Bontang
Disdikbud Bontang 
SMPN 5 Bontang Kembangkan Plastik Ramah Lingkungan dari Singkong
SELASAR.CO, Bontang – SMP Negeri 5 Bontang mengembangkan inovasi plastik biodegradable berbahan dasar pati singkong sebagai bagian dari pembelajaran berbasis lingkungan di sekolah.
Program tersebut mendapat apresiasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang karena dinilai mampu menjadi sarana edukasi kontekstual bagi siswa terkait isu lingkungan dan pengurangan sampah plastik.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, mengatakan inovasi yang dijalankan sekolah dapat menjadi contoh positif bagi satuan pendidikan lain dalam mengembangkan program ramah lingkungan.
Menurutnya, pembelajaran semacam itu tidak hanya memberi pengetahuan teoritis, tetapi juga melatih kepedulian siswa terhadap persoalan lingkungan di sekitar mereka.
Berita Terkait
“Program seperti ini sangat baik untuk terus dikembangkan dan bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lainnya,” ujar Safa saat dikonfirmasi, Jumat (17/4/2026).
Sementara itu, Guru Pendamping SMP Negeri 5 Bontang, Ayu Fachtyanur, menjelaskan para siswa terlibat langsung dalam seluruh proses pembuatan plastik biodegradable dengan pendampingan guru.
Ia menerangkan, proses produksi diawali dengan mencampurkan pati singkong dan air yang dimasak hingga teksturnya berubah dari keruh menjadi bening. Setelah itu, larutan gliserin ditambahkan agar hasil plastik memiliki sifat elastis dan tidak mudah retak.
Adonan yang telah matang kemudian diratakan secara manual di atas cetakan datar seperti loyang untuk menentukan ketebalan dan kualitas permukaan plastik.
Tahap berikutnya dilakukan proses pengeringan menggunakan oven bersuhu stabil sekitar 60 derajat Celsius selama kurang lebih enam jam agar hasil yang diperoleh lebih optimal.
“Kalau menggunakan sinar matahari hasilnya kurang maksimal karena suhu tidak stabil dan bisa menyebabkan plastik pecah,” jelasnya.
Produk yang dihasilkan berupa plastik ramah lingkungan yang dapat digunakan sebagai pembungkus permen maupun kemasan sederhana lainnya.
Dalam proses percobaan, siswa menggunakan komposisi sekitar 20 gram pati singkong, 40 mililiter air, dan kurang lebih 10 mililiter gliserin yang terus diuji untuk mendapatkan kualitas terbaik.
Selain melatih keterampilan teknis siswa, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran mengenai dampak penggunaan plastik konvensional terhadap lingkungan.
Menurut Ayu, inovasi itu masih berpotensi dikembangkan lebih jauh, termasuk membuka peluang komersialisasi apabila kualitas produk terus ditingkatkan.
“Harapannya inovasi ini bisa menjadi salah satu solusi dalam mengurangi sampah plastik sekaligus memperkuat pendidikan lingkungan di sekolah,” tandasnya. (ADV-SLR-Disdikbud Bontang)
Penulis: Redaksi Selasar
Editor: Yoghy Irfan

