Ragam
DLH Bulungan  Pemkab Bulungan Daur Ulang Sampah 
DLH Bulungan Kaji Pengolahan Sampah Plastik Jadi BBM Melalui Pirolisis
SELASAR.CO, Bulungan - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bulungan tengah mengkaji pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan baku bahan bakar minyak (BBM) melalui teknologi pirolisis.
Kepala DLH Kabupaten Bulungan, H. Ismail, S.Hut., M.Si., mengatakan teknologi tersebut menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sampah plastik yang selama ini berpotensi menjadi residu.
Menurut Ismail, sampah plastik harus terlebih dahulu dipilah berdasarkan jenisnya sebelum masuk ke proses pengolahan.
“Plastik yang ada tercampur ini ketika dipilah nilai ekonomisnya beda-beda tuh. Apalagi produk turunan olahannya, seperti salah satu yang saya katakan tadi, sistem pirolisis tadi,” ujarnya.
Berita Terkait
Ia menjelaskan, produksi sampah di Bulungan diperkirakan mencapai 80 hingga 83 ton per hari. Dengan asumsi sampah plastik sekitar 13 persen, jumlah plastik yang tersedia diperkirakan mendekati 10 ton per hari.
“10 ton rendemen 80 persen, itu hampir 7 sampai 8.000. Itu solar bisa kita produksi dengan sistem pirolisis,” jelasnya.
Ismail mengatakan teknologi tersebut bukan sekadar wacana. Menurutnya, telah tersedia alat yang disebut telah melalui pengujian dan mendapatkan rekomendasi BRIN.
“Ada sudah pabriknya, sudah rekomendasi BRIN, sudah diuji, sudah, sudah ada di situ,” katanya.
Ia juga menyebut hasil pengujian terhadap karakteristik bahan bakar tersebut menunjukkan nilai cetane yang dinilainya memenuhi bahkan melampaui nilai bahan bakar solar yang menjadi pembanding.
“Kita sudah menguji nilai cetane tadi, dan rekomendasi BRIN alat sudah ada,” ungkapnya.
Namun, penerapan teknologi tersebut masih membutuhkan perhitungan lebih lanjut, terutama terkait aspek ekonomi dan operasional. DLH juga belum menentukan pola kerja sama dengan pihak lain.
“Kalau memang bisa kita kerjakan mandiri kenapa tidak? Lebih ada retribusi gede,” kata Ismail.
Menurutnya, secara teknis, fasilitas tersebut membutuhkan tambahan alat pirolisis dan proses pemurnian atau distilasi setelah plastik dipisahkan.
“Kita kan tinggal menambah satu alat, namanya pirolisis. Pirolisis, distilasi, ya gitu kan itu. Kalau sudah dipisahkan, ya sudah dimurnikan, inilah minyaknya,” jelasnya.
Ismail menekankan bahwa tingkat kebersihan hasil pemilahan plastik akan berpengaruh langsung terhadap hasil produksi.
“10 kilo, 8 atau 9, tergantung tingkat ininya, bersih enggak kita memilah plastik itu? Itu aja. Karena kalau ada organik lagi bercampur kan rendemennya makin turun,” tutupnya. (**)
Penulis: Redaksi Selasar
Editor: Awan

