Selasar.CO

Ragam

Soeprijadi dan Pemberontakannya pada Hari Kasih Sayang

Jumat, 14 Februari 2020
 

Ilustrasi tentara PETA

Tanggal 14 Februari umum diperingati sebagai Hari Kasih Sayang. Tapi di Blitar, Jawa Timur, ada makna berbeda. Di kota tempat Presiden Indonesia Pertama, Soekarno, dimakamkan ini, peristiwa sejarah besar yang menjadi titik balik perjuangan Indonesia melawan penjajah, ditorehkan.

Tepat pada hari ini (14 Februari), 75 tahun silam, seorang pemuda berusia 23 tahun memimpin puluhan milisi Pembela Tanah Air (PETA) memberontak pasukan pendudukan Jepang di Blitar. Meski mampu dipadamkan, namun aksi pemberontakan itu memantik perjuangan rakyat Indonesia untuk melawan Jepang hingga merdeka. Orang itu adalah Soeprijadi, komandan PETA di Blitar.

Soeprijadi prihatin dengan nasib masyarakat Indonesia, khususnya yang ada di Blitar saat itu. Mereka hidup sengsara di bawah penjajahan Jepang pada masa Perang Dunia ke-II. Mereka harus menerima kebrutalan yang dilakukan Jepang, seperti romusha (kerja paksa), hasil panen dirampas, dan diperlakukan rasis seperti halnya kekuasaan fasisme di Eropa.

Perlakuan itu tidak hanya pada masyarakat biasa, namun juga dialami oleh para tentara PETA yang merupakan bentukan Jepang sendiri. Sehingga, Soeprijadi melakukan konsolidasi kepada pasukannya untuk memberontak melawan pasukan Jepang.

Pemberontakan itu akhirnya pecah, pasukan PETA berhasil membunuh sejumlah pasukan Jepang. Mereka membawa banyak sekali perlengkapan dan logistik dari pasukan Jepang, seperti senjata Arisaka dan senapan mesin tipe 99.

Namun, Jepang tidak takut terhadap pemberontakan yang dilakukan oleh Soeprijadi. Jepang malah mengirim pasukan PETA, yang masih setia kepada Kekaisaran Jepang, untuk memburu Soeprijadi dan pengikutnya.

Perburuan berhasil. Soeprijadi dan pengikutnya ditangkap dan diadili di Jakarta, di mana Kekaisaran Jepang berpusat. Sejumlah 68 anggota PETA pengikut Soeprijadi ditangkap, dan ada sekitar delapan orang yang dihukum mati dan dua orang lainnya dibebaskan.

Sementara itu, Soeprijadi sang pemimpin pemberontakan pada hari Valentine itu tidak pernah lagi ditemukan. Banyak pendapat beredar tentang keberadaan Soeprijadi, ada yang mengatakan dia ditangkap dan dibunuh di Trenggalek, dan ada juga yang berpendapat ia telah tewas pada saat pertempuran 14 Februari 1945. Hingga saat ini keberadaan Soeprijadi dan kematiannya masih menjadi sebuah misteri.

Soeprijadi Pahawalan Nasional, Pemimpin Pemberontakan Terhadap Jepang di Blitar

SEKILAS TENTANG SOEPRIJADI

Nama lengkapnya adalah Xaverius Soeprijadi, lahir pada tanggal 13 April 1923 di Trenggalek, Jawa Timur, Hindia Belanda. Ia menghabiskan masa mudanya dengan bersekolah di ELS (singkatan dari bahasa Belanda: Europeesche Lagere School) atau setingkat dengan Sekolah Dasar milik Belanda. Setelah lulus, ia melanjutkan sekolahnya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama. Beberapa tahun Soeprijadi melanjutkan sekolahnya di Pamong Praja Magelang. Namun, Soeprijadi tidak sempat lulus karena Jepang mulai menjajah Indonesia. Sehingga, ia dipaksa untuk mengikuti pelatihan Seimendoyo di Tanggerang, Jawa Barat.

Pada bulan Oktober 1943, Jepang mulai melawan Belanda dan mengatur strategi perang. Sehingga Jepang membuat sebuah pasukan tantara yang berisikan warga lokal. Mereka namakan PETA (Pembela Tanah Air). Pasukan tersebut dibentuk sebagai pasukan lapis kedua untuk membantu Jepang  melawan sekutu yang dipimpin oleh Amerika.

Soeprijadi akhirnya bergabung dengan organisasi PETA dan diberi jabatan Shondancho. Ia bertugas menjadi pemimpin gerakan ini di Blitar. Selain jadi pemimpin PETA, ia juga bertugas menjadi pengawas romusha atau pekerja yang dipaksa membangun jalan dan benteng di Blitar.

 

Penulis: Mangir Titiantoro
Editor: Awan

soeprijadi pembela-tanah-air peta perang-dunia-ke-ii presiden-indonesia-pertama valentines-day 

Berita Lainnya