Lingkungan

kemarau kaltim Kemarau Samarinda Cuaca Panas Samarinda BMKG Samarinda BPBD Samarinda Hotspot Kaltim Kemarau di Samarinda 

Cuaca Panas di Samarinda Diprediksi akan Berlangsung Hingga September



KEKERINGAN: Ilustrasi lahan pertanian saat mengalami kekeringan akibat El Nino 2015.(ist)
KEKERINGAN: Ilustrasi lahan pertanian saat mengalami kekeringan akibat El Nino 2015.(ist)

SELASAR.CO, Samarinda - Wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) mulai mengalami musim kemarau sejak akhir Juni lalu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda menyatakan bahwa sebagian wilayah khususnya di selatan Kaltim seperti Paser sudah memasuki musim kemarau. Sedangkan Samarinda dan sekitarnya seperti Kutai Kartanegara (Kukar) baru memasuki awal kemarau pada pertengahan Juli.

"Kami masih menunggu data terkini dari beberapa pos pemantauan hujan untuk memastikan kalau Samarinda masuk musim kemarau," ujar Forecaster BMKG Samarinda Wiwi Indasari Azis.

Dia menjelaskan bahwa untuk menetapkan suatu wilayah mengalami perubahan musim diperlukan analisis data 30 hari terakhir atau tiga dasarian. Data BMKG menunjukkan bahwa pada Juli ini intensitas curah hujan di Kota Tepian sangat rendah, terutama tujuh hari terakhir dari sembilan titik pos pantauan hujan tidak terjadi hujan sama sekali. "Di tempat kami pos Temindung lima hari lalu sempat ada hujan namun hanya terukur 2 mm. Ini sangat kecil. Hanya gerimis beberapa menit," jelasnya.

Wiwi menambahkan bahwa puncak kemarau di Kaltim akan dimulai dari awal Agustus, dengan kondisi udara panas atau kering yang kemungkinan akan berlanjut hingga akhir Agustus atau awal Oktober. Sedangkan bagi Samarinda keadaan panas ini diperkirakan berakhir pada akhir Agustus hingga pertengahan September. "Kami imbau warga bijak dalam menggunakan air bersih. Karena akan kurang pasokan air terutama mereka yang menggunakan tampungan air hujan. Serta menghindari kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," tambahnya.

Dia juga mengingatkan bahwa satu minggu ini titik panas di Kaltim sangat banyak, tercatat pada Senin (31/7) sekitar pukul 13.00 Wita mencapai 197 titik. Hal ini dapat menimbulkan titik api yang memicu karhutla. "Ini kemungkinan titik ini dapat menimbulkan titik api," singkatnya.

Sementara itu, dari sisi kebencanaan, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Suwarso mengatakan bahwa saat ini sudah memasuki fenomena El Nino, dimana suhu mulai memanas dan tingkat kekeringan mulai melanda beberapa titik.

"Banyak sungai mulai surut. Membuat debit air menjadi rendah," ucap Suwarso.

Dia menjelaskan bahwa kewaspadaan yang perlu diperhatikan adalah intrusi air laut yang dapat mengganggu operasional Perumdam Tirta Kencana sebagai perusahaan yang memproduksi air bersih bagi warga Kota Tepian. "Informasi dari BMKG yang kami terima masih ada hujan namun hanya sekitar 5-10 hari saja sebulan," sebutnya.

Dia meminta masyarakat berhemat dalam pemakaian air ini, kalau pun ada hujan, bisa dilakukan pemanenan hujan. Tidak hanya itu karhutla juga berpotensi terjadi.

"Warga diharapkan tidak membuka lahan dengan cara dibakar ya," tutupnya.

Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Awan

Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Awan

Berita Lainnya