Ragam

DLH Bulungan Sampah Plastik Daur Ulang Sampah Plastik 

DLH Bulungan Sebut Potensi Ekonomi Sampah Plastik Capai Rp73 Juta Sehari



SELASAR.CO, Bulungan – Sampah plastik di Kabupaten Bulungan dinilai memiliki potensi ekonomi yang cukup besar jika dikelola melalui proses pemilahan dan pengolahan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bulungan bahkan menghitung potensi nilai ekonomi dari pengolahan sampah plastik dapat mencapai puluhan juta rupiah per hari.

Kepala DLH Kabupaten Bulungan, Ismail, S.Hut., M.Si., mengatakan keberadaan Pusat Daur Ulang Sampah (PDUS) Perisi Benuanta diharapkan mampu mengubah paradigma terhadap sampah.

“Sampah yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi komoditas bernilai ekonomi,” ujarnya.

Ia menyebutkan volume sampah di Bulungan saat ini berada di kisaran 80 hingga 83 ton per hari. Jika sekitar 13 persen di antaranya merupakan sampah plastik, maka terdapat potensi hampir 10 ton plastik yang dapat diolah setiap hari.

“Kita sudah menghitung hampir 83, ya, 80 sampai 83 ton sehari. Dengan katakanlah sampah plastik 13 persen seperti itu, kita sudah menghitung hampir 10 ton,” sebutnya.

Sampah plastik tersebut, lanjut dia, tidak seluruhnya memiliki nilai ekonomi yang sama. Karena itu, proses pemilahan menjadi salah satu faktor penting untuk mendapatkan nilai jual maupun hasil olahan yang lebih tinggi.

“Plastik yang ada tercampur itu ketika dipilah nilai ekonomisnya beda-beda tuh. Apalagi produk turunan olahannya,” ujarnya.

Salah satu teknologi yang menjadi perhatian DLH Bulungan adalah pirolisis. Melalui teknologi tersebut, sampah plastik diolah menjadi bahan bakar minyak. Ismail menuturkan perangkat untuk pengolahan tersebut telah tersedia dan prosesnya telah melalui pengujian serta mendapatkan rekomendasi dari BRIN.

“Ada sudah pabriknya, sudah rekomendasi BRIN, sudah diuji,” tuturnya.

Dari perhitungan awal, Ismail menggunakan asumsi rendemen sekitar 80 persen dari bahan baku plastik yang diolah. Jika tersedia sekitar 10 ton plastik, maka hasil olahan diperkirakan berada pada kisaran 8 ton atau sekitar beberapa ribu liter bahan bakar, tergantung kualitas bahan baku dan tingkat pemilahannya.

“10 kilo, 8 atau 9, tergantung apa ya... tingkat ininya, bersih ndak kita memilah plastik itu, itu aja. Karena kalau ada organik lagi bercampur kan rendemennya makin turun. Tapi obsesinya 80 persen,” jelasnya.

Dengan asumsi harga bahan bakar sekitar Rp10 ribu per liter, Ismail menyebut potensi nilai ekonominya dapat mencapai sekitar Rp73 juta per hari berdasarkan kalkulasi kasar yang dilakukan.

“Kalikan aja Rp10.000. Saya obsesi setiap hari bisa ndak menghasilkan duit Rp73 juta per hari? Itu obsesinya,” ungkapnya.

Namun, angka tersebut merupakan kalkulasi atau target awal, bukan pendapatan yang telah terealisasi. Menurutnya, aspek ekonomi masih perlu dihitung lebih lanjut sebelum pengolahan tersebut dijalankan secara penuh.

Terkait pola pengelolaan, Ismail mengatakan hingga saat ini belum ada kerja sama dengan pihak lain untuk mengelola hasil pengolahan sampah tersebut.

“Kalau memang bisa kita kerjakan mandiri, kenapa ndak?,” pungkasnya. (**)

Penulis: Redaksi Selasar
Editor: Awan

Berita Lainnya