Utama

MBG Keracunan MBG di Kaltim 

SPPG Waru Ditutup Sementara Usai Puluhan Siswa SD Keracunan MBG, Investigasi Dilakukan



Kadinkes Kaltim, Jaya Mualimin. Foto: Selasar/Boy
Kadinkes Kaltim, Jaya Mualimin. Foto: Selasar/Boy

SELASAR.CO, Samarinda – Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, resmi dihentikan sementara menyusul peristiwa keracunan massal yang menimpa puluhan siswa sekolah dasar, Rabu (11/2/2026). Penghentian dilakukan untuk kepentingan investigasi serta memastikan keamanan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Peristiwa tersebut menimpa 25 siswa SDN 008 Waru yang mengeluhkan pusing, mual, hingga muntah setelah menyantap makanan dari dapur penyedia MBG. Para siswa sempat mendapatkan penanganan medis dan dipantau kondisinya oleh tenaga kesehatan setempat.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, mengatakan kasus tersebut menjadi perhatian serius pemerintah provinsi. Menurutnya, meski MBG merupakan program strategis untuk peningkatan gizi anak, faktor keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama.

Jaya menegaskan pihaknya sangat mendukung keberlanjutan MBG yang kini memasuki tahun kedua pelaksanaan. Program ini dinilai memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak serta sebagai upaya jangka panjang menekan angka stunting di wilayah Kalimantan Timur.

Namun demikian, ia mengakui bahwa dalam pelaksanaannya terdapat berbagai tantangan, salah satunya terkait pengelolaan makanan di dapur penyedia. Dugaan awal, keracunan terjadi akibat proses pengolahan yang tidak sesuai dengan standar sanitasi dan keamanan pangan.

Terkait kasus di Kecamatan Waru, Jaya menyebut laporan resmi dari dinas kesehatan kabupaten belum diterima secara tertulis. Meski begitu, melalui koordinasi internal lintas sektor, Dinas Kesehatan Provinsi telah memperoleh informasi bahwa operasional SPPG setempat dihentikan sementara sambil menunggu hasil penyelidikan.

“Penghentian ini bertujuan memberi ruang bagi petugas untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh, baik terhadap proses memasak, penyimpanan bahan makanan, hingga kebersihan peralatan dapur. Langkah ini diharapkan dapat mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari,” ucap Jaya, Jumat (13/2/2026).

Jaya menjelaskan bahwa sampel makanan yang dikonsumsi para siswa telah diamankan untuk dikirim ke laboratorium kesehatan provinsi dan kabupaten. Pemeriksaan akan difokuskan pada kemungkinan adanya bakteri atau zat berbahaya yang membuat makanan tidak layak konsumsi.

“Melalui uji kultur, bakteri akan dikembangbiakkan agar bisa diidentifikasi secara pasti. Biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat hari. Dari situ baru bisa dipastikan penyebab keracunan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa seluruh proses investigasi dilakukan secara ilmiah dan objektif. Pemerintah tidak ingin berspekulasi sebelum hasil laboratorium keluar, mengingat temuan tersebut akan menjadi dasar penentuan langkah lanjutan.

Menurutnya, evaluasi berkala akan terus dilakukan sebagai bentuk pengawasan pemerintah terhadap program MBG. Ia berharap seluruh penyedia layanan gizi mematuhi standar yang telah ditetapkan demi menjamin keamanan serta kualitas makanan bagi para siswa.

“Program ini sangat baik untuk masa depan anak-anak kita. Namun keberhasilannya harus dibarengi dengan pengelolaan yang higienis dan bertanggung jawab,” pungkas Jaya.

Penulis: Boy
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya