Utama

Pengobatan Kanker  Nuklir untuk Pengobatan Kanker  Pengobatan Kanker di Samarinda  Rumah Sakit Pengobatan Kanker  RSUD AWS Kedokteran Nuklir 

Menengok Pemanfaatan Nuklir untuk Diagnosis dan Pengobatan Kanker di RSUD AWS



Kepala Instalasi Kedokteran Nuklir, dr. Habusari Hapkido, Sp. KN
Kepala Instalasi Kedokteran Nuklir, dr. Habusari Hapkido, Sp. KN

SELASAR.CO, Samarinda - Rumah Sakit Umum Daerah A. Wahab Sjahranie (RSUD AWS) Samarinda menjadi salah satu rumah sakit yang memberikan pelayanan kedokteran nuklir di luar Pulau Jawa. Bahkan RSUD AWS Samarinda diklaim menjadi rumah sakit kelima yang memiliki instalasi kedokteran nuklir lengkap dari tahap diagnosis hingga terapi (pengobatan) di Indonesia. 

Menurut Direktur RSUD AWS, dr. David Hariyadi Mashjoer, jumlah dokter ahli kedokteran nuklir di Indonesia masih sangat terbatas, bahkan baru mencapai 50 orang. Oleh karena itu, penyediaan pelayanan kedokteran nuklir di RSUD AWS Samarinda memiliki peran penting dalam peningkatan aksesibilitas pengobatan bagi pasien di wilayah ini.

Dalam menjelaskan konsep kedokteran nuklir, dr. David Hariyadi Mashjoer menyebutkan bahwa teknologi ini menggunakan teknologi yang bisa memisahkan proton, elektron, dan neutron dalam suatu bahan kimia. Proses pemisahan ini kemudian digunakan dalam pengobatan dan penegakan diagnosis. Kedokteran nuklir memiliki peran penting dalam terapi dan diagnostik di RSUD AWS Samarinda.

“Salah satu pemanfaatan kedokteran nuklir di RSUD AWS Samarinda adalah dalam pengobatan kanker, terutama kanker tiroid atau kelenjar gondok,” ujar dr David. 

Ia menjelaskan bahwa terapi dengan menggunakan kedokteran nuklir dapat membantu dalam meminimalisir pertumbuhan sel kanker pada kelenjar gondok. Prosedur terapi ini melibatkan pemberian zat radioaktif kepada pasien, yang kemudian akan bekerja secara selektif untuk mematikan sel-sel tumor yang ada.

Namun, penggunaan zat radioaktif dalam terapi kedokteran nuklir juga memiliki risiko dan bahaya. Zat radioaktif berbahaya bagi pasien maupun lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, langkah-langkah pengamanan dilakukan di RSUD AWS Samarinda. Setelah pasien meminum zat radioaktif, mereka akan diisolasi dalam ruangan khusus selama 3 hari. Ruangan isolasi ini didesain sedemikian rupa agar tidak ada radiasi yang keluar dari ruangan tersebut. Sistem pembuangan toilet juga dibuat terpisah, dengan sepiteng yang memiliki ketebalan hingga 4 meter. Hal ini sesuai dengan persyaratan dari Badan Pemeriksaan Pengawas Tenaga Nuklir. Saat ini, RSUD AWS Samarinda memiliki 8 kamar isolasi yang seluruhnya terisi penuh oleh pasien.

Dr. David juga menyoroti pentingnya pembiayaan dalam pelayanan kedokteran nuklir di RSUD AWS Samarinda. Menurutnya, semua biaya pengobatan ini ditanggung oleh BPJS, yang memungkinkan pasien mendapatkan perawatan tanpa harus memikirkan biaya yang besar.

Dalam kaitannya dengan hasil pengobatan, dr. David menjelaskan bahwa hasilnya tidak hanya tergantung pada satu jenis terapi, tetapi tergantung pada empat modalitas pengobatan, yaitu radioterapi, kedokteran nuklir, kemoterapi, dan bedah. 

“Kita memang tidak bicara hasil tetapi prognosis atau bagaimana peluang pasien itu bisa bertahan,” tambahnya.

 

MELAYANI RIBUAN PASIEN

RSUD AWS Samarinda telah berhasil melayani ribuan pasien dengan pelayanan kedokteran nuklir sejak tahun 2022 hingga April 2023. Menurut data yang disampaikan oleh Kepala Instalasi Kedokteran Nuklir, dr. Habusari Hapkido, Sp. KN, terdapat 2.509 pasien yang menjalani prosedur diagnostik, sementara 545 pasien telah menjalani terapi menggunakan kedokteran nuklir.

Dalam penanganan diagnostik, RSUD AWS Samarinda menangani berbagai jenis penyakit, dengan lima jenis diagnostik yang paling banyak terjadi, antara lain kanker payudara, kanker kelenjar tiroid, kanker nasofaring, gondok, dan kanker servik. Hal ini menunjukkan pentingnya peran kedokteran nuklir dalam mendeteksi dan mendiagnosis penyakit-penyakit tersebut guna memberikan penanganan yang tepat kepada pasien.

Tidak hanya melayani pasien dari Samarinda, RSUD AWS juga melayani pasien dari beberapa daerah lainnya. Dr. Habusari menyebutkan bahwa daerah-daerah seperti Kukar, Balikpapan, Sulawesi Selatan, dan Kutim menjadi daerah terbanyak yang melakukan pengobatan di RSUD AWS Samarinda. Hal ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kedokteran nuklir yang disediakan oleh rumah sakit ini.

“Pasien yang pernah kami tangani itu di usia 10 tahun dan yang paling tua sekitar 80 tahun. 

Untuk diagnostik sendiri antriannya sangat panjang, di Bandung itu kabarnya bisa sampai 2 tahun untuk sampai dilakukan terapi,” ujar dr. Habuasari. 

Pasien yang ditangani oleh RSUD AWS Samarinda memiliki rentang usia yang luas. Mulai dari anak-anak berusia 10 tahun hingga orang dewasa berusia 80 tahun, RSUD AWS Samarinda mampu memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien dari berbagai kelompok usia.

Namun, dr. Habusari juga mengakui bahwa antrean untuk prosedur diagnostik cukup panjang di beberapa daerah. Disebutkan bahwa di beberapa kota seperti Bandung, Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta, antrean untuk prosedur diagnostik bisa mencapai waktu yang cukup lama. “Di Bandung bahkan bisa memakan waktu hingga 2 tahun untuk mendapatkan layanan terapi kedokteran nuklir. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak pasien dari luar daerah memilih RSUD AWS Samarinda sebagai tempat untuk mendapatkan perawatan, mengingat antrean di Samarinda sendiri hanya sebulan saja,” tambahnya. 

RSUD AWS Samarinda terus berkomitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada pasien melalui kedokteran nuklir. Dengan adanya fasilitas dan tenaga medis yang memadai, diharapkan pasien-pasien yang membutuhkan pengobatan dapat mendapatkan perawatan yang tepat dan berkualitas di RSUD AWS Samarinda.

Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Awan

Berita Lainnya