Utama
Gratispol Pemprov Kaltim Berita Kaltim NIK Pendaftar Gratispol 
Pemprov Kaltim Temukan Puluhan NIK Bermasalah dalam Verifikasi Data Mahasiswa Penerima GratisPol
SELASAR.CO, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) masih melakukan proses verifikasi dan validasi data mahasiswa yang mendaftar dalam program bantuan pendidikan GratisPol. Dalam proses tersebut, ditemukan puluhan data mahasiswa yang menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang tidak sesuai.
Kepala Biro Kesra Pemprov Kaltim, Dasmiah, meminta mahasiswa bersabar karena proses pemeriksaan data dilakukan secara ketat untuk memastikan bantuan diberikan tepat sasaran.
“Mahasiswa diminta bersabar. Proses di sini cukup berat karena kami harus melakukan verifikasi dan validasi data satu per satu. Semua harus berdasarkan KTP,” ujar Dasmiah, Senin (9/3/2026).
Ia menjelaskan, dalam proses pengecekan ditemukan sejumlah NIK yang tidak sesuai dengan identitas pendaftar. Setelah dilakukan penelusuran melalui data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), diketahui bahwa beberapa NIK yang digunakan bukan milik pendaftar.
Berita Terkait
“Ada yang menggunakan NIK milik orang lain. Saat kami cek di Dukcapil, ternyata bukan orang Kaltim. Kasus seperti ini ada beberapa, bahkan puluhan,” katanya.
Menurut Dasmiah, kecurigaan biasanya muncul ketika data tempat lahir yang tercantum tidak sesuai dengan domisili pendaftar. Dari situ tim melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan keabsahan data.
“Biasanya kami curiga ketika melihat tempat lahirnya bukan di Samarinda. Setelah ditelusuri ternyata memang bukan orang Kaltim,” ujarnya.
Jika ditemukan ketidaksesuaian seperti itu, data pendaftar langsung dicoret dari sistem. Dasmiah menjelaskan bahwa data awal dimasukkan sendiri oleh mahasiswa melalui laman pendaftaran daring.
“Yang memasukkan NIK itu mahasiswa sendiri saat mendaftar melalui situs web. Kampus hanya menyalin data yang sudah dimasukkan mahasiswa,” katanya.
Selain penggunaan NIK yang tidak sesuai, pihaknya juga menemukan sejumlah data mahasiswa yang melebihi batas usia yang ditetapkan dalam program tersebut. Namun, data tersebut kemudian ditarik kembali oleh pihak perguruan tinggi setelah dilakukan pengecekan.
“Data mahasiswa yang melebihi batas usia sebenarnya berasal dari kampus. Setelah mereka menyadari kesalahan tersebut, datanya langsung ditarik kembali,” jelasnya.
Dasmiah menyebutkan, kasus data bermasalah tersebut ditemukan di beberapa perguruan tinggi, terutama di Samarinda. Bahkan terdapat pendaftar dari luar daerah yang mencoba mengikuti program tersebut dengan menggunakan NIK milik warga Kalimantan Timur.
“Modusnya biasanya menggunakan NIK orang lain. Misalnya NIK milik orang Kaltim yang tidak kuliah dipakai oleh orang lain agar bisa mendapatkan program ini,” katanya.
Ia menegaskan bahwa seluruh data pendaftar akan dicek langsung melalui sistem Dukcapil sehingga identitas yang tidak sesuai dapat segera terdeteksi.
“Kami melakukan konfirmasi langsung ke Dukcapil. Ketika dicek muncul nama yang berbeda, langsung terlihat bahwa NIK tersebut bukan miliknya,” ujarnya.
Penulis: Boy
Editor: Yoghy Irfan

