Utama

RSUD AWS Samarinda pasien operasi jantung di rsud aws kawat tertinggal di arteri utama jantung kawat di jantung 

Kawat Tertinggal Pasca Operasi Jantung, Keluarga Somasi RSUD AWS Samarinda



Kawat (wire) yang tertinggal di LAD jantung dan kondisi pasien pasca operasi di RSUD AWS Samarinda.
Kawat (wire) yang tertinggal di LAD jantung dan kondisi pasien pasca operasi di RSUD AWS Samarinda.

SELASAR.CO, Samarinda - Pagi itu, DW melangkah membawa map merah di tangan. Di dalamnya tersimpan somasi, sebuah tuntutan keadilan bagi sang ayah, EW, yang belum lama keluar dari meja operasi RSUD AWS Samarinda.

RSUD AWS Samarinda dikenal sebagai rumah sakit rujukan utama di Kaltim. Akreditasi paripurna yang disandangnya menjadi simbol kepercayaan masyarakat. Namun, kepercayaan keluarga DW terhadap rumah sakit berakreditasi A di Kalimantan Timur ini runtuh. Dokter di Singapura, tempat sang ayah kini dirawat, mengungkapkan hal-hal yang membuat keluarga menduga adanya malapraktik. Amarah bercampur tanya memenuhi benak DW dan keluarga: Apa yang sebenarnya terjadi di ruang operasi saat itu?

DW menegaskan bahwa langkah pemberian somasi ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan demi mendapatkan jawaban yang jujur dan terang. “Kami hanya ingin kepastian, agar ayah mendapat perawatan yang layak dan tidak ada lagi keluarga lain yang mengalami hal serupa,” ujarnya kepada Selasar, usai secara resmi menyerahkan surat somasi pada Jumat, 22 Mei 2025. 

Kejadian ini bermula pada Kamis, 19 Februari 2026 lalu. Dua hari usai perayaan tahun baru Imlek, sang ayah mengeluhkan nyeri di dada. DW dan keluarga langsung melarikan sang ayah ke RSUD AWS Samarinda untuk dilakukan tindakan medis segera. Pihak keluarga pun menggunakan pembayaran mandiri dengan harapan sang ayah bisa memperoleh pelayanan terbaik dan cepat. 

“Pada saat itu dokter melakukan prosedur kateter dan dilanjutkan dengan pemasangan ring,” ucap DW. 

Ia mengaku sempat bingung kenapa tindakan dilakukan sampai pemasangan ring. Karena saat prosedur kateter, pihak keluarga juga tengah berkoordinasi dengan dokter keluarga yang ada di Singapura dan diarahkan hanya sampai dilakukan angioplasti (balon). Sementara tindakan pemasangan ring rencananya akan dilakukan di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena Singapura. 

Sebagai informasi, kateterisasi jantung adalah tindakan medis di mana dokter memasukkan selang tipis (kateter) melalui pembuluh darah di tangan atau paha menuju jantung. Tujuannya untuk melihat kondisi pembuluh darah jantung dengan bantuan cairan kontras. 

Sementara pemasangan ring (stent) dilakukan bila dari hasil kateterisasi ditemukan pembuluh darah jantung yang menyempit atau tersumbat. Dokter akan melebarkan pembuluh dengan balon kecil, lalu memasang ring berupa cincin kawat halus agar pembuluh tetap terbuka dan aliran darah lancar.

“Usai operasi pemasangan ring keluarga sudah merasa tenang, karena dokter di RSUD AWS menyatakan kondisi ayah saya sudah baik,” ungkap DW. 

Namun, sang ayah kembali mengeluhkan rasa nyeri di dada saat melakukan tindakan cuci darah rutin. Pihak keluarga pun sempat mengira itu hanyalah efek pasca operasi yang belum lama dijalani. 

RSUD AWS juga memberikan bekal obat-obatan setelah operasi. Namun, hal ini juga menyulut kecurigaan pihak keluarga. Bukannya obat pengencer darah yang biasanya diberikan untuk mencegah sumbatan ulang jika operasi benar-benar sukses dan aliran darah lancar, sang ayah justru diresepkan Morfin, yaitu obat pereda nyeri yang sangat kuat. Biasanya digunakan bila pasien masih mengalami nyeri hebat atau rasa sakit yang tidak tertahankan pasca tindakan.

“Ini membuat kami curiga ada sesuatu yang tidak beres. Akhirnya kami membawa ayah ke Singapura menggunakan pesawat charter,” terang DW. Penerbangan pesawat charter direct dari Balikpapan ke Singapura itu dipesan keluarga secara pribadi pada Sabtu, 21 Februari 2026.

DITEMUKAN KAWAT TERTINGGAL

Setibanya di Mount Elizabeth Novena Singapura, pihak dokter telah membuat tim untuk penanganan pasien. Setelah dilakukan pemeriksaan, pihak dokter melaporkan kepada pihak keluarga bahwa telah ditemukan adanya kawat (wire) di dalam pembuluh darah utama (Arteri LAD) jantung. 

“Dari penjelaskan dokter di sana (Singapura), saat pemasangan stent, stent baru bertabrakan dengan stent lama sehingga bentuknya tidak karuan. Dokter di sini (RSUD AWS) menarik paksa, namun kawat sepanjang sekitar 2 cm tertinggal dan menyebabkan pembuntuan di arteri utama (LAD). Itulah yang membuat ayah saya merasakan nyeri. Belum lagi dugaan adanya ukuran ring yang sesuai saat itu tidak tersedia di AWS, tapi tindakan tetap dilakukan dengan ukuran yang ada,” ungkap DW.  

Penemuan kawat yang tertinggal ini pun membuat keluarga shock, karena pihak dokter di RSUD AWS Samarinda tidak ada satu pun mengungkit masalah adanya kawat yang tertinggal. 

“Dokter di Singapura menjelaskan bahwa ada kawat yang tertinggal, sementara keluarga sama sekali tidak tahu sehingga sempat shock,” imbuh DW. 

REKAM MEDIK SULIT DIPEROLEH

Kondisi sang ayah kini sudah lebih membaik dan dalam masa pemulihan pasca operasi bypass arteri koroner yang dilakukan di Singapura. Tindakan bypass dipilih karena adanya kawat (wire) yang tertinggal dari prosedur sebelumnya, yang menghalangi jalur arteri utama sehingga tidak memungkinkan dilakukan pengangkatan langsung. Dengan bypass, dibuat jalur baru menggunakan pembuluh darah lain agar aliran darah ke jantung tetap lancar.

Suksesnya proses tindakan di Singapura bukan tanpa hambatan. Dennis menceritakan pihak dokter di Singapura sempat meminta rekam medik pasca tindakan di RSUD AWS Samarinda. Proses permohonan rekam medik kepada RSUD AWS Samarinda juga sempat beberapa kali terkendala. 

Pada permohonan pertama, pihak RSUD AWS memberikan data rekam medik di dalam CD (compact disk). Namun anehnya saat rekam medik tersebut diserahkan pihak keluarga ke pihak dokter di Singapura CD tersebut ternyata kosong. 

Pihak keluarga pun kembali menghubungi pihak RSUD AWS untuk meminta ulang rekam medik tersebut. Pihak keluarga menawarkan pengiriman via flashdisk atau google drive. Namun kedua opsi tersebut ditolak karena alasan khawatir komputer rumah sakit terinfeksi virus. Sehingga akhirnya diputuskan kembali diberikan CD yang baru. 

“Namun yang kami sesalkan, CD rekaman kateterisasi tidak diberikan secara lengkap. Dokumen yang kami terima seperti hanya potongan-potongan, bukan full data,” ungkap DW, seperti yang disampaikan dokter di Singapura. 


RSUD AWS MENGAKUI ADA KAWAT TERTINGGAL 


Pihak keluarga dan RSUD AWS Samarinda sempat melakukan mediasi usai kejadian ini. Dalam mediasi kedua, barulah dokter yang melakukan tindakan kepada EW menyampaikan permohonan maaf terkait adanya kawat tertinggal tersebut. 


“Pertanyaan kami, mengapa saat kejadian tidak ada transparansi dari dokter maupun pihak rumah sakit kepada keluarga pasien? Nomor kontak kami ada, tetapi tidak ada informasi soal kawat yang tertinggal. Kami baru mengetahuinya setelah di Singapura, ketika dilakukan kateter ulang,” ucap DW.


JANGAN ADA KORBAN LAIN


DW berkisah, sebelumnya tidak terfikir untuk mengangkat kasus yang dialami sang ayah ke media. Tidak ingin fokusnya terpecah dalam mendampingi sang ayah menjalani pengobatan jadi alasan utama. Kini kondisi ayahnya sudah mulai stabil dan dalam proses pemulihan, untuk itu ia dapat lebih fokus ke hal lain salah satunya menuntut keadilan untuk ayahnya dan juga tidak ingin kejadian serupa menimpa pasien-pasien lain. 

“Harapan kami tidak ada korban kedua atau ketiga. Kami menuntut keadilan sebagai anak pasien. Nyawa ayah saya bukan untuk dipermainkan. Kami percaya Tuhan memberi mukjizat sehingga beliau bisa melewati kondisi blockage 90% di LAD. Harapan kami sederhana: tidak ada lagi korban, dan kasus ini bisa menjadi pelajaran agar ada transparansi serta keadilan,” tegasnya. 


RESPONS RUMAH SAKIT

Saat berita ini diturunkan, pihak RSUD AWS Samarinda diketahui telah memberikan balasan surat somasi DW dan keluarga untuk hadir dalam pertemuan yang disebut pihak rumah sakit sebagai ‘penelaahan serta penjelasan dari pihak rumah sakit’ pada Jumat, 29 Mei mendatang. 

“RSUD AWS telah berkomunikasi baik dengan keluarga, dan RSUD AWS telah menjadwalkan pertemuan kembali untuk membahas masalah ini,” ujar Humas RSUD AWS Samarinda, dr. Arysia Andhina, saat dihubungi Selasa pada hari ini Senin (25/5/2026). 

Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik gedung megah dan akreditasi, ada harapan besar masyarakat terhadap layanan kesehatan yang aman dan transparan. DW, dengan map merahnya, mewakili suara banyak keluarga yang mendambakan keadilan dan perbaikan pelayanan medis di Bumi Etam.

Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Awan

Berita Lainnya