Kutai Kartanegara

Sungai Mahakam Bangar Sungai Mahakam Air Bangar air bangai Budidaya Ikan Nila Budidaya Ikan Mas 

Sungai Mahakam Bangar, Ribuan Pembudidaya Ikan Rugi Miliaran Rupiah



Sungai Mahakam Bangar, Ribuan Pembudidaya Ikan Rugi Miliaran Rupiah
Keramba ikan milik warga yang terdampak.

SELASAR.CO, Tenggarong - Fenomena air bangar di Sungai Mahakam disebabkan adanya perubahan kadar PH dan oksigen di dalam air, sehingga mengakibatkan ikan banyak yang timbul ke permukaan. Hal itu diungkapkan Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kutai Kartanegara (Kukar), Muslik.

Muslik mengatakan, gejala-gejala seperti ini biasanya terjadi di sepanjang Sungai Mahakam. Ketika air sedang pasang besar, maka itu bisa membuat tumbuhan-tumbuhan yang berada di pinggiran sungai ikut terendam hingga membusuk.

"Lalu air surut dan keluar, biasanya proses di komposisi itu menyebabkan air bangar dan membuat oksigen dan PH rendah, itu pada umumnya," ujar Muslik.

Pihaknya pun sudah melakukan uji kadar oksigen dan PH air di area Tenggarong. Dari hasil uji yang dilakukan, memang ada terjadi penurunan oksigen dan PH di perairan Sungai Mahakam.

"Kita dapatkan kadar oksigennya rendah, yaitu di bawah 2, normal kadar oksigen yang paling bagus adalah di angka 7. Tetapi biasnya di sungai itu berkisar antara 5 sampai 6," jelas Muslik.

Begitu juga pada Kadar PH, untuk angka ideal kadarnya di angka 7. Namun dari hasil uji yang didapatkan ada di angka 4 sampai 5 saja. "Dan biasanya air bangar itu dari kombinasi, oksigen rendah dan PH-nya juga rendah," jelasnya.

Namun, ia mendapatkan informasi, bahwa dari Universitas Mulawarman Samarinda juga telah melakukan uji kadar PH di wilayah perairan Loa Kulu dan Samarinda. Dari informasi yang ia dapatkan, hasil uji yang dilakukan hampir sama dengan hasil uji yang dilakukan oleh DKP di area Tenggarong.

"Saya mendapat informasi, ternyata di daerah ilir situ kadar oksigen sama rendah, namun kadar PH-nya itu cukup tinggi di angka 8 sampai 9. Itu artinya, bahwa bersifat basa bukan asam, yang artinya anomali dari ini. Kita nggak tau faktor apa yang akhir-akhir ini terjadi sehingga itu tidak sebagaimana biasa, artinya ini perlu uji ke laboraturium," tuturnya.

Ia menjelaskan, air bangar ini sudah menjadi fenomena rutin yang dialami setiap tahunnya, bahkan bisa dua kali terjadi dalam setahun. Hanya saja, tahun ini yang paling parah dan bisa membuat ikan mengambang ke permukaan hingga menyebabkan kematian.

"Biasanya kalau turun hujan deras di sepanjang Sungai Mahakam, itu cepat selesai bangarnya," ujarnya.

Meskipun air di Sungai Mahakam sedang bangar, tetapi masih bisa dikonsumsi oleh manusia. Karena hanya terjadi perubahan PH dan kadar oksigen saja. Namun, jika air terkontaminasi oleh logam berat, maka itu berbahaya untuk dikonsumsi.

"Sejauh ini aman untuk dikonsumsi manusia, tetapi tidak aman untuk ikan," kata Muslik.

Sebenarnya ikan punya kemampuan untuk mendeteksi jika terjadi perubahan air, karena ikan memiliki linea lateralis di tubuhnya. Sehingga jika air terjadi perubahan ikan akan berimigrasi ke area yang aman atau mencari tempat yang lebih nyaman.

"Tetapi jika ikan yang ada di dalam keramba maka tidak bisa kemana-mana, itu yang bisa membuat ikan siup hingga mati," katanya.

Dari 588 pembudidaya ikan di Tenggarong, ada 30 persen yang terdampak. Sedangkan di Loa Kulu, ada 1.055 pembudidaya ikan, dan yang terdampak ada 90 persen. Pihaknya pun sudah memberikan imbauan kepada pembudidaya ikan agar jangan dulu menebar ikan sebelum air di Sungai Mahakam normal. Kemudian pembudidaya juga diimbau untuk tidak memberi makanan kepada ikan, karena kalau diberi makan, ikan harus membutuhkan oksigen. Sedangkan saat ini oksigen di perairan Mahakam sedang tipis.

"Yang jelas dari Loa Tebu sampai Loa Kulu itu terdampak, untuk total kerugian dari keseluruhan, kisaran miliaran rupiah," tutup Muslik.

Penulis: Juliansyah
Editor: Awan

Berita Lainnya