Utama

simulasi kebencanaan di ruang bermain anak 

Simulasi Kebencanaan di Ruang Bermain Anak, Suwarso: Bencana Tidak Pernah Menunggu Kita Siap



Seorang anak sekolah tengah meragakan jadi korban kebencanaan di taman dalam simulasi kebencanaan di ruang aman bermain anak.
Seorang anak sekolah tengah meragakan jadi korban kebencanaan di taman dalam simulasi kebencanaan di ruang aman bermain anak.

SELASAR.CO, Samarinda - Simulasi kebencanaan digelar di Taman Cerdas, Jalan S. Parman, Kelurahan Gunung Kelua, Samarinda Ulu, ruang publik yang setiap hari digunakan anak-anak untuk bermain. Kegiatan ini berlangsung di tengah agenda penilaian Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) berkualitas Utama yang tengah dikejar Pemerintah Kota Samarinda melalui DP2PA.

Pada simulasi tersebut, lokasi taman diposisikan sebagai area terdampak hujan deras dengan potensi banjir. Anak-anak dan pengunjung diarahkan mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul yang telah ditentukan. Rambu-rambu kebencanaan dan peta situasi dipraktikkan langsung agar pengunjung mengetahui arah evakuasi dan lokasi aman.

Kepala BPBD Samarinda, Suwarso, menegaskan bahwa bencana tidak datang berdasarkan kesiapan manusia atau agenda pemerintah.

“Bencana itu tidak pernah menunggu kita siap,” kata Suwarso, pada Jumat (30/1/2026).

Ia menjelaskan, yang paling krusial dalam mitigasi bencana bukan sekadar fasilitas, tetapi pemahaman orang-orang yang berada di lokasi rawan.

“Yang harus kita siapkan adalah manusianya. Anak-anak dan pengunjung taman harus tahu, kalau ada kejadian darurat, ke mana harus lari dan di mana harus berkumpul,” ujarnya.

Simulasi juga melibatkan sejumlah unsur, mulai dari BPBD, tim medis, hingga penanganan trauma. Setelah proses evakuasi, peserta diarahkan ke area yang lebih tinggi dan dinilai aman dari genangan. Di titik tersebut, skenario penanganan luka ringan dan trauma healing turut diperagakan untuk mengantisipasi kondisi panik saat bencana.

Meski berjalan tertib, simulasi ini menyisakan catatan kritis. Risiko banjir di kawasan Samarinda Ulu bukan ancaman sesekali, melainkan berulang setiap musim hujan. Namun kesiapsiagaan baru diuji melalui latihan terjadwal yang beririsan dengan proses penilaian. Suwarso menyebut, latihan kebencanaan seharusnya tidak berhenti pada momentum tertentu saja.

“Prinsip kebencanaan itu satu, latihan harus mendahului bencana. Kalau tidak pernah dilatih, jangan berharap semua orang tertib ketika bencana benar-benar terjadi,” tegasnya.

Penulis: Hasyim Ilyas
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya