Pendidikan
seragam gratis  pemprov kaltim gratispol gratispol seragam 
Seragam Gratispol Kaltim Molor, Psikolog Ingatkan Risiko Masalah Imbas Perbedaan Pakaian Siswa di Sekolah
SELASAR.CO, Samarinda - Program seragam gratispol bagi siswa di Kalimantan Timur yang semestinya dibagikan pada awal tahun ajaran baru mengalami keterlambatan. Meski tahun ajaran baru sudah dimulai di Juli ini, distribusi seragam gratis yang menghabiskan anggaran Rp65 miliar itu ditarget diterima siswa pada Agustus hingga September.
Kondisi ini membuat sebagian siswa sudah mengenakan seragam baru bagi yang mampu, sementara siswa kurang mampu lainnya masih memakai seragam lama atau pakaian bebas. Perbedaan inilah yang dinilai berpotensi menimbulkan masalah bagi siswa jika tidak diantisipasi dengan baik oleh pihak sekolah ataupun regulator dalam hal ini Disdikbud Kaltim.
Psikolog dari Universitas Mulawarman, Ayunda Ramadhani menekankan keterlambatan pemberian seragam sekolah gratis ini meski bukan menjadi faktor utama pemicu masalah psikologis pada anak, namun bisa menjadi faktor resiko yang memicu masalah. Untuk itu ia menegaskan pentingnya peran sekolah dalam menjaga suasana kondusif.
“Ketika orang tua sudah membelikan seragam dan merasa anaknya berhak menggunakan, itu tidak salah. Tapi akhirnya muncul perbedaan karena ada siswa lain yang belum punya seragam. Kuncinya ada di komunikasi antara sekolah dengan orang tua,” ujarnya pada hari ini, Kamis (16/7/2026).
Menurut Ayunda, sekolah dapat mengeluarkan edaran atau himbauan agar pemakaian seragam ditunda sementara, misalnya selama masa MPLS. Hal ini untuk mencegah munculnya rasa tidak nyaman atau komentar negatif antar siswa.
“Kalau sekolah cepat merespon dan menilai risiko, saya rasa tidak akan ada masalah. Respon sekolah yang cepat menjadi penentu apakah siswa akan mengalami masalah atau tidak,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar guru maupun panitia MPLS tidak memberikan komentar yang menyudutkan siswa yang belum memakai seragam. Edukasi kepada siswa bahwa perbedaan seragam bukan masalah personal, melainkan akibat teknis distribusi, menjadi langkah penting agar anak merasa aman dan nyaman.
“Sekolah harus menghimbau, mengedepankan nilai keadilan bagi seluruh siswa. Yang penting komunikasi. Kalau komunikasi mandek, itu yang jadi masalah,” kata Ayunda.
Penulis: Redaksi Selasar
Editor: Yoghy Irfan

