Utama
PLN Kaltim PLN Samarinda alasan padam listrik kaltim padam listrik pln mati lampu pln mati lampu kaltim 
Jawaban PLN Tidak Menjawab Berbagai Pertanyaan tentang Pemadaman Listrik di Kaltim
SELASAR.CO, Samarinda - Pemadaman listrik bergilir masih menjadi keluhan warga di sejumlah wilayah Kalimantan Timur sejak Juni hingga September 2026 ini. Laporan masyarakat yang dihimpun Selasar melalui Instagram, Facebook, dan TikTok per 15 September 2026 menunjukkan pemadaman terjadi berulang dengan durasi bervariasi, mulai 2 hingga 12 jam.
Keluhan tersebut muncul di Samarinda, Balikpapan, Bontang, Kutai Kartanegara, hingga Kutai Barat. Warga tidak hanya mempertanyakan lamanya pemadaman, tetapi juga meminta penjelasan terbuka mengenai penyebab gangguan, kapasitas pasokan listrik, kepastian jadwal pemadaman, hingga kemungkinan kompensasi atas kerugian yang dialami.
Di Samarinda, warga Jalan Pangeran Suryanata melaporkan listrik padam selama tiga jam pada 11 September. Keluhan serupa disampaikan warga Loa Bakung, Sungai Kunjang, yang menyebut listrik mati berulang.
Warga KS Tubun Dalam melaporkan pemadaman selama empat jam pada Jumat siang dan tiga jam pada Sabtu sore. Sementara itu, wilayah Teluk Bayur Mangkupalas mengalami pemadaman selama dua jam pada 11 September.
Berita Terkait
Keluhan dengan durasi lebih panjang datang dari Lok Bahu, Gang Taqwa. Warga menyebut listrik padam hampir setiap hari, dengan pola listrik menyala sekitar dua jam kemudian kembali mati selama lima hingga enam jam.
Pemadaman itu disebut berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat, kegiatan usaha, hingga koneksi internet. Sejumlah warga bahkan menuntut transparansi PLN, meminta kompensasi atas kerugian materil, serta mengusulkan agar pengelolaan listrik dan air dibuka kepada pihak swasta.
PLN Sebut Sejumlah Pembangkit Mengalami Gangguan
Melihat persoalan tersebut, Selasar meminta waktu kepada manajemen PLN untuk melakukan wawancara di Samarinda. Namun, diarahkan untuk wawancara tertulis saja. Surat berisi list pertanyaan pun dilayangkan.
Menanggapi surat tersebut, Senior Manager Keuangan, Komunikasi dan Umum PLN UID Kaltimra, Muchamad Meiryandi, menyampaikan bahwa sistem kelistrikan Kalimantan saat ini mengalami gangguan pada sejumlah pembangkit. Antara lain, PLTU Cahaya Fajar Kaltim di Kutai Kartanegara, PLTU Kaltim Prima Coal di Kutai Timur, PLTU Teluk Balikpapan, dan PLTMG Bangkanai.
“Sejumlah pembangkit yang mengalami gangguan menyebabkan kemampuan pasokan listrik belum optimal,” kata Meiryandi.
Menurutnya, PLN tengah mengoptimalkan seluruh pembangkit yang tersedia sekaligus berkoordinasi dengan pengelola pembangkit untuk mempercepat proses pemulihan dan menambah pasokan daya ke sistem.
Pembangkit yang sedang dalam proses pemulihan ditargetkan kembali beroperasi secara bertahap pada minggu ketiga hingga minggu keempat September 2026.
Selain pemulihan pembangkit, PLN juga mengupayakan percepatan penambahan pembangkit sewa. Tambahan tersebut meliputi Pembangkit Batulicin berkapasitas 10 megawatt, pembangkit sewa tahap pertama 158 megawatt, serta tahap kedua 120 megawatt.
“Seluruh proses pemulihan terus dilakukan dengan mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan pembangkit,” ujarnya.
Meiryandi menegaskan PLN mengerahkan berbagai sumber daya untuk mempercepat pemulihan gangguan. PLN juga mengimbau pelanggan menggunakan listrik secara bijak, khususnya pada periode beban puncak.
“PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi serta mengharapkan pengertian dan dukungan masyarakat selama proses pemulihan berlangsung,” katanya.
Sejumlah Pertanyaan Belum Terjawab
Penjelasan tertulis dari PLN tersebut belum menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan Selasar. PLN hanya memaparkan adanya gangguan pada sejumlah pembangkit.
Adapun pertanyaan yang diajukan Selasar kepada PLN meliputi:
* Apa yang menyebabkan terjadinya pemadaman listrik bergilir di wilayah Kalimantan Timur? Tolong beri penjelasan jujur dan sedetail mungkin agar masyarakat dapat memahami apa yang tengah terjadi.
* Bagaimana pasokan listrik dan kebutuhan beban puncak di Kalimantan Timur saat ini? Apakah surplus atau defisit?
* Khusus Sistem Mahakam, bukankah sudah surplus sekitar 349 MW? Jika ada gangguan sistem di satu atau dua unit pembangkit, kemana cadangan daya yang diklaim surplus itu, sehingga menyebabkan defisit dan pemadaman bergilir selama berjam-jam?
* Apakah ada kebijakan efisiensi atau pemotongan anggaran operasional dan pemeliharaan sehingga berdampak pada pelayanan? Sebesar apa efisiensinya?
* Apa solusi yang sedang diupayakan dan kapan target terukur dari PLN KLT untuk menyelesaikan masalah pemadaman bergilir ini?
* Apakah pemberitahuan jadwal pemadaman bergilir masih dilakukan? Informasi tersebut sangat penting bagi masyarakat terdampak. Tetapi laporan dari masyarakat, jadwal tersebut tidak diunggah di media sosial, dan kalau pun ada, seringkali meleset.
* Adakah kompensasi yang akan diberikan oleh PLN kepada pelanggan yang menderita kerugian materil akibat pemadaman bergilir selama ini?
Dari tujuh pertanyaan tersebut, PLN baru memberikan penjelasan umum mengenai gangguan pada PLTU Cahaya Fajar Kaltim, PLTU Kaltim Prima Coal, PLTU Teluk Balikpapan, dan PLTMG Bangkanai.
PLN juga menyebut proses pemulihan pembangkit ditargetkan berlangsung bertahap pada minggu ketiga hingga minggu keempat September 2026, serta mengupayakan tambahan pasokan melalui pembangkit sewa.
Namun, jawaban itu belum secara spesifik menjelaskan besaran daya yang hilang akibat gangguan, soal efisiensi anggaran pemeliharaan, kepastian jadwal pemadaman, maupun kompensasi bagi pelanggan terdampak.
Karena itu, jawaban PLN masih menyisakan sejumlah pertanyaan penting yang sebelumnya telah diajukan Selasar, terutama mengenai transparansi kondisi sistem kelistrikan dan kepastian kapan masyarakat terbebas dari pemadaman bergilir.
Penulis: Boy
Editor: Yoghy Irfan

