Kolom
Keruk Sungai Mahakam Awan Gubernur Kaltim Mengkritik Gubernur Kaltim   H Rudy Mas'ud Kritik H Rudy Mas'ud Ormas Kaltim 
Mengkritik Gubernur Kaltim dengan Keras, Eh Ditelepon Ketua Ormas
"Saya mau ingatkan dinda, ini bukan ngancam, tapi boleh dibuktikan, saya tidak mau lagi lihat komentar-komentar dinda yang nyinyir kepada pak Gub di media sosial," kata seorang ketua ormas via telepon kepada saya, beberapa pekan lalu.
Oleh: AWAN
DI dunia yang semakin materialistis ini, segala sesuatu sepertinya harus dinilai dengan uang. Setiap tindakan seolah-olah harus berorientasi cuan.
Seorang kawan pengusaha beberapa tahun lalu bertanya kepada saya. "Apa sih yang kamu dapat dari mengkritik Isran?"
Kala itu saya memimpin sebuah media elektronik dan Kaltim dipimpin Isran Noor. Seringkali video yang kami buat berisi kritik terhadap Raja Naga itu viral.
Menjawab pertanyaan kawan tadi, saya bilang, tidak ada yang saya dapatkan. Dia tertawa, "Terus ngapain kamu kritik, kalau nggak ada untungnya?" Saya paham arah pembicaraan ini. Proyek, uang, dan sejenisnya. Saya hanya tersenyum. Perlu energi ekstra menjelaskan sesuatu yang bakal sulit dipahami lawan bicara.
Berita Terkait
Satu ketika pernah juga media yang saya pimpin sekarang, selasar.co, menulis tentang borok bank milik pemerintah daerah. Kemudian humas bank tersebut menemui manajemen kami dan menawarkan sejumlah angka dalam bentuk kontrak kerja sama. Saya meminta manajemen menolak tawaran itu. Mengapa tawaran kerja sama baru muncul setelah ada pemberitaan buruk tentang mereka? Tipikal pembungkaman ala kapitalis.
Lain waktu, kami memberitakan aktivitas hauling tambang ilegal di jalan umum. Wartawan kami ditelepon oleh seseorang yang menawarkan uang puluhan juta rupiah, asalkan kami men-take-down berita tersebut. Sang wartawan menghubungi saya, meminta arahan. Saya sampaikan pada dia, abaikan saja, besok running (lanjutkan) lagi beritanya.
Kembali ke bagian awal artikel ini. Tanggal 27 Oktober lalu, seorang ketua ormas menghubungi saya karena jengah dengan konten-konten saya yang mengkritik Gubernur Kaltim H Rudy Mas'ud (Harum). Jika Anda penasaran mengapa, silakan kunjungi akun Instagram Selasar Media.
"Saya ini melalui ormas kita (maksudnya ormas yang dia pimpin) adalah pendukung fanatik pak Gubernur. Ketika ada yang membuat konten seperti yang dinda buat, ini kan sama saja menyinggung perasaan saya. Jujur aja dinda, saya tersinggung, ini penghinaan juga buat saya," kata kanda ketua ormas.
Saya menanggapinya biasa-biasa saja. Yang menarik bagi saya adalah testimoni dia berikutnya.
"Saya pernah waktu zaman pak Awang (Awang Faroek Ishak), beliau dikritik katanya 6 bulan tidak kerja, waktu itu dikritik sama pak (censored) dan pak (censored). Saya telepon mereka dua itu. Lalu mereka bilang, pak ketua, mohon maaf ini pak ketua, bagaimana kita ini DPR tidak dikondisikan sama gubernur," kata ketua ormas. "Nah ini yang saya bilang, kenapa gak datang ketemu, ternyata ada permintaan kalian DPR," lanjutnya.
Dia menuturkan hal itu setelah saya bilang bahwa saya tidak punya kepentingan apa-apa dalam mengkritik Gubernur Harum. Mungkin dia tidak percaya, sehingga harus menceritakan pengalamannya dengan dua anggota DPRD kala itu (yang satu sudah almarhum, satunya lagi sekarang duduk di Senayan).
Tak berhenti di situ, kanda ketua ormas berkali-kali memberi kode untuk kami berdua bertemu. Dia bahkan mengundang ngopi ke rumahnya. "Kita berdebat temu muka, kalau gak cocok, bekelahi kita,” ujarnya. Tentu saya menolaknya dengan nada lemah lembut.
Empat hari setelah telepon dari kanda ketua ormas, saya kembali mengupload video kritik kepada Gubernur Harum. Sialnya, viral lagi. Ditonton ratusan ribu kali, disukai dan dibagikan ribuan warganet. Ketua ormas kembali menelepon saya. Maaf, kali ini saya abaikan.
.png)
Berselang hari, saya dengar bahwa ketua ormas tersebut juga menghubungi tokoh lain yang membuat konten kritik untuk gubernur. Bahkan dia mengajak duel satu lawan satu. Untung bukan saya yang diajak duel. Sudah pasti saya yang kalah, hahhaa..
Tokoh yang ditelepon ketua ormas tadi adalah politikus kawakan di Kaltim, yang punya tagline unik: makan 3x sehari. Belakangan dia punya hobi baru yang cukup berisiko: mengkritik gubernur yang dulu dia dukung habis-habisan.
Lain waktu, saya didatangi dua orang yang berbeda pada hari yang berbeda pula, tetapi punya tujuan sama. Keduanya menawarkan kontrak kerja sama di anggaran Perubahan 2025, dengan syarat saya mengurangi kritik-kritik kepada Gubernur. Saya sampaikan kepada mereka, kami siap bekerja sama, tapi tanpa syarat apapun.
Kontrak media adalah pekerjaan legal dan profesional. Klien memberi sejumlah uang kepada media, lalu media menyebarluaskan informasi yang diinginkan klien. Tetapi klien tidak punya hak untuk mengatur dapur redaksi.
Kawan-kawan media tidak perlu merasa inferior di hadapan pemerintah hanya karena memiliki kontrak kerja sama. Kita mitra setara. Perlu diingat juga, bahwa uang yang digunakan pemerintah adalah uang rakyat. Bukan dari kantong dinasti, eh, oopss..
Saya merasa perlu menulis ini, karena kebebasan pers, berpendapat, dan berekspresi harus dijaga. "Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan," kata Wiji Thukul. Kemerdekaan hampa dan demokrasi runtuh, jika pembungkaman yang dilakukan penguasa lewat antek-anteknya dibiarkan.
Jadi, saya menulis ini bukan karena saya hebat, pemberani, dan tampan. Saya tidak dilahirkan sebagai manusia dengan keunggulan fisik. Kalau ketua ormas tiba-tiba kirim anggotanya (bahkan yang paling lemah) untuk menghajar saya, bisa jadi tetap saya yang kalah.
Tapi, saya diajarkan oleh bapak saya yang pensiunan PNS lulusan SMA, bahwa hidup harus dijalani dengan benar meskipun berat dan pahit. Dia sering menceritakan pengalamannya menentang atasan yang mengajak korupsi. Padahal bapak tentu butuh uang untuk menghidupi 5 putranya. Prinsip semacam itu yang dia ajarkan.
Akhirul-kolom, anggap saja ini bonus, saya beri tips rahasia bagi kanda ketua ormas dan pak Gubernur Harum: Cara terbaik membungkam kritik bukanlah dengan membungkam mulut kritikus, melainkan "membungkam" argumentasinya.
Tapi, kabar buruknya bagi Anda berdua, untuk "membungkam" argumentasi, diperlukan isi kepala yang mumpuni, bukan otot yang berisi atau isi rekening yang tak berseri.
Penulis adalah founder selasar.co

