Utama

Gratispol mahasiwa ITK batal terima gratispol mahasiswa ITK mengundurkan diri batal terima gratispol 

Mahasiswi ITK yang Merasa Ditipu Gratispol Pemprov, Akhirnya Mengundurkan Diri dari Kampus



Mahasiswi Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan, Ade Rahayu Putri. Foto: Selasar/ist
Mahasiswi Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan, Ade Rahayu Putri. Foto: Selasar/ist

SELASAR.CO, Samarinda — Polemik program beasiswa Gratispol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus berlanjut. Seorang mahasiswi Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan, Ade Rahayu Putri, memutuskan mengundurkan diri dari perkuliahan setelah beasiswa yang sebelumnya dinyatakan lolos, tiba-tiba dibatalkan.

Ade merupakan mahasiswi Program Magister (S2) Manajemen Teknologi kelas eksekutif. Ia mengaku merasa dibohongi oleh program unggulan Pemprov Kaltim yang digagas di bawah kepemimpinan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji.

Pembatalan beasiswa diterima Ade pada 13 Januari 2026. Padahal, ia telah dinyatakan lolos sebagai penerima Gratispol sejak September 2025 dan telah menjalani perkuliahan selama satu semester.

Keputusan untuk mundur disampaikan Ade melalui kolom komentar di akun Instagram pribadinya. Ia menyebut pengunduran diri tersebut diambil karena alasan prinsip dan kondisi pribadi.

Saat dikonfirmasi Selasar.co pada Rabu (21/1/2026), Ade mengatakan keputusan itu diambil setelah mencermati sikap Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang dinilainya sudah final.

Ade menjelaskan bahwa sejak awal tidak ada informasi bahwa program Gratispol hanya diperuntukkan bagi mahasiswa kelas reguler. Setelah dinyatakan lulus seleksi masuk ITK, barulah ia mengetahui adanya dua skema perkuliahan: kelas reguler dengan tatap muka harian dan kelas eksekutif yang mayoritas dilakukan secara daring dengan pertemuan luring bulanan.

Sebelum mendaftar Gratispol, Ade mengaku telah mengonfirmasi langsung kepada admin program mengenai peluang mahasiswa kelas eksekutif untuk menerima bantuan pendidikan. Berdasarkan jawaban tertulis yang diterimanya, mahasiswa kelas malam maupun kelas eksekutif tetap diperbolehkan mendaftar selama program tersedia di kampus.

Pada pengumuman tahap kedua, sejumlah mahasiswa kelas eksekutif ITK dinyatakan lolos sebagai penerima Gratispol. Status kelulusan tersebut bahkan tercantum aktif di akun masing-masing mahasiswa.

Sesuai ketentuan awal, mahasiswa kelas eksekutif diwajibkan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) penuh sebesar Rp15 juta pada semester pertama. Dari jumlah tersebut, Rp10 juta dijanjikan akan diganti melalui program Gratispol, sementara Rp5 juta ditanggung secara mandiri.

Namun, setelah satu semester berjalan dan mahasiswa menunggu kejelasan pengembalian dana, pada 13 Januari 2026 mereka justru menerima surat resmi yang menyatakan bahwa kelas eksekutif, kelas malam, dan kelas sejenis lainnya tidak lagi memenuhi kriteria sebagai penerima Gratispol.

Pembatalan tersebut memicu kekecewaan di kalangan mahasiswa kelas eksekutif. Harapan untuk mendapatkan keringanan biaya pendidikan pupus setelah keputusan itu diambil ketika perkuliahan telah berlangsung sekitar enam bulan.

Ia juga menambahkan bahwa Program Magister S2 ITK merupakan angkatan pertama dan sempat menarik minat masyarakat Kalimantan Timur, terutama karena adanya promosi Gratispol dalam materi publikasi. Sebagai pekerja dan warga Kaltim, kelas eksekutif dinilai sebagai satu-satunya pilihan realistis untuk melanjutkan pendidikan.

Penulis: Boy
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya