Utama

pemprov kaltim rudy masu'ud berita rudy mas'ud berita kaltim 

Rudy Mas’ud Bicara Soal Protokol yang Protektif: Khawatir Gubernur Keliru Bicara



Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud. Foto: Selasar/Boy
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud. Foto: Selasar/Boy

SELASAR.CO, Samarinda – Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, akhirnya mengungkap alasan di balik ketatnya pengawalan protokol dan tim humas saat dirinya berhadapan dengan awak media. Meski berkomitmen pada kebebasan pers, Rudy mengakui adanya pagar birokrasi yang kerap membatasi wawancara cegat pintu (doorstop).

Rudy menjelaskan bahwa pembatasan tersebut bukan instruksi pribadinya untuk menutup diri, melainkan langkah defensif dari internal Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim guna menghindari kesimpangsiuran informasi.

“Sebenarnya tidak ada larangan bagi pers. Hanya saja, teman-teman di Pemprov sering membatasi agar isu tertentu tidak mendadak viral ke arah negatif. Ada kekhawatiran jika saya bicara tanpa koordinasi data dengan dinas terkait, pernyataannya terkesan terburu-buru,” kata Rudy, Kamis (23/4/2026).

Rudy secara terbuka menceritakan keresahan staf komunikasinya. Tim protokol merasa terbebani jika sang gubernur mengeluarkan pernyataan yang keliru di depan publik, karena secara hierarki, tidak ada bawahan yang sanggup mengoreksi ucapan seorang kepala daerah.

“Staf saya sering bilang, ‘Pak, biar kami saja yang bicara. Kalau kami salah, Bapak bisa meluruskan. Tapi kalau Pak Gubernur yang salah bicara, tidak ada lagi yang bisa mengoreksi Bapak,’” ujarnya menirukan kekhawatiran bawahannya.

Menanggapi hal itu, Rudy justru meminta media untuk tidak segan menjalankan fungsi kontrol. Ia mempersilakan para jurnalis untuk menegur atau meluruskan kebijakannya jika dirasa ada yang menyimpang.

Dalam kesempatan tersebut, Rudy juga menyoroti pentingnya media menjaga martabat daerah dalam mengemas isu sensitif. Ia menyinggung pemberitaan viral terkait angka Rp25 miliar yang sempat mencoreng citra Kaltim di level nasional.

Rudy berpesan agar media tidak hanya mengejar viralitas, tetapi juga memikirkan dampak terhadap harga diri Benua Etam. Menariknya, ia menggunakan analogi jam tangan pintar (smartwatch) murah yang melingkar di pergelangan tangannya untuk menjelaskan konsep martabat.

“Barang kita boleh dibilang murah, tapi jangan murahan. Jam tangan saya ini harganya terjangkau, tapi fungsinya mahal bagi saya: bisa menerima telepon hingga notifikasi WhatsApp. Buat apa jam mewah kalau fungsinya nol?” tuturnya.

 

Penulis: Boy
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya