Utama

MBG Samarinda BGN Kaltim 

Program MBG Dinilai Belum Menjangkau Kelompok Rentan, BGN Kaltim Akui Distribusi dan SPPG Masih Terbatas



Penyerahan MBG Kepada Siswa SDN di Samarinda. Dok: Selasar
Penyerahan MBG Kepada Siswa SDN di Samarinda. Dok: Selasar

SELASAR.CO, Samarinda - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pasalnya, realisasi program tersebut dinilai belum menyasar sekolah-sekolah dengan siswa rentan yang justru paling membutuhkan asupan gizi tambahan.

Kelompok siswa rentan yang dimaksud mencakup anak-anak berisiko putus sekolah, penyandang disabilitas, peserta didik di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), siswa dengan kondisi kesehatan tertentu, serta kelompok lain yang membutuhkan perhatian khusus.

Menanggapi hal tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) Kalimantan Timur mengakui bahwa penyaluran MBG hingga kini belum merata. Salah satu penyebab utamanya adalah keterbatasan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang masih jauh dari target.

“Kami menyampaikan permohonan maaf apabila masih ada siswa yang belum mendapatkan layanan MBG karena distribusinya belum optimal,” ujar Pendamping Kepala Regional BGN Kaltim, Sirajul Amin, Kamis (29/1/2026).

Ia menjelaskan, keberadaan SPPG saat ini masih terbatas dan sebagian besar masih dalam tahap pembangunan. Setiap SPPG memiliki kapasitas maksimal sekitar 3.000 porsi per hari dengan jangkauan layanan sejauh enam kilometer atau waktu tempuh sekitar 30 menit. Dari target 372 SPPG di Kalimantan Timur, saat ini baru tersedia 161 unit.

Sirajul menegaskan, penetapan penerima manfaat MBG tidak didasarkan pada latar belakang ekonomi, karena seluruh siswa pada prinsipnya berhak memperoleh program tersebut.

“Tidak ada pengelompokan berdasarkan kondisi ekonomi, semua siswa berhak mendapatkan MBG,” katanya.

Hasil evaluasi internal menunjukkan, salah satu kendala utama berasal dari calon mitra yang belum mampu memenuhi masa komitmen selama 45 hari sebagaimana dipersyaratkan BGN. Kondisi ini berdampak pada keterlambatan realisasi, meski secara administrasi pengajuan telah mencapai sekitar 80 persen dari total pendaftar.

Untuk wilayah Mahakam Ulu (Mahulu), Sirajul menyebutkan bahwa saat ini telah ada calon SPPG yang menyelesaikan pembangunan dan tengah memasuki tahap penilaian (appraisal).

Dari sisi ketenagakerjaan, program MBG saat ini melibatkan sekitar 5.903 tenaga kerja. Jika target 372 SPPG tercapai, dengan asumsi masing-masing SPPG melibatkan sekitar 50 orang terdiri dari tiga personel BGN dan 47 relawan dari masyarakat sekitar maka potensi serapan tenaga kerja bisa mencapai kurang lebih 18.600 orang.

“Kami berharap dukungan semua pihak agar pelaksanaan MBG berjalan maksimal. Upaya percepatan distribusi dan pembangunan SPPG terus kami lakukan di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur,” ujarnya.

Sebelumnya, Plt Kepala Disdikbud Kaltim, Armin, mengungkapkan hasil tinjauannya terhadap implementasi MBG di sejumlah sekolah. Menurutnya, program MBG sangat positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, namun perlu pemetaan yang lebih matang dalam menentukan sasaran penerima.

“Program ini bagus, tetapi perlu evaluasi. Sekolah penerima manfaat seharusnya diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu karena merekalah yang paling membutuhkan,” tegas Armin.

Penulis: Bonar
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya