Utama
amri mauraga calon dirut bank kaltim Bank Kaltim bankaltim wawancara eksklusif amri mauraga Kaltim 
Diisukan Nepotisme, Calon Dirut Bankaltimtara Amri Mauraga: Saya Tak Punya Hubungan dengan Gubernur Kaltim
SELASAR.CO, Samarinda - Nama Amri Mauraga, mantan Direktur Utama BPD Sulselbar 2021-2022, menjadi sorotan dalam bursa calon Direktur Utama Bankaltimtara. Usai aksi demonstrasi 214 yang menyoroti dugaan nepotisme di Kalimantan Timur, Amri akhirnya angkat bicara untuk mengklarifikasi isu yang menyebut dirinya memiliki hubungan khusus dengan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud hanya karena berasal dari Sulawesi.
Amri menegaskan bahwa seluruh proses seleksi yang ia lalui, mulai dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) hingga Fit and Proper Test di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dilakukan secara profesional dan transparan bersama dengan calon lainnya, Romy Wijayanto mantan Direktur Keuangan dan Strategi Bank DKI 2021-2024.
Bantah Isu Nepotisme: Baru Bertemu Gubernur Lewat Zoom
Amri secara tegas membantah narasi yang menyebut pencalonannya sebagai bagian dari praktik dinasti. Ia menjelaskan bahwa secara aturan perbankan, dalam tes di OJK, seorang calon dirut tidak boleh memiliki hubungan kekeluargaan dengan Pemegang Saham Pengendali (PSP). Selain itu, juga tidak boleh memiliki hubungan dalam hal keuangan seperti kepemilikan bersama suatu perusahaan. Terakhir, juga tidak boleh memiliki hubungan di kepengurusan partai maupun organisasi.
Berita Terkait
"Lulusnya saya di OJK sebenarnya secara nyata menyatakan bahwa saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan pemegang saham pengendali. Narasi bahwa saya bagian dari nepotisme itu tidak sesuai kenyataan," tegas Amri.
Ia bahkan mengungkapkan fakta bahwa dirinya belum pernah bertatap muka langsung dengan Rudy Mas'ud.
"Saya bertemu Pak Gubernur pertama kali pun itu saat wawancara melalui Zoom pada 23 Desember 2025. Sebelumnya belum pernah ketemu, tidak punya hubungan apa pun," ucap pria yang memiliki dua anak itu.
Dampak Psikologis: Keluarga di Makassar "Kena Mental”
Klarifikasi ini terpaksa ia lakukan karena isu yang berkembang di Kaltim telah merambah hingga ke kampung halamannya di Makassar. Amri mengaku sangat terpukul melihat dampak psikologis yang dialami keluarganya, terutama anak-anaknya yang terus memantau komentar negatif netizen.
"Informasi ini sampai ke keluarga saya di Makassar. Anak saya memonitor terus informasi di Kaltim dan membaca komen netizen. Itu sangat memengaruhi mentalitas anak saya. Sebagai orang tua, saya perlu menjaga mereka dengan memberikan informasi yang benar," tuturnya dengan nada berat.
Integritas Tanpa Kompromi: Siap Mundur Jika Diintervensi
Rekam jejak Amri di dunia perbankan memang dikenal cukup berani. Ia pernah memutuskan mundur dari jabatan Dirut BPD Sulselbar demi menjaga integritas ketika menghadapi intervensi kredit yang tidak sesuai aturan. Prinsip ini pula yang akan ia bawa jika dipercaya memimpin Bankaltimtara.
Bagi Amri, lebih baik kehilangan jabatan daripada harus berurusan dengan sanksi OJK yang bisa mematikan kariernya secara permanen di industri keuangan.
"Prinsip di perbankan itu, lebih baik dipecat oleh pemegang saham daripada dipecat oleh OJK. Kalau OJK yang memecat, kita tidak bisa lagi berkarier di mana pun. Karier yang dibangun puluhan tahun jangan rusak hanya karena takut kehilangan jabatan," tegasnya.
Amri menegaskan, jika nantinya ia terpilih dan dihadapkan pada intervensi negatif yang merusak institusi, ia tidak akan segan untuk kembali mengambil langkah ekstrem. "Jika komunikasi dampak risiko sudah dilakukan namun tetap tidak diindahkan, maka jalan satu-satunya adalah mengundurkan diri," pungkasnya.
Diketahui, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) luar biasa terjadwal pada Kamis (23/4/2026) hari ini. Di situ akan diputuskan siapa yang menjadi suksesor Dirut Bankaltimtara.
Penulis: Boy
Editor: Yoghy Irfan

