Kutai Timur
tamah longsor kutim PJN Kaltim jalan poros sanggata-bengalon 
BBPJN Kaltim Alokasikan Rp5,5 Miliar untuk Tangani 16 Titik Longsor di Poros Sangatta–Bengalon
SELASAR.CO, Kutim – Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur memastikan penanganan longsor di jalur utama Sangatta–Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), akan mulai dilaksanakan tahun ini. Sebanyak 16 titik rawan longsor telah dipetakan di sepanjang jalan nasional tersebut, dengan beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis dan mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Kepala Satuan Kerja BBPJN Wilayah II Kaltim, Viasmudji Bitticaca, menyampaikan bahwa perbaikan ini telah masuk dalam skala prioritas nasional.
“Karena ini merupakan aset jalan nasional, kami sudah mengusulkan dan telah disetujui. Penanganannya dimulai tahun ini,” ujarnya kepada sejumlah awak media, Senin (19/1/2026).
Untuk tahap awal, BBPJN menyiapkan anggaran sebesar Rp5 miliar hingga Rp5,5 miliar. Meski masih bersifat estimasi karena menunggu proses kontrak, dana tersebut akan difokuskan pada penanganan titik-titik longsor yang telah menggerus badan jalan.
“Perhitungan kami, biaya penanganan longsoran berkisar antara Rp100 juta hingga Rp150 juta per meter. Titik prioritas utama yang akan ditangani memiliki panjang sekitar 50 meter,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pemetaan di lapangan, terdapat sedikitnya 16 titik rawan longsor di sepanjang jalur Sangatta hingga Simpang Perdau. Dari jumlah tersebut, satu titik sepanjang 50 meter menjadi prioritas utama karena telah menggerus hampir setengah badan jalan.
“Ada longsoran minor yang masih bisa dilewati, namun ada juga yang bersifat kritis karena sudah memakan separuh badan jalan,” tambah Viasmudji.
Sambil menunggu pelaksanaan pekerjaan utama, BPJN tetap melakukan penanganan preventif agar kerusakan tidak semakin meluas. Langkah-langkah sementara yang dilakukan antara lain pemasangan bronjong dan sandbag, guna memastikan akses jalan tetap terbuka dan lalu lintas tidak terputus.
“Yang terpenting, kami pastikan lalu lintas tetap berjalan, meskipun harus diberlakukan sistem buka-tutup satu arah,” ujarnya.
Terkait penyebab longsor, Viasmudji menjelaskan bahwa beberapa faktor turut berkontribusi, mulai dari kondisi tanah yang relatif lunak, beban kendaraan bertonase berat, hingga curah hujan yang tinggi.
“Tanah di ruas tersebut memang tergolong lunak. Ditambah hujan ekstrem dan beban kendaraan berat, kombinasi ini memicu terjadinya longsoran,” pungkasnya
Penulis: Bonar
Editor: Yoghy Irfan

