Utama

bbm subsidi samarinda data bbm subsisdi samarinda  pertamina samarinda 

Diminta Mahasiswa Buka Data Distribusi BBM di Samarinda, Pertamina Sebut Data Bersifat Rahasia



Aksi demo mahasiswa di depan Kantor Pertamina Patra Niaga Feul Terminal Samarinda, di Jalan Cendana. (yoghy/selasar.co)
Aksi demo mahasiswa di depan Kantor Pertamina Patra Niaga Feul Terminal Samarinda, di Jalan Cendana. (yoghy/selasar.co)

SELASAR.CO, Samarinda - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Samarinda menggelar aksi di depan kantor Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Samarinda, di Jalan Cendana, pada Rabu (7/10/2026).

Dalam spanduk tuntutan yang mereka bawa ada tiga poin aspirasi yang disampaikan, yaitu pertama, keselarasan penerimaan dan kebutuhan BBM Kaltim khususnya kota Samarinda; kedua, keterbukaan skema distribusi; dan ketiga, transparansi penentuan jumlah jumlah kuota BBM utamanya di Kota Samarinda.

Usai melakukan orasi di depan gerbang, masa aksi sempat menerobos masuk ke areal halaman kantor dengan merobohkan gerbang kantor. Usai aksi tersebut lah terjalin kesepakatan akan dilakukan audiensi di lobby kantor Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Samarinda.

Dalam audiensi tersebut. pihak mahasiswa meminta penjelasan mengenai data distribusi BBM di setiap SPBU di Samarinda, serta pola persebaran dan jumlah penyalurannya.

Kepala Bidang PTKP (Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Pemuda) HMI Cabang Samarinda, Muhammad Shefa, mengatakan pihaknya meminta data terkait jumlah dan proses distribusi BBM. Menurutnya, data itu diperlukan guna mengetahui penyebab antrean yang terjadi di sejumlah SPBU.

"Kita menilai persoalan antrean ini tidak bisa langsung disimpulkan hanya disebabkan keterbatasan kuota," terang Shefa.

Pihaknya ingin memastikan apakah kondisi tersebut berkaitan dengan kuota, fasilitas SPBU, maupun faktor lainnya.

"Berangkat dari data ini kita bisa menjawab apa sebenarnya permasalahan antrean di Kota Samarinda. Apakah karena kuota, fasilitas yang tidak memadai, atau faktor lainnya," ucapnya.

Namun, dalam audiensi tersebut, diakui Shefa pihak Pertamina belum dapat memberikan data yang diminta. Dia menyebut terjadi perbedaan pemahaman karena Pertamina mengira mahasiswa meminta data distribusi BBM untuk seluruh wilayah Kaltim.

"Padahal, data yang kita minta ini hanya berkaitan dengan distribusi BBM di wilayah Kota Samarinda saja," katanya.

Maka dari itu, sebelum membubarkan diri pihak HMI memberikan tenggat waktu 3x24 jam kepada Pertamina untuk menyiapkan data yang dibutuhkan tersebut.

"Pastinya kita akan kembali lagi untuk meminta data itu. Kita membutuhkan data tersebut sebelum menawarkan solusi terhadap persoalan antrean di Samarinda," tegasnya.

Sementara itu, Sales Branch Manager I Field, Hasanuddin Ritonga, menuturka pihak Pertamina telah berdiskusi dengan mahasiswa selama hampir satu jam. Berbagai persoalan terkait BBM dan antrean di Samarinda kata dia, disampaikan dalam pertemuan tersebut.

"Data itu kan bersifat rahasia ya, engga sembarang orang bisa dapat data-data seperti itu. Jadi bersifat konfidensial (rahasia)," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya juga masih akan melihat mekanisme yang dapat dilakukan guna menindaklanjuti permintaan dari massa HMI.

Saat disinggung mengenai antrean kendaraan di sejumlah SPBU, Hasanuddin mengakui salah satu faktor yang memengaruhi adalah perbedaan harga BBM subsidi dan nonsubsidi. Kondisi tersebut, kata dia, dapat memengaruhi pilihan masyarakat dalam membeli BBM.

"Untuk penyaluran Pertalite di Samarinda kita melihat mengalami peningkatan sekitar 9,6 persen sejak perubahan harga pada 10 Juni hingga saat ini. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi BBM masyarakat," jelasnya.

Peralihan konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi tersebut menjadi salah satu faktor ungkap Hasanuddin yang perlu diperhatikan dalam melihat persoalan antrean BBM di sejumlah SPBU Samarinda.

Penulis: Redaksi Selasar
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya