Ragam

Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan Nasional  Kuliah Umum  Seminar Nasional  Universitas Mulawarman Energi Terbarukan 

Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan Nasional Gelar Kuliah Umum dan Seminar Nasional di Unmul



SELASAR.CO, Samarinda - Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan Nasional menyelenggarakan Kuliah Umum dan Seminar Nasional dengan tema ‘Ketahanan Energi dan Ketahanan Pangan’. Agenda ini berlangsung di Ruang Serbaguna Gedung Rektorat Universitas Mulawarman, pada hari ini Rabu (23/11/2022).

Dalam Kuliah Umum dan Seminar Nasional ini dihadirkan berbagai macam ahli sebagai pembicara. Mereka adalah Dr. Ir. Herman Darnel Ibrahim, M.Sc. dengan materi Transisi Energi Menuju NZE 2060 Skenario dan Tantangan Penyediaan Listrik Energi Terbarukan; Prof. Ir. Rinaldy Dalimi, M.Sc., Ph.D. dengan materi Transisi Energi Menuju NZE Akan Merubah Tatakelola Energi Dunia; Dr. Surono membawakan materi Mitigasi Bencana Dampak Pemanasan Global: Studi Kasus bencana Geologi. Hidrometeorologi dan Hidro Oceaanografi; Ir. H.M. Yadi Sofyan Noor, S.H. yang membawakan materi Strategi dan Tantangan Swasembada Beras Berkelanjutan; dan Prof. Dr. Ir. H. Rusdiansyah, M.Si. dengan materi Ketahanan Pangan dalam Kontek IKN.

Kepada media ini salah satu pembicara yang juga Dekan Fakultas Pertanian, Rusdiansyah, menjelaskan bahwa untuk memenuhi 100 persen kebutuhan pangan Kaltim memang sulit untuk dilakukan. Namun ia menyebut Kaltim seharusnya bisa meningkatkan presentasi pemenuhan pangannya.

“Apalagi posisi kita sebagai calon IKN, mau tidak mau, suka tidak suka stok pangan di IKN itu harus terjamin,” ujar Rusdiansyah, pada Rabu (23/11/2022) kemarin.

Dirinya menjabarkan, pada tahun 2020 Kaltim baru mampu memenuhi kebutuhan pangannya dalam beras sebesar 38 persen. Angkanya pun kembali menurun pada 2021 yang hanya mampu memenuhi kebutuhan 32 persen. Pada tahun ini ia pun memprediksi jumlah produksi beras Kaltim akan kembali menurun akibat curah hujan yang tinggi.

“Selain hujan, ada tiga penyebab penurunan angka produksi beras Kaltim, yaitu pertama alih fungsi lahan dari tanaman pangan ke tanaman non pangan. Itu Kontributor paling besar, khususnya sawit dan tanaman perkebunan lainnya. Lalu kedua alih fungsi menjadi perumahan dan ketiga pertambangan,” jelasnya.

Di tahun 2020 lahan pertanian Kaltim yang beralih fungsi ditaksir sebesar 17 ribu haktare atau dari 58.000 hektare turun menjadi 41.000 hektare. Dengan luasan 17.000 hektare tersebut, kemampuan produksi beras untuk sekitar 550.000 orang per tahunnya menghilang. Sehingga kekurangannya harus dipenuhi dengan melakukan impor dari luar daerah.

“Jadi kita harus segera pacu perbaikan sarana irigasi, dan pembangunan bendungan yang ada. Jika itu tidak dilakukan akan terus turun, apalagi sekarang dengan adanya ibu kota negara itu, maka sekitar 700 ribu lahan padi gunung juga akan hilang. Maka dapat kita pastikan setiap tahun 1.400 ribu ton gabah akan hilang,” pungkasnya.

Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Awan

Berita Lainnya