Kutai Timur

Harga Semen Asal Kutim Harga Semen  semen asal Desa Sekrat  DPRD Kutim 

Harga Semen Asal Kutim Dikeluhkan, DPRD Minta Disperindag Turun Tangan



SELASAR.CO, Sangatta - Harga semen merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi biaya pembangunan. Oleh karena itu, harga semen yang terjangkau menjadi sangat penting bagi masyarakat, terutama di wilayah yang terdapat pabrik semen, seperti di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Secara teori, harga semen di wilayah yang terdapat pabrik semen seharusnya lebih murah. Hal ini dikarenakan biaya transportasi dan distribusi menjadi lebih rendah.

Namun, kenyataannya, meski di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terdapat pabrik semen, namun harga semen yang berasal dari pabrik semen asal Desa Sekrat Kecamatan Bengalon dan Selangkau Kecamatan Kaliorang, diduga harganya tidak berbeda jauh dengan semen merek lain, seperti Tonasa.

Hal ini diketahui dari pengalaman Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPRD) Kabupaten Kutai Timur asal Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Hasbullah. Saat membeli semen ke salah satu toko bangunan yang dianggap paling termurah di Kota Sangatta, ia mendapati harga semen asal Kutim dan semen Tonasa tidak berbeda jauh.

"Saya membeli semen Singa Merah dan semen Tonasa di salah satu toko bangunan di Sangatta. Harga semen Tonasa Rp 78.000 persak. Barusan tadi pagi saya dapat, sementara Singa Merah Rp 70.000 ribu persak,” kata Hasbullah kepada wartawan, sambil memperlihatkan kwitansi pembelian disalah satu took yang ada di Kota Sangatta, Kamis (5/10/2023)

Karena itu, Hasbullah menyayangkan harga semen lokal yang beredar dipasaran harganya tidak jauh berbeda dengan semen yang lain. Padahal, semen Singa Merah diproduksi di Kutim yang bahan bakunya juga berasal dari Kutim. Karena itu seharusnya lebih murah dari semen yang lain.

"Seharusnya harga semen Singa Merah lebih murah karena merupakan produk lokal. Apalagi pabriknya ada di Kutim, mau tidak mau untuk di Kutim, ya minimal ada harga khususlah, masa harganya tidak berbeda jauh dengan merek yang lain. Contoh merek tonasa yang berasal dari Sulawesi Selatan, cuman berbeda Rp 8 ribu, kalau kita hitung harga angkutnya, biaya tenaga kerjanya sampai ke Kaltim sudah berapa, cuman Rp 78 ribu dan yang lokal hanya berbeda Rp 8 ribu"Ucapnya

Untuk itu, Hasbullah meminta pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag)  segera melakukan evaluasi dan mengatur terhadap harga semen lokal yang beredar dipasaran, terlebih berdasarkan informasi yang diperolehnya harganya berfariasi dilapangan.

“Ada yang bilang harganya Rp 75, Ribu, ada yang bilang Rp 73 Ribu, dengan berbeda lokasi ya. Kalau di Kaliorang dan Bengalon Infonya kurang lebih Rp 80 Ribu. Kita juga belum tau apakah itu betul datanya atau tidak,”Lanjutnya

“mau tidak mau Disperindag harus segera bertindak, invetarisasi harga dulu untuk menyeragamkan harga, benar nga harganya seperti ini. Wajar tidak harga semen Singa Merah asal Kutim dengan harga sebesar itu di wilayah Kutim,” Imbuhnya

Penulis: Bonar
Editor: Awan

Berita Lainnya