Utama

Isolasi mandiri Kantor Gubernur Kaltim Ditolak Rumah Sakit  Klarifikasi Video Viral 

Klarifikasi Keluarga soal Video Viral Datangi Kantor Gubernur karena Ditolak RS



Potongan gambar dari video yang beredar.
Potongan gambar dari video yang beredar.

SELASAR.CO, Samarinda - Sebuah video yang memperlihatkan kejadian seorang warga yang mendatangi kantor Gubernur Kaltim karena ditolak rumah sakit, viral di media sosial. Banyak spekulasi bermunculan di masyarakat usai viralnya video tersebut. Kepada Selasar, pihak keluarga yang bernama Nabillah memberikan penjelasan dan klarifikasinya terkait kejadian tersebut.

Dirinya menjelaskan bahwa wanita yang ada dalam video tersebut adalah tantenya. Saat itu di dalam ambulans juga ada ibunya yang sedang sakit ditemani kakaknya, dan ayahnya yang saat itu mengendarai mobil ambulans seorang diri.


BUKAN PASIEN ISOLASI MANDIRI COVID-19

Kejadian ini awalnya bermula saat ibunya sejak dua hari lalu mengalami kondisi drop, karena gula darah tinggi dan memiliki riwayat penyakit diabetes. Karena khawatir dengan kondisi ibunya tersebut, Nabillah yang kebetulan sedang berada di Jakarta untuk kuliah dan bekerja, meminta keluarganya di Samarinda untuk melakukan test Swab Antigen kepada ibunya. “Soalnya gejala Covid itu ada sesak napasnya. Jadi waktu dicek itu Alhamdulillah hasilnya negatif,” ujarnya.

Namun melihat kondisi ibunya yang terus mengeluhkan sesak napas, pihak keluarga pun kemudian memilih membawa ibunya ke rumah sakit. Tapi, usai mendatangi beberapa rumah sakit di Samarinda, ibunya mengalami penolakan dengan alasan kondisi rumah sakit yang telah penuh.

“Dari pagi sudah ke RS Dirgahayu, RSUD Moeis, RS Darjad, RSUD AWS dan beberapa rumah sakit di Samarinda itu ditolak semua. Alasan rumah sakit sama, yaitu penuh. Padahal kami kan tidak mencari tempat untuk isolasi mandiri, sementara keadaan ibu saya ini sudah darurat,” keluhnya.

Dirinya pun mempertanyakan keputusan rumah sakit yang langsung menolak pasien, tanpa adanya pemeriksaan kondisi ibunya terlebih dahulu. Pihaknya pun mengaku tidak diberikan solusi dari pihak rumah sakit harus kemana untuk menuju setelah mengalami penolakan.

“Harusnya setiap rumah sakit itu periksa dulu keadaannya gimana, baru ditolak tidaknya diputuskannya di situ. Karena tidak semuanya sakit karena Covid, bagaimana misalkan ada penyakit jantung atau diabetes. Jadi meninggalnya bisa karena tidak ada penanganan karena tidak dapat rumah sakit,” tegasnya.


MEMPERTANYAKAN KEBIJAKAN GUBERNUR

Nabillah kemudian menjelaskan, saat melakukan penolakan, pihak rumah sakit sempat menyinggung bahwa keputusan tersebut terkait dengan kebijakan gubernur. Itu mengapa kemudian keluarganya menuju Kantor Gubernur untuk mempertanyakan kebijakan dimaksud.

“Jadi saat itu langsung saja tante saya bilang ‘oke saya ke Kantor Gubernur sekarang’. Karena orang dari rumah sakit sebut bilang begitu jadi tante saya nekat, daripada ibu saya meninggal karena tidak dapat rumah sakit,” ungkapnya.

Setibanya di depan Kantor Gubernur, tantenya kemudian turun dari ambulans dan mendatangi pos jaga Satpol PP Kantor Gubernur. Saat itulah video viral itu direkam. Di sana tantenya bertemu dengan anggota satpol PP, dan akhirnya dibantu untuk mencari rumah sakit.

“Syukurnya mereka membantu mencarikan rumah sakit. Akhirnya diterima di RSJD Atma Husada Mahakam. Tadi itu juga awalnya mau ditolak di RSJD, tapi karena Satpol-PP makanya langsung ditangani,” ceritanya.


SEMOGA MENJADI PELAJARAN

Nabillah berharap bahwa apa yang menimpa ibunya ini bisa menjadi pembelajaran ke depan. Nantinya jika ada pasien gawat lainnya yang membutuhkan pertolongan, bisa dilakukan pemeriksaan awal kondisinya terlebih dahulu. Karena tidak semua pasien yang dibawa ke rumah sakit adalah pasien Covid-19.

“Kalau mau ya dites dulu aja, emang pasiennya itu ada gejala Covid atau penyakit lain. Karena kasihan jika ada nyawa hilang karena tidak dapat rumah sakit kan,” katanya.

Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Awan

Berita Lainnya