Pendidikan
hetifah dpr ri workshop transformasi pembelajaran di samarinda 
Dorong Guru Siap Hadapi Era Digital, Hetifah Inisiasi Workshop Transformasi Pembelajaran Melalui Pemanfaatan Teknologi
SELASAR.CO, Samarinda - Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) yang kian pesat menuntut dunia pendidikan beradaptasi lebih cepat. Menjawab tantangan tersebut, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menginisiasi workshop bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) RI bertema “Transformasi Pembelajaran melalui Pemanfaatan Teknologi Digital yang Interaktif dan Bermakna” di Hotel Mercure Samarinda.
Kegiatan yang diikuti 100 guru SMA dan SMK se-Kota Samarinda ini menghadirkan Peneliti Pusat Riset Pendidikan BRIN RI AM Saifullah Aldeia, pakar pembelajaran digital Prof. Eko Indrajit, dan Kepala BRIDA Kalimantan Timur Fitriansyah. Acara dipandu presenter TVRI Kalimantan Timur, Liz Indarti.
Dalam sambutannya, Hetifah menegaskan bahwa transformasi digital dalam pendidikan bukan lagi agenda masa depan, melainkan kebutuhan yang harus dilakukan saat ini. Menurutnya, laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat menuntut sekolah dan tenaga pendidik untuk terus beradaptasi.
“Tanpa infrastruktur, kurikulum, dan budaya belajar digital yang memadai, kesenjangan mutu pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terluar, terpencil, maupun pesisir akan semakin lebar,” ujar Hetifah.
Berita Terkait
Legislator asal Kalimantan Timur itu menambahkan bahwa perubahan kebutuhan dunia kerja juga menjadi alasan penting mengapa transformasi pendidikan tidak bisa ditunda. Saat ini, dunia industri membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai pengetahuan dasar, tetapi juga memiliki keterampilan digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan berkolaborasi.
“Pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi dan daya saing. Kita tidak bisa hanya berorientasi pada ijazah, tetapi harus menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan,” tegasnya.
Menurut Hetifah, teknologi juga dapat menjadi instrumen penting untuk mewujudkan pemerataan akses pendidikan. Melalui pembelajaran hybrid yang berkualitas, laboratorium virtual, hingga berbagai platform pembelajaran digital, layanan pendidikan yang bermutu dapat menjangkau lebih banyak peserta didik tanpa terhalang jarak dan kondisi geografis.
Ia juga mengapresiasi capaian Kalimantan Timur dalam pembangunan ekosistem digital. Berdasarkan Digital Competitiveness Index, Kalimantan Timur berada di peringkat ke-8 nasional dan secara konsisten masuk 10 besar selama lima tahun terakhir.
“Ini menjadi modal yang sangat baik bagi Kalimantan Timur untuk mempercepat transformasi digital, termasuk di sektor pendidikan. Komitmen pemerintah daerah melalui pengembangan Smart Province dan pembentukan Dewan TIK menunjukkan keseriusan dalam membangun ekosistem digital yang kuat,” katanya.
Meski demikian, Hetifah mengingatkan masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi, mulai dari belum meratanya literasi digital guru, keterbatasan fasilitas teknologi di sejumlah daerah, hingga masih banyaknya platform pembelajaran digital yang berbayar.
Karena itu, ia berharap workshop ini dapat menjadi ruang belajar dan berbagi pengalaman bagi para guru untuk memperkuat kompetensi digital sekaligus mengembangkan metode pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik saat ini.
Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Pendidikan BRIN RI AM Saifullah Aldeia menekankan bahwa transformasi digital tidak boleh dipahami hanya sebagai penggunaan perangkat teknologi di dalam kelas. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif, menarik, dan bermakna bagi siswa.
Menurutnya, berbagai hasil riset menunjukkan bahwa generasi saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat. Kondisi tersebut menuntut perubahan pendekatan pembelajaran agar lebih fleksibel, interaktif, dan berpusat pada peserta didik.
“Peran guru tidak tergantikan oleh teknologi. Justru di era digital, guru memiliki peran yang semakin strategis sebagai fasilitator, mentor, dan pendamping yang membantu siswa memilah informasi, membangun karakter, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis,” ujarnya.
Saifullah menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital lebih ditentukan oleh kesiapan guru dalam memanfaatkan teknologi secara tepat guna daripada sekadar kecanggihan perangkat yang dimiliki sekolah.
Pandangan tersebut diperkuat oleh pakar pembelajaran digital Prof. Eko Indrajit. Ia mengingatkan bahwa transformasi digital bukan sekadar memindahkan papan tulis ke layar komputer atau mengganti buku dengan gawai.
“Transformasi bukan sekadar memindahkan papan tulis ke layar. Transformasi adalah merancang ulang pengalaman belajar agar lebih interaktif, relevan, dan bermakna bagi peserta didik,” jelasnya.
Menurut Eko, teknologi harus dimanfaatkan untuk menciptakan proses pembelajaran yang mampu mendorong kreativitas, kolaborasi, kemampuan berpikir kritis, serta kemandirian siswa dalam belajar.
Melalui kegiatan ini, Hetifah berharap para guru dapat menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing dan memimpin proses transformasi pembelajaran yang lebih inovatif. Dengan pemanfaatan teknologi yang tepat, pendidikan Indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi yang adaptif, kreatif, dan siap bersaing di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.
Penulis: Redaksi Selasar
Editor: Yoghy Irfan

