Utama

gunung manggah kecelakaan Irwan Sungai Dama 

Soal Jalur Maut Gunung Manggah, Ini yang Sebaiknya Dilakukan



Suasana jalan Gunung Manggah yang kerap terjadi kecelakaan lalu lintas
Suasana jalan Gunung Manggah yang kerap terjadi kecelakaan lalu lintas

SELASAR.CO, Samarinda – Kemarin (30/1/2020), 4 nyawa tidak berdosa melayang di Jalan Otto Iskandardinata, Kelurahan Sungai Dama. Mereka diseruduk truk pasir yang hilang kendali saat turun dari Gunung Manggah.

Selain kemacetan, kecelakaan di tanjakan Gunung Manggah juga sudah bukan pemandangan asing bagi warga sekitar. Seperti penuturan Muhammad Yusuf, warga Sungai Dama yang sudah satu setengah tahun berjaga di pos panitia pembangunan salah satu musala di kawasan tersebut.

Untuk kecelakaan kendaraan roda dua, menurut Yusuf, sudah tidak terhitung jumlahnya. Penyebab kecelakaan pengendara roda dua lebih banyak karena jalan yang licin, atau tergelincir akibat menghantam batu jalanan.

Sedangkan kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan besar, selama dua tahun terakhir ada lima kali kejadian. “Satu fuso, satu trailer, satu mobil, dan dua truk. Yang trailer ada korban tapi tidak meninggal. Kemarin saja yang ada korban jiwanya,” ujar Yusuf kepada SELASAR, Jumat (31/1/2020).

Tidak heran, warga yang sudah hafal dengan kejadian kecelakaan di Gunung Manggah, mendirikan empat balok ulin ukuran 20x20 centimeter dibalut ban motor bekas. Jaga-jaga agar kendaraan tidak menyeruduk tempat tinggal mereka.

Berdasarkan data yang dihimpun SELASAR, kecelakaan truk fuso terjadi pada Jumat 11 Mei 2018. Truk ukuran besar tersebut gagal menanjak di Gunung Manggah dan menghantam satu rumah warga yang berada di sebelah kiri jalan. Kejadian berikutnya adalah truk kontainer dengan nomor polisi KT 8780 BL yang dikendarai AM (47) yang melaju dari arah Sambutan hilang kendali di turunan pada Selasa 5 Juni 2018. Truk meluncur menyeruduk empat mobil dan tiga motor di depannya. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Pada Kamis 20 Juni 2019, saat orang-orang tengah terlelap, mobil Land Cruiser dengan nomor polisi BG 1921 UP yang dikendarai W (29) warga Kutai Barat nyungsep menabrak rumah warga setelah dia mengalami microsleep saat turunan Gunung Manggah. Terakhir pada Rabu 11 September 2019, kembali terjadi kecelakaan beruntun disebabkan truk roda enam bernopol KT 8576 CC yang mengangkut air mineral. Lagi-lagi akibat rem blong. Truk yang dikemudikan Rasyid (53) itu pun menyeruduk dua mobil minibus dan tiang provider telekomunikasi.

Yusuf yang sejak kecil sudah tinggal di kaki bukit Gunung Manggah tersebut mengungkapkan, kecelakaan di tanjakan tersebut sudah terjadi sejak lama. Dibanding dahulu, jumlah kecelakaan sudah jauh berkurang. Hal itu disebabkan ketinggian tanjakan yang dipangkas, dan jalan yang sudah membaik.

“Kalau dulu kecelakaan pas menanjak, sekarang lebih banyak pas turunan karena rem blong tadi,” kata Yusuf.

Kejadian rem blong pernah dialami sendiri oleh Yusuf, ketika dirinya mengemudikan mobil dengan teman-temannya. Beruntung mobil masih dapat dikendalikan sehingga tidak terjadi kecelakaan seperti yang sudah-sudah.

“Pas turunan disitu remnya diinjak tidak bisa, akhirnya kita main rem tangan saja. Anehnya waktu sudah di pencucian mobil, bisa lagi (tidak blong),” jelasnya.

Pengamat tata kota Samarinda, Haryoto HP memberikan pandangannya soal tanjakan Gunung Manggah yang kerap makan korban. Tidak tanggung-tanggung dirinya menamai tanjakan tersebut dengan sebutan ‘jalur maut’ karena kompleksitas yang ada.

Selain faktor kendaraan dan pengemudi, Haryoto mengungkapkan, medan jalan cukup menyulitkan. Tingkat kemiringan tanjakan memang tidak begitu curam, namun karena disertai tikungan membuat jarak pandang yang terbatas. Belum lagi adanya penyempitan jalan akibat aktivitas jualan kayu bekas di kiri kanan, dan tidak adanya bahu jalan. Ditambah persimpangan Jalan Damai yang sering kali membuat pengguna jalan yang turun dari arah Sambutan harus mengantre.

“Jualan kayu kalau ada pikap disitu mau ngangkut atau mau turunin, orang mau nikung harus ke tengah dulu. Yang nanjak kadang tidak kuat kemudian ketemu di tengah, kan bahaya,” ujar mantan Kabid Bina Marga PUPR Samarinda ini.

Kondisi tersebut menjadi PR besar bagi Pemkot Samarinda agar Gunung Manggah tidak terus memakan korban. Pasalnya semua kendaraan yang menuju dalam kota saat ini harus melewati jalur maut tersebut, terlebih jika nanti Tol Balikpapan-Samarinda dibuka seluruhnya.

“Makanya untuk jangka menengah jalan tembusan Mahkota II yang menuju Tanah Merah atau Lempake harus segera dibangun, biar kendaraan tidak lewat Sungai Dama,” jelasnya.

Sedang untuk solusi jangka pendek, Haryoto menyarankan Pemkot melalui dinas-dinas terkait harus membuat langkah konkret. Seperti memasang rambu-rambu lalu lintas mulai dari tanjakan Jalan Sultan Sulaiman, melakukan manajemen lalu lintas baru, memasang pembatas jalan, hingga menertibkan pedagang yang ada di kiri kanan jalan.

“Misal ada masalah lagi, (mobil) meluncur kan disikat semua. Kalau longgar kan enak tidak makan korban lagi,” tutupnya.

Sementara itu anggota DPR RI dapil Kaltim, Irwan, saat kunjungan kerja bersama komisi V ke Samarinda sempat menyinggung soal lalu lintas di Jalan Otto Iskandardinata. Dia menginginkan adanya pembangunan flyover atau jalan layang mulai dari Gunung Manggah hingga Jalan Hidayatullah, mengingat lalu lintas yang padat dan tidak adanya jalan alternatif lain yang dapat dilalui.

“Saya sudah menyampaikan solusi terkait Sungai Dama, Gunung Manggah ini, dan itu kuncinya ada usulan dari Pemerintah Kota Samarinda ke Menteri PUPR. Komisi V DPR RI mendukung hal ini,” ujar Irwan.

Soal apakah memungkinkan membangun flyover disana, mengingat lokasi padat penduduk. Pemuda asal Kutai Timur ini tidak ingin pesimistis dan menyerahkan kepada ahlinya. “Kalau Insinyur mau buat, bisa saja,” pungkasnya.

 

Penulis: Fathur
Editor: Awan

Berita Lainnya