Utama

Isran Noor Gubernur Kaltim Kontroversi Isran Noor Pernyataan Isran Noor 

Pernyataan-pernyataan Kontroversial Isran Noor, Karakter atau Disengaja? Supaya Apa?



Pernyataan-pernyataan Kontroversial Isran Noor, Karakter atau Disengaja? Supaya Apa?
Gubernur Kaltim, Isran Noor.

SELASAR.CO, Samarinda - Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Isran Noor menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) pasti masuk surga lantaran berhasil merealisasikan pemindahan ibu kota negara ke wilayah Kaltim. Isran mengaku telah menyampaikan keyakinan dirinya itu secara langsung kepada Jokowi beberapa waktu lalu. Hal itu disampaikannya dalam sebuah seminar yang disiarkan kanal Youtube Humas Sekolah Ilmu Lingkungan dan Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, pada Rabu 7 April 2021 lalu.

"Makanya saya sampaikan kepada Bapak Jokowi, Presiden. 'Pak Jokowi, Mas Jokowi, Bapak Presiden, bapak itu pasti masuk surga'," ujar Isran.

Saat mendengar pernyataan tersebut, kata Isran, Jokowi keheranan. Isran menjelaskan bahwa Jokowi pasti masuk surga lantaran telah mewujudkan cita-cita dua presiden sebelumnya, Soekarno dan Soeharto. Pada tahun 1965, Presiden Soekarno pernah mewacanakan agar ibu kota dipindah ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Namun, rencana tersebut urung terlaksana. Kemudian, wacana pemindahan Ibu Kota kembali mencuat saat Presiden Soeharto berencana memindahkan Ibu Kota ke Jonggol. Kendati begitu, wacana tersebut tak jua terealisasi.

"Bapak telah mewujudkan cita-cita dua kepala negara untuk memindahkan, Pak Soekarno dan Soeharto. Orangnya sudah mati. Satu yang belum mati, Pak SBY. Pak SBY juga ingin memindahkan, tapi belum mati. Artinya, bapak mewujudkan cita-cita itu," ujarnya.

Isran mengatakan Jokowi menyampaikan rencana pemindahan ibu kota tidak spontan. Menurut Jokowi, kata Isran, rencana tersebut telah melalui berbagai kajian dan telah dibahas sejak 2016. Lebih lanjut, Isran menyebut Jokowi juga bakal dikenang oleh generasi mendatang sebagai kepala negara yang berhasil memindahkan ibu kota negara.

"Kemudian bapak tidak usah pikir juga, karena kalau bapak bisa pindahkan ibu kota ini, artinya bapak akan dikenang oleh anak bangsa ini sampai kapan pun, sebagai sebuah wujud karya besar kepala negara," katanya.

Pernyataan itu pun menuai kontroversi. Tidak sedikit warganet yang merundung kepala daerah Bumi Etam itu. Tapi banyak pula yang membelanya.


DAFTAR PERNYATAAN KONTROVERSIAL ISRAN NOOR

Pernyataan-pernyataan kontroversial yang dikeluarkan Gubernur Kaltim, Isran Noor, bukan kali pertama. Dari catatan Selasar, mantan Bupati Kutim ini kerap kali melemparkan statement serupa ke awak media ketika ditanya tentang isu-isu tertentu oleh wartawan. Namun yang paling banyak menuai perhatian masyarakat ialah pernyataannya soal korban tewas ke-30 di lubang tambang yang saat itu jatuh di Kutai Kartanegara pada 24 Oktober 2018 silam.

"Oh, enggak masalah. Nasibnya kasihan. Ikut prihatin. Korban jiwa itu di mana-mana terjadi. Ya, namanya nasibnya dia, meninggalnya di kolam tambang. Kan gitu. Gitu aja, prihatin,” sebut Isran.

Isran kembali menjadi sorotan usai memberikan pernyataan terkait longsor yang terjadi di Kampung Jawa, Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara pada 1 Desember 2018 silam. Dalam kejadian yang meruntuhkan enam rumah. Isran pun menyebut kejadian tersebut bukan diakibatkan aktivitas tambang batu bara karena jaraknya yang jauh. “Jaraknya (aktivitas tambang) jauh. 200 meter. Jauh,” sebutnya.

Statement yang cukup nyeleneh juga pernah disampaikan Isran kepada harian Kompas saat ditanya terkait korban lubang tambang Kaltim dalam kurun waktu 2011 hingga 2018 mencapai 32 orang, dan sebagian besarnya adalah anak-anak. Kepada Kompas, Isran berkata, “Heran juga aku. Jangan-jangan ada hantunya. Kok, banyak korban anak-anak.” (Bahaya Lubang Bekas Tambang, Kompas cetak edisi 18 Desember 2018, hal 1 dan 15).


STRATEGI POLITIK, SAMARKAN SUBSTANSI

Terkait hal ini, pengamat politik dari Universitas Mulawarman (Unmul), Budiman, menyebutkan bahwa selama ini banyak yang membahasakan bahwa pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan Isran Noor kepada media adalah tindakan yang kurang cerdas. Namun ia justru beranggapan bahwa pernyataan itu sengaja dikeluarkan agar isu-isu yang ditanyakan tidak berkembang.

“Dalam artian begini, sekarang mungkin satu-satunya pemimpin di Indonesia yang bisa membuat wartawan mati kutu ketika bertanya hingga tidak bertanya lagi adalah beliau. Karena kenapa? Jawaban-jawaban yang muncul sering kita tidak sangka. Pertanyaannya ke A arah jawabannya ke B. Dan rata-rata statement yang disampaikan kesannya guyon,” sebut Budiman.

Dosen Fisipol Unmul ini beranggapan dari sisi elektabilitas, pernyataan-pernyataan nyeleneh yang dikeluarkan gubernur ini sebenarnya memiliki implikasi positif dan negatif. Jika sisi positifnya dapat meningkatkan keterkenalan publik atas pihak yang ber-statement, namun sisi negatifnya ketika yang bersangkutan melakukan sesuatu, kesan yang diterima publik adalah ketidakseriusan.

“Yang terpenting adalah, kalau dari sisi komunikasi politik, itu akan membuat orang tidak fokus ke substansi. Misalnya ada masalah di Kaltim. Ketika ditanyakan A dan jawabannya “nyeleneh” atau kontroversial, orang akan lebih fokus pada pernyataannya itu dan tidak fokus pada substansi masalah. Dalam komunikasi politik, ini adalah sebuah strategi sebenarnya,” tutur Budiman.

Namun, jika melihat pernyataan-pernyataan serupa juga disampaikan Isran dalam forum ilmiah nasional seperti yang ia sampaikan saat menjadi pembicara di Universitas Indonesia, dari sisi komunikasi politik, Budiman justru melihat hal yang berbeda.

“Jika saya melihat dari basic partai beliau, Nasdem kan saat ini kesannya berseberangan dengan PDIP. Terutama jika dilihat dalam konteks penentuan kabinet kemarin. Karena menjadi pertaruhan sebenarnya ketika beliau menyampaikan sesuatu yang nyeleneh di forum ilmiah seperti itu, maka setidaknya dalam politik ini adalah umpan,” ucapnya.

Dirinya pun menduga, ini adalah salah satu cara yang dilakukan Isran Noor untuk menjadi salah satu representasi Indonesia bagian timur. Karena jika melihat riwayat perpolitikan nasional, hampir setiap calon presiden yang datang dari pulau Jawa selalu mencari wakil dari Indonesia timur. “Apalagi kita sama-sama tahu pergerakannya Nasdem kemungkinan akan mencalonkan sendiri dan tidak berkoalisi dengan PDIP, jika melihat konflik-konflik yang terjadi saat ini,” pungkasnya.

Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Awan

Berita Lainnya