Kutai Timur

mbg kutim menu mbg kutim sppg kutim 

Ikan atau Ayam? SPPG APT Pranoto Kutim Blak-blakan Soal Tantangan Menu Gizi Sekolah



Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) APT Pranoto Kutai Timur (Kutim). (Foto: Selasar/Gunawan)
Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) APT Pranoto Kutai Timur (Kutim). (Foto: Selasar/Gunawan)

SELASAR.CO, Sangatta – Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) APT Pranoto Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat komitmennya dalam menjaga kualitas asupan nutrisi pelajar dengan melakukan evaluasi menu dan pengelolaan layanan gizi secara berkala. Langkah ini diambil guna memastikan standar gizi terpenuhi sekaligus menyesuaikan dengan selera konsumsi siswa di lapangan.

Kepala SPPG APT Pranoto Kutai Timur, Dinand, menjelaskan bahwa dalam menjalankan operasionalnya, pihaknya menjalin kolaborasi strategis dengan Koperasi Jasa Pemuda Kutim Hebat. Koperasi ini menaungi sejumlah kelompok tani dan UMKM lokal untuk menjamin ketersediaan bahan baku pangan yang segar dan berkualitas.

"Kerja sama dengan sektor lokal sangat penting untuk memastikan bahan baku yang kami olah tetap segar dan bergizi tinggi, sekaligus mendukung ekosistem ekonomi daerah," ujar Dinand dalam keterangannya di Sangatta.

Saat ini, SPPG APT Pranoto Kutai Timur mengelola distribusi makanan sebanyak kurang lebih 2.750 porsi setiap harinya. Layanan ini mencakup enam sekolah dan satu Posyandu di wilayah kerja mereka dengan komposisi menu yang dirancang beragam setiap harinya.

Meski demikian, Dinand mengakui bahwa menyelaraskan standar gizi dengan selera anak-anak menjadi tantangan tersendiri. Beberapa kendala teknis, seperti preferensi jenis protein tertentu, menjadi catatan evaluasi tim produksi dan ahli gizi.

"Kami menyadari layanan kami belum 100 persen sempurna. Ada masukan mengenai selera anak-anak, misalnya lebih memilih ayam dibanding ikan atau kurang menyukai telur. Hal-hal seperti ini langsung kami evaluasi bersama ahli gizi agar kualitas rasa meningkat tanpa mengurangi nilai nutrisinya," tambahnya.

Lebih lanjut, menurut Dinand, evaluasi yang dilakukan secara terus-menerus ini bertujuan agar para siswa tidak hanya mendapatkan makanan yang sehat, tetapi juga lezat untuk dinikmati.

"Harapannya, dengan asupan gizi yang optimal, konsentrasi dan kemampuan belajar siswa di sekolah dapat meningkat secara signifikan," pungkasnya.

Penulis: Bonar
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya