Ekobis

bi kaltim bank kaltim pemgguna qris kaltim 

Pengguna QRIS di Kaltim Tembus 841 Ribu, Transaksi Digital Meroket



Kepala BI Kaltim, Budi Widihartanto Saat Memaparkan Kondisi Pengguna QRIS di Kaltim. Foto: Selasar/boy
Kepala BI Kaltim, Budi Widihartanto Saat Memaparkan Kondisi Pengguna QRIS di Kaltim. Foto: Selasar/boy

SELASAR.CO, Samarinda - Perkembangan sistem pembayaran digital di Kalimantan Timur terus mencatatkan tren positif hingga penghujung 2025. Data Bank Indonesia menunjukkan, jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah ini mencapai 841,6 ribu pengguna hingga November 2025, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 832,6 ribu pengguna.

Pertumbuhan tersebut sejalan dengan bertambahnya jumlah pelaku usaha yang mengadopsi QRIS. Hingga November 2025, tercatat sebanyak 780,6 ribu merchant di Kalimantan Timur telah menggunakan QRIS, naik signifikan dari 763,1 ribu merchant pada Oktober 2025.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, mengatakan nilai transaksi QRIS sepanjang November 2025 menunjukkan capaian yang cukup kuat dan mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital.

“Secara nominal, transaksi QRIS pada November 2025 mencatatkan angka yang tinggi, seiring dengan semakin luasnya penggunaan pembayaran non-tunai di masyarakat,” ujar Budi, Sabtu (24/1/2026).

Meski demikian, secara umum volume transaksi sistem pembayaran non-tunai di Kalimantan Timur justru mengalami kontraksi sebesar 20,6 persen secara tahunan (year on year), lebih dalam dibandingkan kontraksi pada bulan sebelumnya.

“Terkait peredaran uang kartal, Kalimantan Timur berada pada posisi net outflow sebesar Rp491,2 miliar,” jelasnya.

Sementara itu, sektor perbankan daerah tetap menunjukkan ketahanan. Penyaluran kredit di Kalimantan Timur pada November 2025 tercatat tumbuh 3,90 persen (year on year), didorong oleh kuatnya kredit konsumsi dan investasi, meskipun kredit modal kerja masih mengalami tekanan.

Menurut Budi, pertumbuhan kredit tersebut ditopang oleh kondisi stabilitas sistem keuangan yang tetap terjaga.

“Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang berada pada level rendah, yakni 1,70 persen,” pungkasnya.

Penulis: Boy
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya