Lingkungan

bantuan perikanan pemkab kukar perikanan kukar 

Bantuan Perikanan Pemkab Kukar Mulai Dirasakan Nelayan, dari Mesin Kapal hingga Alat Tangkap



Kelompok Usaha Bersama Cahaya Nelayan di Desa Handil Terusan, Kecamatan Anggana, menerima bantuan perlengkapan perikanan untuk mendukung aktivitas nelayan tangkap. (Istimewa)
Kelompok Usaha Bersama Cahaya Nelayan di Desa Handil Terusan, Kecamatan Anggana, menerima bantuan perlengkapan perikanan untuk mendukung aktivitas nelayan tangkap. (Istimewa)

SELASAR.CO, Tenggarong – Bantuan sarana perikanan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara mulai dirasakan manfaatnya oleh nelayan di sejumlah wilayah. Program tersebut membantu nelayan memenuhi kebutuhan dasar dalam beraktivitas, mulai dari mesin kapal, perahu, hingga alat tangkap.

Di Desa Handil Terusan, Kecamatan Anggana, bantuan mesin diesel satu silinder berbahan bakar solar membantu nelayan mengganti mesin lama yang selama ini digunakan untuk melaut.

Bagi nelayan, mesin kapal bukan sekadar perlengkapan kerja. Mesin yang andal menjadi faktor penting untuk menunjang keselamatan dan kelancaran aktivitas di laut.

Rusdiansyah, nelayan asal Handil Terusan, mengatakan bantuan tersebut membuat nelayan lebih tenang saat beraktivitas. Sebelumnya, sebagian nelayan masih menggunakan mesin lama yang rawan bermasalah.

“Yang jelas sangat bermanfaat sekali bagi nelayan di desa kami. Karena kemarin mesin kami sudah tua. Jadi kami tidak mengkhawatirkan lagi ada kerusakan di laut,” kata Rusdiansyah, Kamis, 28 Mei 2026.

Menurutnya, bantuan yang diterima nelayan tidak hanya berupa mesin. Ada pula bantuan perahu, mesin penggerak perahu, hingga alat tangkap.

Bantuan tersebut dinilai meringankan beban nelayan karena sarana perikanan merupakan kebutuhan utama dalam kegiatan sehari-hari. Dengan alat kerja yang lebih memadai, nelayan dapat beraktivitas dengan lebih aman dan produktif.

Rusdiansyah mengatakan, kehadiran bantuan dari Pemkab Kukar memberi dampak langsung bagi nelayan kecil. Mereka tidak lagi sepenuhnya menanggung sendiri kebutuhan pengadaan sarana kerja yang biayanya tidak murah.

Meski kebutuhan sarana mulai terbantu, nelayan masih berharap dukungan lain dapat terus diperkuat. Salah satunya terkait akses bahan bakar minyak, terutama solar untuk kebutuhan melaut.

Rusdiansyah menyebut, harga solar eceran di wilayahnya kini bisa mencapai Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Sebelumnya, solar masih dapat diperoleh pada kisaran Rp12 ribu hingga Rp13 ribu per liter.

Kenaikan harga tersebut membuat biaya operasional nelayan ikut bertambah. Ia mencontohkan, satu galon solar yang sebelumnya sekitar Rp300 ribu, kini bisa mencapai Rp650 ribu.

“Satu galon kemarin Rp300 ribu, sekarang Rp650 ribu. Satu hari habis,” ujarnya.

Di tengah kondisi itu, rencana pembangunan SPBU Nelayan di Anggana menjadi harapan baru bagi nelayan setempat. Rusdiansyah mengatakan, peletakan batu pertama fasilitas tersebut telah dilakukan oleh Bupati Kukar Aulia Rahman Basri.

Ia berharap SPBU Nelayan dapat segera beroperasi agar nelayan memiliki akses BBM yang lebih pasti, baik dari sisi ketersediaan maupun harga.

“Kalau sudah beroperasi, sangat terbantu,” ucapnya.

Manfaat bantuan perikanan juga dirasakan nelayan di kawasan Danau Melintang, Kecamatan Muara Muntai. Muhammad Yusuf, nelayan setempat, mengatakan bantuan mesin dan alat tangkap membantu mengurangi beban nelayan dalam memenuhi kebutuhan kerja.

“Alhamdulillah, mengurangi beban untuk pembelian alat tangkap,” kata Yusuf.

Menurut Yusuf, bantuan tersebut penting karena nelayan di kawasan danau masih sangat bergantung pada sarana kerja sederhana. Dengan adanya dukungan mesin dan alat tangkap, nelayan dapat lebih terbantu dalam menjalankan aktivitas perikanan.

Namun, karakter perikanan di kawasan danau memiliki tantangan tersendiri. Hasil tangkapan nelayan sangat bergantung pada musim dan kondisi perairan.

Yusuf mengatakan, saat musim tertentu, terutama ketika air banjir dan hasil tangkapan meningkat, tantangan nelayan bergeser ke pemasaran. Ikan bisa tersedia banyak, tetapi harga di tingkat nelayan dapat turun karena penyerapan pasar terbatas.

“Tangkapan ada saja, tergantung musim. Kalau musim banjir, susah untuk pemasaran. Ada yang menerima, tapi harganya anjlok,” ujarnya.

Karena itu, nelayan di kawasan Danau Melintang mulai membahas penguatan kelembagaan, termasuk kemungkinan pembentukan koperasi nelayan. Wadah bersama tersebut diharapkan dapat membantu pengelolaan hasil tangkapan, terutama saat produksi meningkat.

Melalui kelembagaan yang lebih kuat, nelayan dapat mengatur penampungan, distribusi, dan pemasaran ikan secara lebih tertata. Yusuf mengatakan, pembahasan tersebut masih berjalan di tingkat kelompok nelayan.

Selain pemasaran, nelayan juga menaruh perhatian pada pengawasan kawasan perairan dari praktik penangkapan ikan ilegal. Menurut Yusuf, pengawasan tetap membutuhkan keterlibatan nelayan setempat karena mereka yang setiap hari mengetahui kondisi di lapangan.

Ia menyebut pemerintah bersama unsur terkait telah beberapa kali turun ke lapangan. Dukungan itu diharapkan terus berlanjut agar aktivitas perikanan dapat berjalan lebih tertib dan berkelanjutan.

Dari Anggana hingga Danau Melintang, bantuan perikanan Pemkab Kukar mulai memberi dampak langsung bagi nelayan. Mesin baru membantu nelayan lebih tenang melaut, sementara alat tangkap meringankan beban pengadaan sarana kerja.

Di sisi lain, suara nelayan juga menunjukkan adanya kebutuhan lanjutan yang dapat menjadi perhatian pemerintah, mulai dari akses BBM, pemasaran hasil tangkapan, penguatan kelembagaan, hingga pengawasan perairan.

Dengan dukungan sarana kerja dan tindak lanjut program pendukung, sektor perikanan Kukar diharapkan dapat semakin memperkuat aktivitas ekonomi nelayan di wilayah pesisir maupun kawasan danau. (*)

Penulis: Redaksi Selasar
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya