Utama

ASAP KARHUTLA Karhutla Kaltim KARHUTLA PPU 

Kualitas Udara PPU Memburuk, DLH Imbau Warga Pakai Masker dan Kurangi Aktivitas Luar Ruangan



Kondisi PPU siang hari dipenuhi asap. (Nelly/Selasar.co)
Kondisi PPU siang hari dipenuhi asap. (Nelly/Selasar.co)

SELASAR.CO, Penajam Paser Utara — Kualitas udara di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memburuk dalam sepekan terakhir. Berdasarkan hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) PPU, angka kualitas udara yang sebelumnya berada di level 98 kini meningkat menjadi 102 atau masuk kategori tidak sehat.

Kepala DLH PPU, Kuncoro, mengatakan pihaknya melakukan pemantauan kualitas udara setiap hari. Hasil pemantauan terbaru menunjukkan kondisi udara di wilayah tersebut mengalami penurunan dibandingkan pekan sebelumnya yang masih berada pada kategori sedang.

“Minggu kemarin masih kondisi sedang. Tapi begitu kita pantau hari ini, kualitas udara sudah tidak sehat. Kemarin masih di angka 98, kemudian tadi pagi saya cek sudah di angka 102,” ujar Kuncoro, Senin (12/10/2026).

Ia menyebutkan, angka 102 merupakan nilai tertinggi yang tercatat selama pemantauan dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kualitas udara yang tidak sehat berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki masalah pernapasan.

Menyikapi kondisi tersebut, Kuncoro mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas dan mengurangi pergerakan di luar ruangan. Langkah itu dinilai penting untuk mengurangi paparan polutan selama kualitas udara belum kembali membaik.

“Saran kita, dengan kondisi seperti ini yang pertama pakai masker. Kemudian mengurangi pergerakan di luar,” tegasnya.

Menurut Kuncoro, penurunan kualitas udara tersebut diduga turut dipengaruhi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski demikian, ia belum dapat memastikan seberapa besar pengaruh karhutla terhadap kondisi udara di PPU.

Ia menjelaskan, kondisi atmosfer dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan gejala yang patut diwaspadai. Secara kasatmata, langit terlihat berkabut dan matahari tidak tampak jelas pada siang hari selama sekitar satu pekan terakhir.

“Karhutla salah satunya. Karena secara kasatmata saja, biasanya kita tidak pernah menemukan kondisi seperti ini. Sudah satu minggu pada siang hari matahari tidak terlihat. Artinya, kemungkinan di atas itu ada asap yang tertumpuk,” jelasnya.

Kuncoro menambahkan, waktu terjadinya kondisi kualitas udara terburuk belum dapat diprediksi secara pasti. Perubahan kualitas udara dapat dipengaruhi berbagai faktor alam dan lingkungan sehingga pemantauan berkala tetap diperlukan.

Selain mengimbau masyarakat menerapkan langkah pencegahan, Kuncoro mengaku telah berkomunikasi dengan Plt Kepala Dinas Pendidikan PPU, Muhtar, untuk menyampaikan perkembangan kualitas udara tersebut. Informasi itu diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah yang diperlukan bagi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Terkait kemungkinan penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ), ia menegaskan keputusan tersebut berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan.

“Sudah saya berkomunikasi dengan Kepala Dinas Pendidikan, Pak Muhtar. Saya sampaikan dan saya kirimkan informasinya. Apakah akan dilakukan PJJ atau tidak, itu kewenangannya di sana,” pungkasnya. 

Penulis: Nelly
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya