikit demi sedikit ada hak (Kutai: saja) kemajuannya karena ada listrik dari PLN ini. Kami sangat senang ada listrik ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah,” ujar ayah dua putri.

Semain bercerita, dulu warga Bensamar banyak yang bekerja di sektor pertambangan. Setelah Tanito Harum tidak diperpanjang kontrak karyanya oleh pemerintah pusat pada 2019, banyak yang kembali berkebun seperti orang-orang terdahulu.

Rata-rata warga memiliki kebun yang ditanami aneka rupa tanaman. Dari padi, pisang, singkong, hingga macam-macam tanaman palawija. Hasil kebun mereka, selain dikonsumsi sendiri, juga dijual kepada pengepul dari Tenggarong yang siap menjemput komoditas itu ke Bensamar.

Aktivitas bercocok tanam juga dilakukan Mariyani Astuti, ibu rumah tangga berusia 37 tahun. Ia membantu suaminya yang tidak lagi bekerja di tambang. Setiap hari Mariyani ikut memeras keringat di lahannya yang ditanami padi. Selain itu, ia juga membuka usaha menjual aneka minuman dingin di depan rumah. Kehadiran listrik negara, sedikit banyak meringankan pekerjaan Mariyani.

“Banyak sekali kemudahannya, pertama usahanya enak, nggak jauh-jauh beli es batu. Cucian (mencuci pakaian) juga nggak capek lagi karena pakai mesin. Kalau dulu, pulang kebun masih harus cucian,” kata perempuan yang menjabat bendahara RT 08.

Sebelum listrik negara masuk, Mariyani harus keluar kampung berkilo-kilometer hanya untuk mendapatkan es batu. Kini, sudah ada warga Bensamar yang memiliki kulkas untuk membuat es batu yang ia butuhkan.

Asnawi, Ketua RT 08 Loa Ipuh Darat, menyampaikan hal senada. Selain memudahkan usaha, dia menambahkan, kehadiran listrik negara juga memperlancar komunikasi. “Kalau ada listrik ini lancar, charger (mengisi ulang baterai) HP lebih enak,” katanya. Tidak harus menunggu malam.

Meski biaya yang dikeluarkan per bulan lebih besar, namun sepadan dengan manfaat yang didapat. Dulu warga melakukan iuran sekitar Rp35 ribu per bulan per kepala keluarga untuk membantu pembelian solar genset. Sekarang dengan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN), biayanya bisa lebih dari Rp100 ribu per bulan, bergantung tingkat pemakaian.

Asnawi mengatakan, permohonan pengajuan jaringan listrik sudah diupayakan sejak 2011. Namun, baru terealisasi 2019 lalu. “Bersyukur aja listrik sudah masuk. Sebelumnya kami menderita batin. Artinya cukup kami yang merasakan, jangan sampai anak cucu kami nanti. Saya 25 tahun di sini, baru merasakan listrik 2 tahun ini,” ujar Asnawi.

Efek lain dari kehadiran listrik negara di dusun Bensamar, kata Asnawi, adalah makin banyaknya pendatang untuk tinggal maupun membuka usaha. Salah satunya Erwin Junaidi. Pria yang akrab disapa Haji Erwin ini memiliki lahan seluas 2,5 hektare di Bensamar yang disulap menjadi objek wisata bernama Kembang Jaong, setelah listrik negara mengalir ke dusun itu.

Masuknya listrik PLN, menurut Erwin, sangat membantu perkembangan perekonomian masyarakat. Kembang Jaong dibuka pada Desember 2019. Sebelum pandemi Covid-19 menyerang pada Februari 2020, tingkat kunjungannya bisa ratusan orang saat akhir pekan.

“Kami mengusung tema rekreasi dan edukasi, dengan pendekatan agrowisata dan budaya. Oleh sebab itu, di sini pengunjung mau memasak sendiri menggunakan tungku tradisional diperbolehkan. Pada dasarnya kita siapkan fasilitas yang pendekatannya kepada alam. Ada gazebo untuk beristirahat, spot foto, kolam pemancingan,ada tempat bermain anak-anak, ada juga kuliner dari masyarakat,” terang Erwin.

Pendatang asal Tenggarong yang sudah lama memiliki tanah di Bensamar ini mengatakan, objek wisata yang dibukanya juga memberdayakan warga sekitar. “Pedagang di sini (areal Kembang Jaong) semuanya masyarakat Bensamar. Itu sudah komitmen kami dari awal untuk memberdayakan mereka yang ingin mencari nafkah di dalam kegiatan wisata ini,” jelasnya.

Erwin sebetulnya agak menyayangkan mengapa listrik baru dua tahun belakangan masuk ke Bensamar. “PLN seharusnya sudah lama masuk, dari Maluhu itu sekitar 3,5 kilometer ke sini. Maluhu itu kan 10 tahun lalu sudah ada listriknya,” ungkap Erwin. Kelurahan Maluhu adalah salah satu jiran Loa Ipuh Darat.

Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Tenggarong, Suwarno, mengatakan, ketika itu dirinya belum menjabat di Tenggarong. Namun, dia menjelaskan, biasanya yang menjadi pertimbangan adalah akses dan jumlah penduduk/calon pelanggan. Jalan di Bensamar baru dibeton pada 2014 lalu. Kiranya hal itu bisa menjadi jawaban mengapa listrik negara baru menerangi dusun tertua tersebut.

Perluasan jaringan terbaru dalam dua tahun terakhir, kata Suwarno, dilakukan di tiga dusun. Yakni, Dusun Bensamar di Kelurahan Loa Ipuh Darat pada Desember 2019, serta Dusun Bengkinang dan Dusun Batu Dinding di Kelurahan Loa Tebu pada Desember 2020.

Suwarno menjelaskan, saat ini di wilayah kerjanya, yakni 77 desa/kelurahan di 5 kecamatan, hanya 5 desa yang belum menikmati listrik PLN. “Jumlah pelanggan PLN Tenggarong saat ini 41.182,” katanya, Senin (22/2/2021).

Lima kecamatan di bawah ULP Tenggarong itu adalah Kecamatan Loa Kulu, Tenggarong, Sebulu, Muara Kaman, dan Tenggarong Seberang. Suwarno menyebut hanya 5 desa yang belum menikmati jaringan listrik negara, yakni Desa Tunjungan, Menamang Kiri, Menamang Kanan, Kupang Baru, dan Liang Buaya. Semuanya berada di Kecamatan Muara Kaman.

“Kami berharap dapat melayani wilayah terpencil yang bisa terjangkau (jaringan) existing PLN, dengan pelayanan maksimal, dan berharap mereka puas dengan apa yang kami berikan,” kata Suwarno. (SELASAR.CO)

Berita Lainnya