Pariwara

dinkes samarinda kaltim 

Dinkes Samarinda Ingatkan Pencegahan dan Bahaya Stunting



Dinkes Samarinda Ingatkan Pencegahan dan Bahaya Stunting
Pemeriksaan kesehatan pada anak. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

SELASAR.CO, Samarinda - Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Hal itu mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Samarinda, dr Rudy Agus Riyanto, menjelaskan stunting dapat terlihat dari tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan standar anak seusianya. Jika terlihat tinggi badan pada anak lebih pendek dari yang seharusnya maka masuk kategori mengalami gagal tumbuh.

"Contoh anak laki-laki 12 bulan panjang badan normalnya 71 cm - 80,5 cm. Sedangkan untuk perempuan 16 bulan 73 cm - 84,2 cm. Jika panjang badan kurang dari itu, maka bisa dikatakan stunting," jelasnya.

Oleh karena itu, perlu adanya pemeriksaan lebih lanjut di posyandu atau fasilitas kesehatannya lainnya, untuk memantau kondisi kesehatan dan pertumbuhan balita secara rutin. Postur tubuh anak yang menjadi lebih pendek tidak hanya berpengaruh dari sisi fisik saja, namun dikhawatirkan dapat mempengaruhi kemampuan bersosialisasi anak dengan teman-teman seusianya. Prestasi anak dalam bidang olahraga tertentu seperti bidang basket, bulu tangkis, dan sepakbola pun akan turun, karena harus mengeluarkan tenaga ekstra saat bergerak melawan orang yang memiliki postur lebih tinggi.

"Karena secara tinggi badan anak yang mengalami stunting lebih pendek, otomatis langkahnya berlari ketika olahraga juga lebih pendek. Jika melawan orang dengan pertumbuhan normal, dia harus mengeluarkan langkah dua atau tiga kali lipat. Sehingga staminanya terkuras," terang Rudy.

Namun yang paling mengkhawatirkan dari stunting pada anak adalah berkurangnya sel-sel pada otak sehingga menurunkan kemampuan. Bahkan ada risiko besar anak yang terhambat pertumbuhannya mengalami retardasi mental.

"Mungkin ada yang bilang tetangga atau keluarga saya anak tetap pintar, kok, walaupun tubuhnya pendek. Tapi yang harus kita ingat, itu merupakan kasus satu di antara sejuta," ujar Rudy.

Oleh karena itu pencegahan stunting pada anak sangatlah penting. Salah satunya melalui pemenuhan kebutuhan gizi, lalu pencegahan infeksi atau anak sakit berulang-ulang.

Pencegahan dapat dilakukan tidak hanya sejak bayi dilahirkan. Bahkan jauh sebelum seorang ibu dinyatakan hamil. Mulai dari kelompok remaja putri, dilakukan dengan edukasi dan konseling gizi hingga ketika menjadi calon pengantin.

"Yang tak kalah penting juga pola asuh keluarga. Di sisi lain, kesehatan lingkungan dengan menjaga kebersihan pun perlu diterapkan untuk mencegah stunting pada anak," pungkasnya.

Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Awan

Berita Lainnya