Ekobis

BI Kaltim Bank Indonesia 

Sinergi Digital Farming BI Kaltim: Hasil Panen Padi Melonjak Hingga 6,5 Ton Per Hektare



Panen Demplot Padi LEISA dan Digital Farming di Kecamatan Anggana, Kukar. Foto: Selasar/Boy
Panen Demplot Padi LEISA dan Digital Farming di Kecamatan Anggana, Kukar. Foto: Selasar/Boy

SELASAR.CO, Samarinda - Teknologi pertanian mulai menunjukkan dampaknya terhadap produktivitas padi di Kalimantan Timur. Penerapan metode Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) yang dipadukan dengan digital farming berhasil mendorong hasil panen dari sebelumnya 4,8 ton menjadi 6,95 ton per hektare.

Capaian tersebut terlihat dalam panen demonstrasi plot (demplot) padi di Gapoktan Mandiri. Program yang digagas melalui kolaborasi Bank Indonesia bersama pemerintah daerah, akademisi, dan kelompok tani itu kini didorong untuk tidak berhenti sebagai proyek percontohan.
Selain meningkatkan produksi, penerapan teknologi juga memberikan efisiensi dalam proses budidaya. Mulai dari pembibitan, pemupukan, pengendalian hama hingga penyemprotan menggunakan drone sprayer dilakukan dengan pendekatan yang lebih terukur.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, mengatakan konsep LEISA menitikberatkan pada pemanfaatan sumber daya lokal. Dengan pendekatan tersebut, peningkatan produktivitas diupayakan tanpa ketergantungan tinggi terhadap input dari luar.

Efisiensi paling terlihat pada proses pemupukan dan penyemprotan pestisida. Jika sebelumnya petani membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengerjakan satu hektare lahan, penggunaan drone sprayer memangkas durasi pekerjaan secara signifikan.

“Di samping meningkatkan produksi, juga menekan biaya. Dengan penggunaan drone sprayer, pemupukan dan penyemprotan pestisida yang sebelumnya memerlukan waktu 6 sampai 8 jam per hektare kini hanya sekitar 10 menit per hektare,” ujar Jajang.

Dengan hasil tersebut, produktivitas padi meningkat sekitar 44,8 persen dibandingkan capaian sebelumnya. Namun, Jajang menyebut persoalan ketersediaan air masih menjadi salah satu tantangan yang perlu diselesaikan untuk mendukung penerapan metode serupa di wilayah lain.

Di sisi lain, pemerintah provinsi melihat peningkatan produktivitas tersebut sebagai peluang untuk memperkuat target swasembada beras Kaltim.

Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengapresiasi capaian petani setelah menerapkan Bioinvigorasi hingga LEISA Digital Farming. Menurutnya, peningkatan hasil panen harus terus dikejar agar produktivitas per hektare semakin tinggi.
“Peningkatannya sangat luar biasa. Kita harus punya target lebih. Ketika produksi sekarang minimal 4 ton per hektare, kalau bisa nanti minimal bisa 7 ton per hektare,” jelasnya.

Seno menyebut Kaltim saat ini memiliki sekitar 28.000 hektare sawah aktif. Hingga Agustus, produksi panen telah mencapai lebih dari 200 ribu ton gabah kering.
Pemerintah provinsi juga menyiapkan perluasan lahan melalui program cetak sawah baru. Sekitar 12.000 hektare lahan ditargetkan bertambah sehingga luas sawah aktif Kaltim diproyeksikan mencapai kurang lebih 40.000 hektare pada 2027.

“Ada tambahan 12.000 hektare cetak sawah baru. Artinya, kita akan memiliki kurang lebih sekitar 40.000 hektare sawah aktif pada tahun 2027,” tuturnya.

Menurut Seno, capaian demplot LEISA dan Digital Farming tidak seharusnya berhenti sebagai uji coba. Teknologi tersebut perlu diperluas ke sentra-sentra pertanian lainnya agar manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak petani.

Evaluasi terhadap demplot, kata dia, juga menunjukkan adanya efisiensi biaya produksi. Penggunaan pupuk kimia dapat ditekan dengan pemanfaatan pupuk organik, sementara pengendalian hama dilakukan dengan metode yang lebih terukur.

“Kita ingin tidak hanya berhenti di demplot saja, melainkan ada replikasi ke wilayah-wilayah lain juga. Sehingga, ada peningkatan produktivitas lebih tinggi lagi,” tutupnya.

Penulis: Boy
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya