Utama

penyebab air pdam di samarinda keruh 

Endapan di Pipa Tua Jadi Penyebab Air Keruh di Samarinda, Pemkot Siapkan Pergantian Bertahap



Ketua Dewan Pengawas Perumdam Tirta Kencana, sekaligus Asisten I Pemkot Samarinda, Marnabas Patiroy. (Selasar/Hasyim Ilyas)
Ketua Dewan Pengawas Perumdam Tirta Kencana, sekaligus Asisten I Pemkot Samarinda, Marnabas Patiroy. (Selasar/Hasyim Ilyas)

SELASAR.CO, Samarinda – Pemerintah Kota Samarinda menegaskan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) wajib membuang air kotor langsung dari jaringan pipa usai proses pembersihan, agar tidak lagi mengalir ke rumah warga. Penegasan ini disampaikan menyusul masih maraknya keluhan masyarakat terkait air keruh.

Asisten II Pemkot Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan persoalan air keruh bukan sekadar insiden teknis, melainkan dipicu endapan yang menumpuk di jaringan pipa distribusi yang telah berusia puluhan tahun.

“Kalau kita lihat, sudah terjadi endapan-endapan di dalam pipa. Airnya bisa hitam lagi. Setiap ada pembersihan, memang harus dibuang dari pipanya, jangan sampai masuk ke rumah warga,” ujarnya, Rabu (4/1/2026) usai rapat hearing bersama Komisi II DPRD Samarinda.

Selama ini, Perumdam kerap menyampaikan pemberitahuan kepada masyarakat melalui RT agar membuang air sementara waktu saat proses flushing dilakukan. Namun, di lapangan masih ditemukan warga yang tidak mengetahui atau terlanjur menampung air, sehingga air keruh masuk ke penampungan rumah tangga.

“Kami sudah sampaikan lewat RT-RT, tapi tetap ada yang tidak mendengar atau lupa. Karena itu sekarang jangan lagi menunggu warga, air kotor harus langsung dibuang dari jaringan,” tegas Marnabas yang juga Ketua Dewan Pengawas Perumdam Tirta Kencana.

Ia menyebut jaringan pipa distribusi air di Samarinda sebagian besar telah berusia lebih dari 30 tahun dengan panjang mencapai sekitar 30 kilometer. Kondisi tersebut menyebabkan endapan mudah menempel dan kembali terbawa aliran ketika tekanan air meningkat.

“Kalau sebagian pipa sudah bersih tapi yang lain belum, begitu dorongannya kuat, kotoran yang menempel itu ikut keluar,” jelasnya.

Pemkot pun menyiapkan langkah jangka menengah dengan mengganti pipa secara bertahap. Setiap tahun ditargetkan sekitar lima kilometer pipa lama diganti, sehingga dalam enam tahun ke depan jaringan distribusi dapat diperbarui secara menyeluruh.

Namun demikian, Marnabas menegaskan persoalan kualitas air tidak hanya berhenti di jaringan pipa. Kualitas air baku juga menjadi perhatian serius. Pemkot tengah menyiapkan rencana pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru sebagai antisipasi krisis air baku, termasuk saat kemarau panjang ekstrem.

Penegasan terhadap Perumdam ini juga muncul di tengah kebijakan kenaikan tarif air secara bertahap hingga sembilan persen. Kondisi tersebut memicu pertanyaan publik terkait komitmen peningkatan kualitas layanan.

Langkah-langkah tersebut, lanjut Marnabas, sejalan dengan arahan Wali Kota Samarinda yang menargetkan pada 2029 seluruh masyarakat sudah terlayani air bersih dengan kualitas yang lebih baik serta layanan yang mengalir 24 jam tanpa gangguan.

“Kenaikan tarif tentu harus diimbangi dengan perbaikan kualitas. Ini yang menjadi perhatian kami,” pungkasnya.

Sementara itu, pihak Perumdam Tirta Kencana belum memberikan tanggapan resmi. Saat hendak dimintai keterangan usai hearing bersama Komisi II DPRD Samarinda, perwakilan Perumdam telah meninggalkan lokasi rapat.

Penulis: Hasyim Ilyas
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya