Feature

Ayam Kalasan  Devita Mardiana Fiture Picer  Lauk Nusantara 

Berburu Berkah, Menuai Laba, Perjuangan Devita Bersama Lauk Nusantara



Foto: Devita Mardiana saat menunjukkan produk usahanya.
Foto: Devita Mardiana saat menunjukkan produk usahanya.

Di sebuah sudut Kota Samarinda, di Jalan Batu Cermin Gang Kami, aroma gurih rempah ayam kalasan dan wangi kacang dari sambal pecel menyeruak dari sebuah dapur yang tak pernah sepi. Di sana, seorang perempuan muda dengan sorot mata penuh determinasi sedang sibuk memastikan setiap kemasan kedap udara tersegel dengan sempurna. Ia adalah Devita Mardiana, perempuan berusia 33 tahun yang kini menjadi nakhoda bagi usaha keluarga bernama "Lauk Nusantara".

Oleh: Bonny Pradinda Putra

Bagi Devita, bisnis makanan beku (frozen food) bukan sekadar urusan mencari profit di tengah ketatnya persaingan UMKM di Benua Etam. Di balik setiap paket ayam yang ia kirim, ada cerita tentang bakti seorang anak, keteguhan memegang prinsip tanpa riba, dan misi kemanusiaan yang ia rajut bersama sang ibu.

Kisah Lauk Nusantara bermula dari sebuah masa yang kelam bagi banyak orang: Pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Kala itu, dunia seolah berhenti berputar. Pembatasan sosial membuat orang-orang kesulitan mencari bahan pangan, sementara kebutuhan akan makanan sehat dan praktis melonjak tajam.

Devita melihat ibunya, Sariani (47), seorang guru PAUD yang memiliki jaringan pertemanan luas, mulai kewalahan menerima pesanan. Sang ibu sebenarnya sudah lama memiliki usaha katering bernama "Sari Devi Catering", namun pandemi memaksa mereka untuk berinovasi. Resep sambal pecel legendaris yang sudah ada sejak Devita duduk di bangku SMP menjadi modal awal.

"Awalnya hanya sambal pecel. Tapi kemudian teman-teman Ibu minta dibuatkan lauk pauk yang simpel. Akhirnya tercetuslah ayam kalasan," kenang lulusan Magister Manajemen Universitas Mulawarman ini.

Awalnya, produk dikirim dalam wadah plastik biasa sesuai pesanan harian. Namun, melihat kondisi sang ayah, Sartono (51), yang menderita penyakit jantung dan tidak bisa lagi bekerja berat, serta sang ibu yang kian sepuh, Devita mengambil keputusan besar pada tahun 2023. Ia mengambil alih kendali penuh dan mentransformasi usaha tersebut menjadi bisnis frozen food yang lebih modern dan tahan lama.

SENTUHAN SYARIAH DARI AKAR

Hal yang paling unik dari perjalanan Lauk Nusantara adalah prinsip "Syariah dari Akar" yang mereka terapkan. Di saat banyak pelaku usaha berlomba-lomba mencari pinjaman modal untuk ekspansi, keluarga Devita justru bergeming. Baginya dan sang ibu, keberkahan jauh lebih utama daripada pertumbuhan yang dipaksakan melalui hutang.

"Ibu saya tidak pernah mau mengambil pinjaman bank. Kami hanya memutar apa yang kami dapat. Omset besar belum tentu profit besar, tapi alhamdulillah, dengan prinsip syariah ini semua selalu tercukupkan," ujar anak sulung dari tiga bersaudara ini.

Bagi Devita, syariah bukan sekadar label, melainkan perilaku ekonomi. Mereka hanya menerima pembayaran tunai di awal, tanpa sistem invoice yang rumit, demi menjaga perputaran modal yang bersih. Prinsip ini juga tercermin dalam cara mereka mengelola Sumber Daya Manusia (SDM).

Salah satu karyawannya, yang akrab disapa Mama Thomas, adalah seorang janda yang suaminya telah tiada. Mama Thomas berjuang dengan kondisi kesehatan yang tidak stabil karena penyakit diabetes dan gejala stroke. Secara hitungan bisnis murni, mempekerjakan orang sakit tentu tidak efisien. Namun, di dapur Lauk Nusantara, niat menolong sesama jauh lebih tinggi nilainya daripada angka efisiensi.

"Niat hati kami memang mau menolong. Kalau mau bisnis yang stabil, tentu cari pekerja yang sehat. Tapi orang tua saya lebih mengedepankan membantu orang yang sedang susah," ungkap Wanita yang memiliki dua saudara itu.

SENTUHAN BANK INDONESIA: DIGITALISASI DAN STANDARDISASI

Meski berdiri di atas landasan nilai-nilai tradisional dan sosial, Devita sadar bahwa untuk bertahan, ia harus "naik kelas". Langkah ini membawanya bersentuhan dengan Bank Indonesia (BI) melalui program Digital Kaltim Preneur pada akhir 2025.

Sentuhan Bank Indonesia menjadi titik balik bagi sisi profesionalisme Lauk Nusantara. Melalui pembinaan BI, Devita belajar bahwa niat baik saja tidak cukup; diperlukan akurasi dalam perhitungan bisnis. Ia diajarkan cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) yang tepat, terutama saat merambah ke dunia e-commerce yang memiliki potongan biaya admin dan fee platform.

"Dulu kami tidak tahu kalau jualan online itu ada pembagian fee-nya. Berkat pembinaan BI, kami jadi melek digital, mulai dari cara bikin konten yang menarik hingga manajemen keuangan digital," tuturnya.

Tak hanya itu, BI juga mendorong penguatan aspek legalitas syariah melalui sertifikasi halal. Proses ini diakui Devita sebagai perjuangan yang sangat berat. Sebagai produsen olahan unggas, ia harus membuktikan kehalalan dari hulu hingga hilir mulai dari proses penyembelihan di hulu hingga bahan baku impor yang digunakan.

"Saya bahkan sampai mengirim email langsung ke produsen daging di Australia untuk meyakinkan bahwa produk mereka benar-benar halal secara internasional. Sertifikasi halal ini bukan cuma selembar kertas bagi kami, tapi janji kepada konsumen," tegas perempuan kelahiran 10 April 1993 tersebut.

DARI SAMARINDA MENUJU DUNIA

Berkat ketekunan dan kualitas rasa yang konsisten, Lauk Nusantara yang semula hanya dipasarkan dari mulut ke mulut kini mulai "terbang" jauh. Privilege sang ibu sebagai guru PAUD yang memiliki banyak rekanan lintas negara menjadi pintu masuk.

Kini, sambal dan ayam beku buatan Devita sering dipesan sebagai buah tangan atau yang biasa dikenal dengan istilah kekinian “jastip” untuk dibawa ke luar negeri. Produknya telah menjajaki pasar di Belanda, Australia, hingga Turki. Bahkan, produk Lauk Nusantara menjadi bekal favorit bagi jemaah umrah dan haji asal Kalimantan Timur yang merindukan cita rasa nusantara di tanah suci.

Dengan kapasitas produksi mencapai 150 ekor ayam per bulan dan omset yang kini stabil di angka Rp15 juta per bulan, Devita membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi tulang punggung keluarga sekaligus penggerak ekonomi syariah.

Bayuadi Hardiyanto, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, memberikan apresiasi tinggi terhadap model usaha seperti ini. Menurutnya, Bank Indonesia berkomitmen terus mendorong perluasan ekosistem ekonomi syariah di Bumi Etam melalui berbagai literasi dan business matching.

"Kami berharap para pelaku bisnis syariah di Kaltim, seperti Devita, dapat terus berkembang. Kami memfasilitasi mulai dari sertifikasi halal hingga peluang ekspor agar sektor syariah menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi daerah," ujar Bayuadi.

Kini, dengan 15 item produk yang semuanya telah bersertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Devita Mardiana menatap masa depan dengan optimisme. Lauk Nusantara bukan lagi sekadar bisnis keluarga, melainkan bukti nyata bahwa di tangan seorang perempuan yang gigih, doa seorang ibu, dan pendampingan yang tepat dari lembaga seperti Bank Indonesia, sebuah usaha rumahan mampu menghadirkan berkah yang melintasi batas samudera.

Bagi Devita, kebahagiaan sejati bukanlah saat melihat saldo rekeningnya bertambah, melainkan saat melihat Mama Thomas bisa tersenyum kembali dan ayahnya merasa bangga melihat anak perempuannya mampu menjaga terang di rumah mereka tetap menyala.

Penulis: Boy

Berita Lainnya